Sebetulnya bukan negeri atas awan secara harfiah sih. Cumak lembah yang ketutup kabut yang kalo diliat dari atas bukit berasa kita'nya jadi keren gitu. Sayangnya nggak bisa selfie disini. Selain lokasinya yang agak-agak serem, kita pasti bakalan di sumpah serapahin sama sopir truk karena ngetem di pinggir jalan. Di sepanjang jalan ini jalannya sempit dan penuh jebakan betmen, sehingga para pelintas harus bisa manuver ala ujian mengemudi SIM A.
Saya berangkat dari rumah jam 05.00 WITA bersama tiga orang lainnya, salah satunya pasangan hidup saya dan dua orang lainnya temennya pasangan hidup saya. Tujuan kami adalah tana paser (dulu namanya tana grogot). Saya ikutan kesana karena kepengen liat tana paser yang berwarna ungu. Iya warna ungu .. serius! Tapi kami kesana bukan karena mau liat unguisasi tana paser. Tapi karena aksi demo masyarakat adat tana paser yang menolak warna ungu sebagai ciri khas tana paser. Ungu cyiiinnn.
Translate
Kamis, 19 Februari 2015
Jumat, 17 Oktober 2014
Jalan rusak dan peminta-minta
Apa yang bikin
kalian nggak mood lagi pas jalan-jalan ke daerah lain? Kalau saya, yang bikin
kesel adalah jalan rusak. Lebih parah jika ada warga yang nyodorin kotak karton
minta diisi uang oleh pengendara yang lewat. Iiihh sebel .. !! Bikin capek
lebih dahsyat karena ngumpat terus. Eh tapi, daerah mana sih yang jalanannya
nggak rusak? Ada sih ..
Mood saya buat
nonton karnaval dan teater mamanda di Tenggarong langsung terjun bebas pas melewati
ruas Loa Janan-Loa Kulu-Tenggarong. Ruas yang saya lewati ini secara
administrasi (kata suami saya) adalah jalan Negara, tapi wujudnya kayak jalan
kampung. Jalan aspal yang semulus kulit bayi cumak beberapa ratus meter aja,
selang-seling sama jalan beton dari semen. Sialnya, saya datang ke Tenggarong
pada waktu dan jalur yang salah. Malam telah tiba ketika saya sampai ke ruas
itu.
Saya nggak
sempat ngitung berapa ratus meter atau kilometer jalan yang sedang diperbaiki di
sepanjang Loa Jalan ini saking sibuk menyumpah serapah. Yang jelas, perbaikan
jalan ini malah bikin kesal. Tapi saya tetep harus apresiasi dong karena
pemerintah pusat dan daerah sigap untuk memperbaiki beberapa titik di ruas yang
panjangnya 26 Km ini. Sayangnya jalan yang sudah diperbaiki tidak lama kemudian
tetep bocel lagi karena yang war-wer di jalan ini adalah truk-truk kontainer yang
biasa ngangkut backhoe. Walaaahhhh …
Saya ketemu
truk pengangkut backhoe beberapa kali di ruas ini. Duileee … ngerinya!! Tau
sendiri kan kalau bodi bagian bawah backhoe lebih lebar ketimbang yang
nggendong. Jadi saya agak griyep griyep kalo papas’an. Secara jalannya sempit,
oleng dikit, nyangkut deh mobil saya.
Menurut
analisa sayaaaaaa .. (sentilun banget), beberapa titik jalan di ruas ini bakal
ditinggikan. Mungkin karena banyaknya jebakan betmen yang kayak kolam ikan,
jadi nutupnya kudhu tebel. Karena ruas ini merupakan jalan darat satu-satunya menuju
Kota Tenggarong dari Balikpapan, iya satu-satunya, maka perbaikan dilakukan di satu lajur agar
lajur lainnya bisa dilewati kendaraan secara bergiliran. Sebetulnya ada jalan alternatif yang menyingkat waktu, tapi ujung jalan ini tetep menuju pas tengah-tengah ruas Loa Janan-Loa Kulu. Sama aja dong suruh ngicipi perbaikan jalan. Ini nih yang bikin saya
ngumpat dan kesel. Bikin badan yang sudah bau tambah bauk. Kok? Iya bauk badan karena
keseringan ngumpat, sehingga tubuh saya yang sudah tak menyentuh air selama dua
hari gegara sedang krisis air mendadak mengeluarkan toksin yang aduhai aromanya.
Mungkin sudah
menjadi kebiasaan yang menular, tiap ada perbaikan jalan sudah pasti langsung
dimanfaatkan oleh beberapa oknum. Saya suka sebel kalo ketemu yang beginian. Hampir di
setiap daerah yang saya kunjungi, hampir loh enggak semua (eehhh kayak udah
kemana-mana ajaaaa), pasti ada peminta-minta yang berdiri di tengah jalan. Kalo nggak sendirian, ya bergerombol. Biasanya
tengah jalan diberi conehead atau tong. Trus kitanya disuruh pelan-pelan dengan
harapan mau merogoh koceknya untuk mereka-mereka ini.
Di ruas Loa
Janan menuju Kota Tenggarong-ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara-ini, beberapa
titik jalan yang sedang diperbaiki menjadi “rayahan” beberapa orang, ya muda
dan tua. Anak kecil juga. Aduuuhhh dek, kalo kesamber ban mobil saya gimana??
Enggak tanggung-tanggung, mereka yang nyodorin kotak kardus mungkin ada
puluhan. Sampai-sampai ada satu titik dimana mereka berjejer menggantikan marka
garis sambil ngacung-ngacungin kotak. Buseetttt!!
Kenapa sampai
mereka meminta-minta? Beberapa diantara mereka “berinisiatif” mengatur arus
lalu lintas yang seharusnya tugas ini diemban oleh Dishub. Apalagi beberapa
titik perbaikan membutuhkan perhatian ekstra. Nah inisiatif mereka
mengatur jalan ini membuat mereka merasa berhak untuk mendapat balas budi dari
pengendara yang lewat. Bener atau enggak bener, tergantung darimana sudut pandang kita melihat. Duh .. kemana petugas Dishub? Jangan-jangan jam kerjanya
sama dengan PNS. Eh Dishub itu PNS kan ya? Jadi untuk beberapa sukarelawan yang sudah
capek-capek ngatur, tetep saya kasih balas budi meski cumak sedikit. Yang cumak
nyodorin kotak, cukup saya ucapkan terima kasih.
Akhirnya ruas
Loa Janan-Loa Kulu Tenggarong yang hanya 26 Kilometer itu, saya tempuh selama
dua jam lebih sedikit. Bengkak jempol kaki saya, gantian nginjak pedal gas, rem
dan kopling. Enggak lagi, cukup. Tapi nggak papa, sampai hotel saya bisa puas
mandi dan keramas. Ahhhh air!!!
Atha Ajo
Mbangkong
![]() |
| Enggak keliatan .. rapopo, yang penting ada fotonya. |
Kamis, 09 Oktober 2014
Dari Merlion ke Bontang Kuala
Ceritanya
saya kepengen selfie bareng patung Merlion yang fenomenal itu. Foto patung
berkepala singa dan berbadan ikan ini cukup banyak beredar di publik picture
media sosial. Nah saya juga kepengen dong kayak mereka-mereka yang pamerin foto
selfie bareng Merlion. Tapi niat licik saya ternyata tak kesampaian gara-gara
patung Merlion'nya ada di halaman belakang sebuah restoran. Loohh .. bukannya
patung ikonik ini berada di Merlion Park Singapura yang bebas akses siapa aja?
Yaaaa itu kalau yang di Singapura. Yang ini beda brayyy ... bedaaa!
Beda
apanya? Patung Merlion yang ini cumak KW. Saya kepengen foto bareng Merlion KW
ini tapi gagal. Mungkin karena alasan licik saya yang ingin memajangnya di muka
buku biar dikira saya sampai ke negeri singa itu. Duh kok kasihan .. tapi kalau
disuruh milih, saya mending berangkat ke Singapura langsung secara harga tiket
pesawatnya sama dengan harga paket data internet unlimited bulanan.
Patung
Merlion KW ini menjadi salah satu daya tarik sebuah restoran di Kota Bontang
Kalimantan Timur. Karena letaknya di halaman belakang restoran, maka saya
merelakan momen selfie bareng Merlion batal. Saya cumak mau foto, enggak mau
makan di restorannya. Sayang duit, Susah kan! Jadi saya hanya bisa memandangnya
dari kejauhan sambil meratap. Untungnya saya bawa kamera dengan lensa panjang,
setidaknya Merlion KW bisa saya jepret dari kejauhan. Myehehehehe . . .
Kota
Bontang memang tidak memiliki banyak pilihan tempat wisata, sehingga Merlion KW
ini kemudian menjadi jujugan wisata bagi warga setempat termasuk saya yang
ikutan penasaran. Objek wisata yang benar-benar serius di Kota pupuk ini hanya
Pantai beras basah dan segajah. Untuk berkunjung kemari harus naik kapal.
Karena waktu saya enggak cukup, maka saya tunda dulu jalan-jalan mengunjungi para nemo.
Sebagai
gantinya, saya menyambangi Bontang Kuala. Kawasan ini menjadi objek wisata yang
paling dekat dengan pusat kota. Sebetulnya lokasi ini merupakan pemukiman atas
air yang berkembang menjadi pusat pariwisata di Kota Bontang. Hampir setiap
hari, Bontang Kuala disambangi oleh wisatawan. Kalau akhir pekan datang,
beuughhh .. kawasan ini bagaikan lautan manusia.
Yang
menarik dari Bontang Kuala adalah hamparan papan-papan ulin yang di jejer
membentuk sebuah pemukiman padat berikut jalannya. Ingat .. pemukiman ini
dibangun diatas air laut. Jadi jalur jalan pun juga dibangun dari kayu ulin.
Jangan salah, kayu ulin adalah kayu terkuat di dunia sehingga sepeda motor pun
war wer di jalan kayu ini. Yang membuat saya tersayat hatinya adalah suara
klethek-klethek kayu ulin yang saling beradu karena dilalui sepeda motor.
Otomatis kayu yang saya pijak ikutan bergetar.
Paling
fenomenal adalah lapangan ulin yang membentang luas lengkap dengan panggung
yang biasa digunakan untuk live music. Kalau dikira-kira mungkin lebih dari dua
kali lapangan basket. Jika akhir pekan tiba, lapangan yang di kanan kirinya
berjejer warung mie instan dan kopi ini disesaki pengunjung. Yang bikin saya
takjub bukan karena pengunjungnya yang hampir 2.000an, tapi karena deretan
motor yang memenuhi lapangan ulin itu. Aduuuhh .. rasanya griyep-griyep.
Kebayang kan parkiran motor di atas air dari kayu ulin seluas lapangan basket
dan penuh itu gimana.
Satu
titik yang paling saya sukai adalah di ujung kawasan ini yang luasnya
selapangan voli. Saya bisa duduk selonjor sampai tiduran sambil menatap laut
lepas. Jika sedang tidak berawan, titik-titik bintang di angkasa menyuguhkan
pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Saat itulah saya menyadari bahwa bumi
dan isinya tak lebih dari setitik debu angkasa … beuugghhhh beraat.
Jadi
jika kalian tak sengaja sedang singgah ke Kota Bontang,datanglah kemari.
Atha
Ajo
Senin, 29 September 2014
Main-main di pinggir hutan primer
Sebetulnya jalan-jalan di tengah hutan mana aja rasanya sama. Rimbun, mencekam sekaligus mempesona. Apalagi jika hutan yang dijelajahi masih termasuk hutan primer. Yang saya takutkan jika sedang jelajah hutan adalah kalau ada ular yang tiba-tiba nongol. Terus saya mau lari kemana coba. Minimal dicucup lintah lah.
Menjelajahi "hutan" memang sudah pernah saya lakoni meski "hutannya" berupa kawasan enklosure atau kandang alami buatan, yaaa mirip-mirip hutanlah, yakni Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) Balikpapan. Tapi yakin deh, meski cumak enklosure, saya belum nemu kayak begini di Jawa. Letaknya di Jalan Soekarno Hatta Km. 23. Tapi kali ini saya nebeng bojo yang sedang tugas menjenguk pinggiran hutan hujan tropis dataran rendah. Hutan beneran. Berdasarkan vegetasi masih termasuk hutan primer alias alami alias perawan. Masih thing-thing.
Hutang primer yang saya kunjungi adalah Taman Nasional Kutai (TNK) yang luasnya 200.000 Ha. Meskipun masih perawan, hutan yang mencakup tiga wilayah yakni Kota Bontang, Kabupaten Kutai Timur dan sedikit Kabupaten Kutai Kartanegara ini masih tetap bisa dinikmati oleh turis. Nggak perlu khawatir babat-babat alas, karena Pemerintah Pusat dibawah Kementerian Kehutanan sudah menyediakan kawasan wisata Sangkima yang menjadi teras terluar dari TNK untuk para turis yang ingin menikmati sejumput hutan perawan ini.
Menuju kemari cukup mudah karena letak kawasan ini ada di ruas jalan Bontang-Sangatta. Dari Kota Bontang hanya ditempuh sekitar 1 jam 30 menit. Harga tiket masuk ke kawasan wisata Sangkima ini juga tak mahal. Kami berlima hanya diminta membayar Rp35.000 saja. Jangan khawatir perut lapar, karena di luar kawasan sangkima ini ada satu warung yang menjual makanan seperti soto dan nasi kuning. Tapi saya berasa di Pantura ketika duduk di warung ini karena penjualnya memutar musik koplo keras-keras.
Ada dua pilihan trek untuk menikmati hutan hujan tropis dataran rendah ini. Trek gembira atau trek uji nyali. Ya kalau datang bersama keluarga dan anak-anak, cukup lewat trek gembira yang jalan setapaknya dari papan-papan kayu yang dijejer. Jadi aman. Tapi kalau mau menantang nyali, silahkan pakai trek sling. Trek ini hanya berupa jalan tanah yang kalau hujan pasti becek dan sepulangnya pasti mendapat kenang-kenangan dari cucupan lintah. Jembatan untuk menyeberang sungaipun hanya berupa kabel sling baja ala Indiana Jones. Saya sih belum sempat mencobanya karena kawan saya bawa anak, jadi pilih trek gembira saja.
Sebetulnya apa sih yang menarik dari hutan ini? Ya kalau orang yang sukanya piknik ke mall kayaknya nggak bakalan tertarik liat hutan. Karena selain cumak liat pepohonan rimbun juga nggak bisa pakai sepatu jinjit. Tapi bagi saya menjelajahi hutan ini seperti terlempar ke bagian Bumi puluhan juta tahun lalu. Trus tiba-tiba ada dinosaurus sama kadal raksasa. Ah kebanyakan nonton Cosmos. Untung nggak liat ular .. hiiiii. Salah satu yang membuat saya termenung adalah ketika saya memeluk pohon ulin raksasa yang umurnya 1000 tahun. Bangganya bukan main.
![]() | ||
| Courtesy of Bonifasius Widyo Baskoro. Menuju ulin ini, saya harus berjalan sekitar 1 Km. Enggak melelahkan kok. Malah paru-paru saya terisi penuh oleh oksigen. Bebas dari asap knalpot. |
Ulin ikonik dan fenomenal ini memiliki diameter sekitar 225 cm atau keliling 706 cm dengan volume 150 m3. Nah ulin ini tercatat sebagai pohon ulin tertinggi dan terbesar di Indonesia. Saya sudah selfie di samping pohon ini.
Sebelum masuk ke dalam hutan, Bojo memperingatkan saya untuk memakai aut*n agar tidak digigit serangga. Paling tidak enggak kena lintah. Jangan salah. Lintah disini ada dua macam. Lintah yang kalau ngisep darah nggak berasa diisep dan lintah yang sekali tempel sakitnya minta ampun. Lintah yang kedua ini biasanya hidup di daun. Jadi meski arah mata kita tertuju di bawah untuk menghindari cucupan lintah darat (kok lintah darah sih), jika bagian lain tubuh kita kemana-mana, itu akan menjadi incaran mangsa si lintah daun .. auooooo.
Sayangnya pengunjung yang menikmati hutan primer ini beberapa masih belum sadar akan kebersihan. Di beberapa titik jalan setapak yang menyusuri hutan ini menuju pohon ulin, saya menemukan beberapa sampah yang sengaja di buang oleh pengunjung yang kurangajar. Ah .. sepet! Enggak cumak itu, saya juga menemukan coretan pahatan di kayu. Wah .. rasanya mah jleb. Susah ya ..
Atha Ajo
Pinggir lautan, ngantuk!!
<a href="http://indonesia-blogger.com">INDONESIA BLOGGER</a>
![]() |
| Macak ayu sek, sopo ngerti ketemu mas mas. |
Kamis, 25 September 2014
Antara Bukit Menangis dan Tugu Equator yang Kasatmata
"Jika kamu baru saja mengalami peristiwa tanpa logika, anggap saja kamu sedang bermimpi,"
Jadi saya kembali jalan-jalan aji mumpung. Mumpung suami saya tugas ke daerah, nah di situ saya ikutan nebeng jalan-jalan. Acara traveling kali ini agak-agak berbeda rasanya. Beda karena nyerempet-nyerempet yang diluar logika. Sampai sekarang pun masih bikin saya kepikiran, agak-agak merinding dikit.
Kali ini saya ikutan ke Kota Bontang, 230-an km dari Balikpapan. Ada dua rute yang kami lalui menggunakan mobil taft keluaran 1996. Rute Balikpapan-Samarinda dilanjut Samarinda-Bontang. Perlu waktu sekitar 3 jam lebih sedikit menuju Samarinda dari Balikpapan. Secara mobil yang kami kendarai lajunya kayak kura-kura. Kapasitas mesinnya sih 2.700 cc, tapi masih kalah ngebut sama mobil sejuta umat yang cc-nya cumak 1.300. Enggak apa-apa, yang penting nyampek.
Nah yang jadi persoalan adalah apa yang saya alami sepanjang rute Samarinda-Bontang. Rute ini memiliki banyak bukit terjal, cocok kalau pas berkendara nyanyi naik-naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali sana sini banyak lubangnya. Eh tapi waktu kami lewat, lagi ada pengerjaan pengaspalan, deng. Jadi beberapa jebakan betmennya sudah ketutup. Semoga lain kali ketika main kesana lagi, jalannya sudah semulus kulit artis Korea.
Sebetulnya jarak Samarinda-Bontang lebih pendek dibanding Balikpapan-Samarinda. Menurut Google Map, Samarinda-Bontang hanya sekitar 116 Km dengan waktu tempuh 1 jam 45 menit. Dengan catatan tanpa macet. Mungkin Google Map lupa kalau jarak segitu bisa ditempuh tak hanya tanpa macet tapi juga kalau jalannya lurus. Menuju Kota Bontang memang tanpa macet. Tapi jalan-jalan terjal dan jebakan-jebakan betmen membuat mobil tua yang kami naiki berjalan seperti siput. Baru jalan beberapa ratus meter sudah nemu jebakan betmen. Jelas dong, waktu 1 jam 45 menit enggak mungkin banget ditempuh dengan kondisi jalanan seperti itu. Ah .. masak! Iyaaalaahh .. nyatanya kami berkendara hampir 4 jam lamanya hingga sampai hotel tujuan. Waktu itu, Samarinda ke Bontang, jalannya pas banyak perbaikan.
Salah satu titik jalan yang membuat momok para pelintas adalah Bukit Menangis. Kemiringan jalan bukit ini (mungkin) hampir 20 derajat. Enggak cumak miring, tapi juga berkelok tajam. Kebayang kan mobil yang kami tumpangi meraung-raung untuk sampai ke atasnya. Kenapa disebut bukit menangis? Menurut Google searching, kendaraan yang lewat jalan bukit ini selalu meraung-raung seperti orang sedang menangis saat merangkak di tanjakan. Makanya disebut Bukit Menangis. Tapi yang bikin saya antusias adalah saya melihat Tugu Equator setelah melewati Bukit Menangis (kalau tidak salah). Mau mampir tapi kok capek. Jadi kami putuskan akan mampir pas pulang.
Nah di sinilah masalahnya. Kami menemui masalah untuk menemukan letak atau posisi Tugu Equator saat berkendara pulang. Dari kami berempat, saya-suami dan dua orang kawan suami-istri, tidak ada yang melihat di mana letak tugu itu. Padahal saat lewat pertama kali, kami melihatnya dengan jelas papan nama yang dipasang persis di pinggir jalan. Apalagi Tugu Equator terlihat sangat jelas dari pinggir jalan. Bahkan kami tak jua menemukan papan nama petunjuk Tugu Equator.
Enggak nyerah dooong. Maka sembari menuju Bukit Menangis (karena suami saya punya kepentingan untuk memotret kondisi jalan dan lalin di Bukit Menangis terkait tugasnya), kami pun semakin memelototi di manakah Tugu Equator. Manaaaaaaaa ... kok nggak nemu! "Jangan-jangan dah kelewatan," celetuk salah satu kawan saya. "Ah .. nggak mungkin, dari tadi aku melototi jalan. Kan mau motret bukit menangis juga .. ini bukit menangisnya kok nggak nongol-nongol," jawab suami saya.
Lalu saya cek Google Map untuk mengetahui posisi berkendara kami. Hasilnya? Jarak tempuh kami menuju Kota Samarinda tinggal 35 Km lagi. Artinya Bukit Menangis dan Tugu Equator sudah tertinggal jauh di belakang. Lah terus Bukit Menangisnya ke manaaaa, kok nggak kerasa pas tanjakan. "Harusnya kerasa loh .. ini kok enggak, lempeng ajaaa, nggak ada semacam tanjakan atau turunan paling terjal. Aku tuh pasti tahu kalau lewat Bukit menangis," kata suami saya.
Dan tiba-tiba kamipun melewati lokasi calon bandara Samarinda yang baru dibangun .. loooohhhh maksud loooo ?? Jadi total waktu tempuhnya dari Bontang sampai hotel di Samarinda cumak 1 jam 45 menit. Hebat kaaaannnn .. merinding disko dooong. Kami cumak diam. Sampai di pusat kota Samarinda kurang dari 3 jam berkendara.. ihiiirrrr. Padahal sempat juga mampir minimarket sekitar 10 menit.
So, dengan kondisi mobil yang tua dan jalanan yang seperti itu, kok nggak mungkin jarak tempuhnya cuman kurang dari 3 jam. Secara berangkatnya saja pas 4 jam perjalanan. Menurut informasi di Google, waktu tempuh dari atau ke Bontang rata-rata hampir 3 jam jika santai. Juga menurut suami saya, waktu tempuh yang kami alami agak janggal. Mengapa? Karena perjalanan santai menuju Bontang dari Samarinda tanpa macetpun setidaknya ya 3-jam an. Dan kami merasa tidak melewati Bukit Menangis dan tidak melihat Tugu Equator. Wah kasatmata dong.
Lalu teori konspirasipun berkecamuk di alam atas sadar saya. Mulai dari diculik alien barengan trus ingatannya dihapus, memasuki lubang hitam, ketemu segitiga bermuda, sampai pada teori dimensi waktu yang mampu membawa kami mempercepat waktu. Ah kebanyakan nonton ancient alien. Atau jangan jangan kami adalah saksi mata peristiwa ekstraterestrial trus didatangi agen K nya Men In Black. Mungkin juga kami menemukan jalan pintas kasatmata yang mempercepat waktu tempuh. Emaaaakkkkk .... atut.
Ya sudahlah .. daripada kepikiran, kami mengganggapnya sebagai mimpi. "Ada jalan lain nggak sih selain ini," kata kawan saya. Ehehehehehe ... cumak ini jalannya. "Tapi kok aku merasa nggak lewat sini ya kemarin, kayaknya jalannya kok beda," timpal suami kawan saya ini. Eheheheheh .... sudah nggak usah dibahas. Suami saya cumak geleng-geleng kepala. Bingung? Samaaakkkk...
Setelah kejadian "misterius" tadi, kami berempat membahas lagi apa sih yang sebenarnya terjadi. Tetap juga enggak ketemu penjelasan. Tapi beberapa cerita dari kawan-kawan memang menyiratkan kalau bisa saja pengendara mengalami kejadian aneh.
Setelah dipikir ulang, ada beberapa hal yang memang tidak seperti biasanya. Pertama, saya, suami dan kawan saya sepakat, kondisi jalan saat kejadian itu, sepi. Nyaris enggak ketemu kendaraan lain. Terlampau sepi untuk situasi di akhir pekan pada ruas jalan penghubung dua kota tadi.
Trus, kami berempat kok juga merasa ruas jalan datar-datar saja, nyaris tanpa naik-turun bukit. Juga banyak lempengnya, alias minim belok-belok. Juga enggak ketemu banyak jebakan betmen. Padahal kan enggak mungkin itu. Kok kami enggak nyadar yaaaks.. Hii.. Tapiii ya sudahlaah... Bingung juga kalau mikirin terus apa dan gimana-gimananya. Pokoknya pulang selamet..
Atha Ajo
BACA JUGA:
MENANTI KIRK HAMMET
<a href="http://indonesia-blogger.com">INDONESIA BLOGGER</a>
Jadi saya kembali jalan-jalan aji mumpung. Mumpung suami saya tugas ke daerah, nah di situ saya ikutan nebeng jalan-jalan. Acara traveling kali ini agak-agak berbeda rasanya. Beda karena nyerempet-nyerempet yang diluar logika. Sampai sekarang pun masih bikin saya kepikiran, agak-agak merinding dikit.
Kali ini saya ikutan ke Kota Bontang, 230-an km dari Balikpapan. Ada dua rute yang kami lalui menggunakan mobil taft keluaran 1996. Rute Balikpapan-Samarinda dilanjut Samarinda-Bontang. Perlu waktu sekitar 3 jam lebih sedikit menuju Samarinda dari Balikpapan. Secara mobil yang kami kendarai lajunya kayak kura-kura. Kapasitas mesinnya sih 2.700 cc, tapi masih kalah ngebut sama mobil sejuta umat yang cc-nya cumak 1.300. Enggak apa-apa, yang penting nyampek.
Nah yang jadi persoalan adalah apa yang saya alami sepanjang rute Samarinda-Bontang. Rute ini memiliki banyak bukit terjal, cocok kalau pas berkendara nyanyi naik-naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali sana sini banyak lubangnya. Eh tapi waktu kami lewat, lagi ada pengerjaan pengaspalan, deng. Jadi beberapa jebakan betmennya sudah ketutup. Semoga lain kali ketika main kesana lagi, jalannya sudah semulus kulit artis Korea.
Sebetulnya jarak Samarinda-Bontang lebih pendek dibanding Balikpapan-Samarinda. Menurut Google Map, Samarinda-Bontang hanya sekitar 116 Km dengan waktu tempuh 1 jam 45 menit. Dengan catatan tanpa macet. Mungkin Google Map lupa kalau jarak segitu bisa ditempuh tak hanya tanpa macet tapi juga kalau jalannya lurus. Menuju Kota Bontang memang tanpa macet. Tapi jalan-jalan terjal dan jebakan-jebakan betmen membuat mobil tua yang kami naiki berjalan seperti siput. Baru jalan beberapa ratus meter sudah nemu jebakan betmen. Jelas dong, waktu 1 jam 45 menit enggak mungkin banget ditempuh dengan kondisi jalanan seperti itu. Ah .. masak! Iyaaalaahh .. nyatanya kami berkendara hampir 4 jam lamanya hingga sampai hotel tujuan. Waktu itu, Samarinda ke Bontang, jalannya pas banyak perbaikan.
Salah satu titik jalan yang membuat momok para pelintas adalah Bukit Menangis. Kemiringan jalan bukit ini (mungkin) hampir 20 derajat. Enggak cumak miring, tapi juga berkelok tajam. Kebayang kan mobil yang kami tumpangi meraung-raung untuk sampai ke atasnya. Kenapa disebut bukit menangis? Menurut Google searching, kendaraan yang lewat jalan bukit ini selalu meraung-raung seperti orang sedang menangis saat merangkak di tanjakan. Makanya disebut Bukit Menangis. Tapi yang bikin saya antusias adalah saya melihat Tugu Equator setelah melewati Bukit Menangis (kalau tidak salah). Mau mampir tapi kok capek. Jadi kami putuskan akan mampir pas pulang.
Nah di sinilah masalahnya. Kami menemui masalah untuk menemukan letak atau posisi Tugu Equator saat berkendara pulang. Dari kami berempat, saya-suami dan dua orang kawan suami-istri, tidak ada yang melihat di mana letak tugu itu. Padahal saat lewat pertama kali, kami melihatnya dengan jelas papan nama yang dipasang persis di pinggir jalan. Apalagi Tugu Equator terlihat sangat jelas dari pinggir jalan. Bahkan kami tak jua menemukan papan nama petunjuk Tugu Equator.
Enggak nyerah dooong. Maka sembari menuju Bukit Menangis (karena suami saya punya kepentingan untuk memotret kondisi jalan dan lalin di Bukit Menangis terkait tugasnya), kami pun semakin memelototi di manakah Tugu Equator. Manaaaaaaaa ... kok nggak nemu! "Jangan-jangan dah kelewatan," celetuk salah satu kawan saya. "Ah .. nggak mungkin, dari tadi aku melototi jalan. Kan mau motret bukit menangis juga .. ini bukit menangisnya kok nggak nongol-nongol," jawab suami saya.
Lalu saya cek Google Map untuk mengetahui posisi berkendara kami. Hasilnya? Jarak tempuh kami menuju Kota Samarinda tinggal 35 Km lagi. Artinya Bukit Menangis dan Tugu Equator sudah tertinggal jauh di belakang. Lah terus Bukit Menangisnya ke manaaaa, kok nggak kerasa pas tanjakan. "Harusnya kerasa loh .. ini kok enggak, lempeng ajaaa, nggak ada semacam tanjakan atau turunan paling terjal. Aku tuh pasti tahu kalau lewat Bukit menangis," kata suami saya.
Dan tiba-tiba kamipun melewati lokasi calon bandara Samarinda yang baru dibangun .. loooohhhh maksud loooo ?? Jadi total waktu tempuhnya dari Bontang sampai hotel di Samarinda cumak 1 jam 45 menit. Hebat kaaaannnn .. merinding disko dooong. Kami cumak diam. Sampai di pusat kota Samarinda kurang dari 3 jam berkendara.. ihiiirrrr. Padahal sempat juga mampir minimarket sekitar 10 menit.
So, dengan kondisi mobil yang tua dan jalanan yang seperti itu, kok nggak mungkin jarak tempuhnya cuman kurang dari 3 jam. Secara berangkatnya saja pas 4 jam perjalanan. Menurut informasi di Google, waktu tempuh dari atau ke Bontang rata-rata hampir 3 jam jika santai. Juga menurut suami saya, waktu tempuh yang kami alami agak janggal. Mengapa? Karena perjalanan santai menuju Bontang dari Samarinda tanpa macetpun setidaknya ya 3-jam an. Dan kami merasa tidak melewati Bukit Menangis dan tidak melihat Tugu Equator. Wah kasatmata dong.
Lalu teori konspirasipun berkecamuk di alam atas sadar saya. Mulai dari diculik alien barengan trus ingatannya dihapus, memasuki lubang hitam, ketemu segitiga bermuda, sampai pada teori dimensi waktu yang mampu membawa kami mempercepat waktu. Ah kebanyakan nonton ancient alien. Atau jangan jangan kami adalah saksi mata peristiwa ekstraterestrial trus didatangi agen K nya Men In Black. Mungkin juga kami menemukan jalan pintas kasatmata yang mempercepat waktu tempuh. Emaaaakkkkk .... atut.
Ya sudahlah .. daripada kepikiran, kami mengganggapnya sebagai mimpi. "Ada jalan lain nggak sih selain ini," kata kawan saya. Ehehehehehe ... cumak ini jalannya. "Tapi kok aku merasa nggak lewat sini ya kemarin, kayaknya jalannya kok beda," timpal suami kawan saya ini. Eheheheheh .... sudah nggak usah dibahas. Suami saya cumak geleng-geleng kepala. Bingung? Samaaakkkk...
Setelah kejadian "misterius" tadi, kami berempat membahas lagi apa sih yang sebenarnya terjadi. Tetap juga enggak ketemu penjelasan. Tapi beberapa cerita dari kawan-kawan memang menyiratkan kalau bisa saja pengendara mengalami kejadian aneh.
Setelah dipikir ulang, ada beberapa hal yang memang tidak seperti biasanya. Pertama, saya, suami dan kawan saya sepakat, kondisi jalan saat kejadian itu, sepi. Nyaris enggak ketemu kendaraan lain. Terlampau sepi untuk situasi di akhir pekan pada ruas jalan penghubung dua kota tadi.
Trus, kami berempat kok juga merasa ruas jalan datar-datar saja, nyaris tanpa naik-turun bukit. Juga banyak lempengnya, alias minim belok-belok. Juga enggak ketemu banyak jebakan betmen. Padahal kan enggak mungkin itu. Kok kami enggak nyadar yaaaks.. Hii.. Tapiii ya sudahlaah... Bingung juga kalau mikirin terus apa dan gimana-gimananya. Pokoknya pulang selamet..
Atha Ajo
BACA JUGA:
MENANTI KIRK HAMMET
<a href="http://indonesia-blogger.com">INDONESIA BLOGGER</a>
Rabu, 24 September 2014
My Beloved Himura
“Sifat sejati manusia adalah kekerasan, dan dunia ini adalah neraka,” Shishio Makoto.
Seingat saya, anime Samurai X ditayangkan Indosiar di
pertengahan era 90’an. Tahunnya saya lupa. Yang jelas saat itu saya masih SMA.
Masih imut-imut dan suka ngayal, masih belum paham pacaran tapi lebih senang
nggebet. Masa itu adalah masa dimana cowok-cowok dorama menjadi idola kawula
muda era 90’an. Cowok-cowok dorama loooh .. beda sama cowok-cowok di lapak
sebelah. Nah saya’nya idola banget sama yang namanya Takuya Kimura. Ahh .. apa
kabar binder saya yang banyak stiker mas takuyanya. Karena saya jatuh cinta
sama mas Kenshin sekaligus aa’ Takuya, maka Takuya Kimura “kala itu” menjadi
perwujudan Kenshin Himura versi live-action khayalan .. kalaa ituuuuuuu.
Alih-alih Kimura seperti khayalan saya, peran Kenshin pada
trilogy
Rurouni Kenshin diemban oleh Takeru Sato. Hasilnya? Sekali lagi saya
jatuh cinta sama mas Kenshin lewat perwujudan Takeru Sato. Peran ikonik ini diwujudkan
dengan nyaris sempurna oleh pemeran Kamen Riden Den-O ini. Sato sukses mewujudkan
transisi Kenshin Himura yang konyol, rendah hati dan lemah lembut dalam
bertingkah laku serta bertutur kata menjadi sosok Himura Battousai, pembunuh
berdarah dingin, dalam sekedipan mata. Ihh .. kyuuutt!!
Sequel kedua trilogy ini, Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno, mengejutkan
saya karena ditayangkan di Bioskop. Harus nonton doooong. Dan saya sukses
merayu suami untuk ikutan nonton film ini di bioskop. Jarang-jarang suami saya
mau nonton film yang bukan buatan holiwud. Kyoto Inferno mempertemukan Kenshin
dengan Shishio Makoto, seorang Hittokiri Battousai (pembunuh berdarah dingin),
serta Juppongatana, kelompok samurai keji yang dibentuk Shishio. Kalau nggak
tahu ceritanya, langsung nonton filmnya aja deh atau baca manganya. Bakalan
panjang kalau dibahas disini. Di sequel ini, Kenshin harus berhadapan dengan
Shishio dan Juppongatana (Ten Swords) yang berencana menggulingkan pemerintahan
era Meiji.
Salah satu pertarungan seru yang saya nantikan di sequel ini adalah
ketika mantan Battousai dengan luka X di pipi kirinya ini harus melawan salah
satu Juppongatana kesayangan Shishio yakni Soujiro Seta. Sosok Soujiro Seta
yang digambarkan sebagai lelaki muda berperawakan mungil dan tanpa dosa ini dimanifestasikan dengan apik oleh
Ryunosuke Kamiki. Pokoknya kalau lihat Seta di jalanan nggak bakalan ngeh deh kalau ternyata doi
memiliki ilmu pedang yang bikin geger seantero kota. Kata suami saya “Kok jalannya agak kemayu,” .. mbooohh!!
Namun bukan tokoh-tokohnya yang bikin saya gregetan dan nagih
pengen nonton lagi. Film ini, baik sequel pertama dan kedua juga ketiga nanti,
sama-sama menyuguhkan koreografi yang bagi saya sempurna juga rumit. Sequel
pertama Rurouni Kenshin lebih banyak bercerita tentang transisi Kenshin dari
Hittokiri Battousai menjadi Rurouni (pengembara) dan latar belakang
pedang sakabatou’nya (pedang bermata terbalik). Baru di sequel kedua, Kyoto Inferno
menyuguhkan pertarungan laga yang lebih rumit. Adu teknik pedang yang
ditampilkan disini sangat fantastis tapi masih tetap realistis dan tidak
berlebihan sehingga masih enak dinikmati. Tidak ada adegan terbang berlebihan
dan bertarung di angkasa. Satu lagi yang membuat film ini keren adalah
dialognya yang kuat dan berbobot. Tidak berlebihan layaknya pujangga tapi lugas.
Awalnya saya menebak-nebak bagaimana Sato dan kawan-kawannya
mampu menyuguhkan pertarungan yang cepat dan penuh teknik. Setelah cari tahu
sana-sini, ternyata film ini sama sekali tidak menggunakan CGI loh. Pure acting
para pemainnya yang diperoleh dari hasil latihan koreografi selama beberapa
bulan. Apalagi Ohtomo tidak begitu mengandalkan wire work dalam beberapa adegan
laganya. Jadi ketika Sato loncat-loncat itu, bisa jadi memang dia loncat
beneran tanpa kabel. Hebatnya lagi, Sato tidak menggunakan jasa stuntman dalam
aksi guling-gulingnya. Ahh .. tambah kiyuuutt!!
Lalu sebenarnya seberapa cepat
sih gerakan koreografi adu teknik pedang yang dipertontonkan di laga ini. Apakah ini permainan kamera dan editing semata? Coba
deh lihat behind the scenenya. Maka kamu bakalan tahu, bahwa koreografi adu
teknik pedang yang dipertontonkan memang terdiri dari gerakan-gerakan yang
cepat, gesit dan agresif.
Nah mumpung masih tayang di bioskop, nontonlah agar tidak
menyesal. Meskipun subtitle Bahasa dan Englishnya agak susah dicerna, tapi
nggak papa. Film ini patut ditonton. Jangan khawatir, cerita yang disuguhkan
disini juga kuat, mungkin karena manga’nya yang keren duluan. Oke Sip ..
Atha Ajo
Ah .. apa kabar Takuya Kimura #eehhhh
Kamis, 03 Juli 2014
Aku Rapopo!!
Jadi ceritanya pada hari Kamis (3/06) saya mengalami kecelakaan beruntun. Puji syukur kehadirat Tuhan yang maha esa dan alam semesta, aku rapopo!! Enggak lecet sedikitpun meski kontal sejauh 2 meter. Sementara embak embak di sebelah saya yang ikutan terkontal mengalami cedera kepala karena tidak mengenakan helm. Dan harus di ct scan untuk mengetahui kondisi kepalanya apakah retak atau tidak.
Berangkat dari kejadian yang bikin shock bukan kepalang ini, saya menjadi semakin aware sama yang namanya savety riding. Ini nggak cuman pake helm aja, tp juga pake perlengkapan lain yang dikenakan di tubuh. Meskipun kita tahu menggunakan savety riding tidak menjamin keselamatan nyawa seratus persen. Tetapi seenggaknya, savety riding mengurangi intensitas cedera lebih parah. Seperti kepala saya yang terlindungi helm ketika terantuk aspal, dan kepala mbaknya yang langsung bengkak dan harus di ct scan karena nggak pake helm.
Kejadiannya begitu cepat, ya iyalaahhhh (saat menulis artikel ini, pantat dan pinggang saya masih njarem, begitu juga siku). Saya nggak nyangka bakalan diseruduk mobil kecil dari belakang saat saya nyantai berhenti di lampu merah. Kalau tidak salah kejadiannya pukul 13.00 wib. Waktu itu saya berhenti sesuai petunjuk lampu merah. Lalu ada motor gede cc kecil yang 'kayaknya' berhenti di samping belakang kanan saya. Enggak berapa lama kemudian saya terpental ke belakang 2 meteran. Menurut analisa, si motor gede yang ditunggangi embak embak diseruduk mobil yang mana si motor gede nyerempet saya diikuti si mobil kecil yang ikutan nyeruduk saya dr belakang. Terpentallah kami berdua. Kata saksi mata, cara saya terpental mirip setengah salto, agak ngayang gitu. Bisa kali ya masuk cctv ..
Mendengar suara tabrakan yang begitu keras dan katanya ngeri, orang-orang langsung berhamburan ke tempat kami tergeletak. Saya hanya diam mengatur nafas agar tidak panik, dan dipapah ke pinggir jalan. Setelah itu saya baru sadar kalo diseruduk mobil dari belakang. Tapi tetep aja saya linglung. Saya cuma duduk-berdiri-duduk-berdiri-duduk. Dan ketika si penabrak (kayaknya si embak masih mahasiswa) keluar dari mobilnya, langsung saya sembur dengan makian. Apalagi si embak menabrak gegara sedang menerima telpon sehingga lengah saat menyetir. Beberapa orang menenangkan kami. Dan saya diberi teh manis oleh embak-embak pelayan restoran ayam goreng krispi .. enggak sekalian ayam sama nasinya mbak?? *nglunjak*
Karena si embak yang menabrak kami kooperatif dan mau tanggung jawab, kami cabut ke UGD sebuah rumah sakit dekat TKP. Sayangnya rumah sakit ini lambat memberikan bantuan. Mau ditunggu sampai kapan kami diperiksanya kok cuma dibiarin kleleran. Masa dokter yang nyamperin cuma bilang "Masih ingat kejadiannya nggak," dijawab "masih," eh dokternya malah ngloyor pergi sambil bilang "oh ya sudah," myeeeeeehhhhhh ... Karena urusan saya di rumah sakit sudah selesai maka saya pulang. Tinggal menunggu perbaikan motor yang pecah lampu belakangnya. Lagipula saya lapar karena belum makan selepas sarapan.
Hikmah dari peristiwa ini adalah sehati-hati dan sesavety apapun kita berkendara di jalanan, kalau lagi apes ya apes. Kayak saya yang berhenti manis di lampu merah aja masih diseruduk dari belakang. Karena apes bisa datang kapan saja dan dimana saja, maka seenggaknya kita harus sudah siap. Pake helm kemanapun kita pergi meskipun tujuan kita cukup dekat dengan rumah. Si embak satunya yang cedera kepala tidak memakai helm karena alasan perginya enggak jauh dari rumah. Lalu jangan sekali kali mengangkat telepon apalagi sms kalau sedang berkendara. Karena saya yang enggak tahu apa-apa dan berusaha berkendara dengan hati-hati saja menjadi salah satu pengendara yang dirugikan atas kelalaian itu. Susah tidur telentang karena nyut nyut an. Sooo .. savety riding memang tak menjamin keselamatan nyawa 100%, tapi nggak ada salahnya kan kita mengantisipasi agar cedera yang dialami ketika apes tidak menjadi lebih parah.
Ingat .. savety riding tak hanya berupa perlengkapan keamanan apa saja yang harus kita kenakan saat berkendara tetapi juga sikap dan perilaku berkendara yang benar dan aman.
Atha Ajo
*Njarem*
Langganan:
Postingan (Atom)



