Translate
Rabu, 25 Juni 2014
The Wicked
Kadang-kadang aku berpikir bahwa aku adalah anak adopsi. Ada hari-hari ketika aku yakin benar akan hal ini. Hidupku benar-benar payah!!
Contohnya pagi ini. Drama dimulai ketika aku meminta Ibuku untuk membelikan iPhone terbaru. Katanya penyihir tidak butuh teknologi seperti itu. Ibuku bilang kami hanya butuh telepati untuk saling memberi kabar. Tapi nyatanya sampai umurku menjelang 16 tahun, kemampuan itu juga belum muncul.
Aku benar-benar kesal jika melihat anggota keluargaku dengan mudah cring-cring dan tiba-tiba punya barang baru yang keren-keren. Sementara kemampuan cring-cringku hanya sebatas menggerakkan gelas. Itupun hanya sepanjang 5 centimeter. Sepertinya aku tidak berguna. Payah!
Hampir semua temanku punya benda itu. Kecuali Jon, remaja kurus berkacamata dan berkawat gigi yang sudah setahun menjadi teman sekelasku. Kadang kami nekat mengajak cewek-cewek popular di sekolah untuk kencan, yang ujung-ujungnya kami babak belur karena dihajar pacar cewek-cewek itu. Mana bisa aku menyaingi pacar cewek-cewek itu jika aku tidak punya benda itu.
Ibuku terus mengoceh betapa belajar di sekolah lebih penting daripada mengurusi benda yang katanya tak berguna itu. “Kau harus sekolah,” begitu kata Ibu.
Aku sebetulnya tidak ingin belajar di sekolah konvensional yang harus berbaur dengan para manusia. Aku ingin belajar dirumah seperti kedua kakakku yang tidak perlu repot-repot menyembunyikan jati dirinya. Atau belajar di sekolah penyihir seperti di buku Harry Potter. Tapi itu hanya karangan. Kami para penyihir harus berbaur dengan manusia.
Dan faktanya aku adalah penyihir terpayah didunia.
Namaku hanya terdiri dari empat huruf, Jedi. Karena sama-sama memiliki awalan J, aku dan Jon dijuluki si kembar moron di sekolah. Kalau kau tanya kenapa namaku hanya terdiri dari empat huruf itu, silahkan tanya kedua orangtuaku. Aku selalu berlatih setiap malam untuk menjadi remaja normal. Tapi ketika aku bangun, aku tetap berjalan membungkuk dan menunduk. Jika berbicara, kata-kata yang keluar hanya "Ya" "Tidak" "Mungkin" dan "Tidak tahu". Kurasa aku selalu gugup jika berbicara sampai suaraku terdengar parau dan mendesis.
Pernah suatu kali kami, Aku dan Jon, mendekati Hanna. Cewek popular di sekolah yang juga satu kelas dengan kami. Siapa tau salah satu dari kami beruntung. Tapi aku hanya berhasil mengucap kata hai dengan suara parau dan mendesis kepadanya sebelum pacarnya datang dan menghajar kami. Baiklah, itu sudah cukup. Hey .. aku tidak tau kalo dia sudah punya pacar.
"Apa yang kau pikirkan," tanya Jon sambil mengelus mulutnya yang bengkak.
"Tidak tahu," aku memang tidak tahu kenapa kami menjadi siswa yang dijauhi.
"Ah .. kau selalu tidak tahu," lanjutnya meringis perih.
Sebetulnya semenjak berteman denganku, Jon menjadi anak terbuang. Jadi akulah masalahnya. Siapa yang tidak takut ketika sedang berbicara dengan anak remaja yang retina matanya berwarna merah. Jadi aku terpaksa menggunakan kontak lens berwarna hitam agar terlihat normal dan tidak menakutkan. Aku tidak tau Jon menyadarinya atau tidak kalau retinaku merah. Tapi setauku sih tidak. Karena Jon buta warna. Anak itu cukup beruntung bisa diterima di sekolah ini meski buta warna.
***
Sekarang sudah lewat makan malam. Dan kakak perempuanku belum pulang. Ibuku tak henti-hentinya mengoceh di depan Ayahku yang sedang asyik membaca koran. Ibuku masih khawatir dengan keberadaan pemburu yang senang membunuhi para penyihir. Tapi itu kan dulu. Para pemburu sudah tak terlihat lagi sejak dua abad yang lalu. Dulu mereka membunuhi siapa saja yang terbukti sebagai penyihir termasuk kami kaum penyihir putih yang sering kena getah karena ulah kaum penyihir hitam.
Aku memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Melewati rumah Pak Robinson. Semacam ritual jika ibuku mulai mengoceh. Pria tua itu selalu duduk di teras rumahnya sambil membawa senjata laras panjang. Tapi malam ini tak tampak batang hidungnya. Aku pernah mengintip ke dalam rumahnya, dan pria tua itu menyimpan berkaleng-kaleng makanan. Sejak aku tertangkap basah suka mengintip isi rumahnya, kami menjadi tetangga yang tidak akur. Sampai-sampai mata pria tua itu tak pernah lepas mengawasiku ketika aku melewati rumahnya sampai aku menghilang di tikungan. Hey .. aku kan tidak punya niat mengambil makanan-makanan pria tua itu. Aku hanya ingin melihatnya, dan mencicipinya sedikit.
Aku tinggal di Saymore Lane, pemukiman sunyi yang lebih banyak pohonnya ketimbang rumahnya. Jalan aspal yang selalu basah karena embun dan kabut tipis yang selalu menyergap saat pagi dan baru menghilang menjelang siang. Satu-satunya hal menyenangkan dari total hidupku yang payah adalah tinggal disini. Ketika semua orang sedang terlelap, pemukiman ini menjadi semakin sunyi. Dan saat-saat itulah aku merasa lebih hidup. Aku bisa mendengarkan gurauan angin dan ranting. Dan aku merasa beberapa bintang diatas sana mengerti perasaanku yang sedang kacau. Kadang-kadang mereka mengirimkan bintangnya melesak melewati angkasa agar permohonanku terkabul. Yak .. Aku selalu memohon untuk menjadi manusia biasa saja.
Dan diujung jalan Seymore Lane ada sebuah rumah besar. Rumah itu selalu kosong dan gelap. Tapi kini beberapa lampunya menyala. Setahuku rumah itu dibiarkan kosong belasan tahun oleh pemiliknya. Misterius. Ketika aku tiba di depan rumah itu, aku melihatnya. Seseorang sedang berdiri di balkon lantai atas. Menyenderkan sikunya di pagar balkon dan dia sedang melihat ke arahku. Seorang gadis. Aku tidak tahu tentang gadis ini, tapi aku seperti mengenalnya. Hey tunggu .. jantungku mulai berdegup kencang. Bukankah gadis itu yang selalu hadir di mimpiku. Dan sekarang dia tersenyum .. aahhh manisnya. Bagaimana ini, aku tidak bisa bergerak. Aku tidak mau dianggap seperti orang aneh jika berdiri disini terus.
To be continue ..
atha ajo
Sabtu, 21 Juni 2014
Slavia
Lantas aku
teringat akan janji yang kuberikan pada lelakiku. Untuk datang kepadanya sore
ini. Aku menyingkap tirai kamar, ah awan sedang bergumul diatas, beradu siapa
yang akan turun terlebih dulu. Sementara manusia-manusia jalanan sudah bersiap
dengan peneduh.
Aku bergegas,
mengejar asa sebelum runtuh oleh sangkala. Menuju jalan setapak Slavia, dimana
di kanan kirinya berderet pohon linden atau lipa. Tubuhku menyusup diantara
manusia yang tergesa-gesa, menghindari gerimis yang datang seperti pencuri.
Dalam pesan
yang dia tinggalkan, dia menungguku di ujung jalan Slavia. Jalan yang selalu
menguarkan pendar emas karena refleksi sinar matahari yang menyusup melewati
sela-sela ranting dan daun pohon linden.
Aku menyusuri
jalan setapak itu. Dimana lelakiku?
“Hai .. kau
datang,” mendengar suara itu aku membalikkan badan dan dia berdiri disana. Itu
lelakiku.
“Aku
menantikan hari ini untuk meminjam hatimu,” katanya. “Karena jatuh cinta kepadamu itu mudah. Aku
ingin menghentikan sangkala, agar aku bisa bersamamu dalam abadi. Lalu aku akan
berada disini, disampingmu. Jadi aku akan meminjam hatimu hari ini dan menjaganya
di hari-hari esok,” ujarnya.
Dan aku mulai
resah. Karena manusia hanya membuat janji. Meminjamkan hatiku? Apakah bisa ..
“Jika kau
enggan meminjamkannya hari ini. Aku akan memintanya besok. Dan jika kau masih
enggan, aku akan memintanya setiap hari Minggu. Agar aku bisa menjaga hatimu
sejak permulaan hari,” ungkapnya.
Bagaimana jika
hatiku kau rusak. Kau sayat dan perih.
“Karena aku
tahu aku tidak akan merusaknya. Dan aku tidak akan berhenti sampai kau
mempercayainya. Jadi jatuh cintalah kepadaku, karena aku akan memberikan hatiku
Cuma-Cuma hanya kepadamu,”
Aku tertunduk.
Jemarimu merengkuhku. Dan aku paham.
Atha Ajo
*balada Jerry Mcquire
KAMU ...
Diantara manusia
kelabu yang saling berjingkat dan berdesak, kau memberikan cahaya dari sudut
tempatmu duduk. Aku betah memandangmu bermenit-menit dalam jarak lima meter di
Kedai Ria. Pancaran hangatmu menguar dan menyentuh kulitku dalam sekejab.
Sungguh mataku
bergadang, berjaga-jaga agar kau tidak hilang dari pandanganku. Hanya kau
cantik yang nampak jelas di mataku. Semakin lama aku memandangmu, semakin habis
nafasku.
Ah kamu pergi
...
Atha ajo
*gara-gara One Direction (tepok jidat)
Minggu, 15 Juni 2014
Jaman SD yang malu-malu bahagia
Ngomongin soal
jaman SD, pasti tak jauh-jauh dari kejadian memalukan. Tapi jika ingat jaman
itu, saya jadi teringat bahwa masa kecil saya dilalui dengan hari-hari penuh
bahagia dan riang gembira. Kejar-kejaran dan pulangnya umbel kuning membentuk
pulau di pipi. Sementara kaki selalu membawa cenderamata berupa bopeng atau
lecet. Bandingkan saja sama anak-anak SD jaman sekarang yang mainannya tablet
dan PS. Gerak dikit aja ngakunya capek. Walah!
Nah jaman SD
nggak ada yang namanya android-android’an. Toh saya dan teman-teman sepermainan
tetep asyik mengagendakan acara berikutnya. Kalau anak SD sekarang tinggal
kirim pesan di whats’up atau BBM, saya dulu harus datang kerumah teman dan
panggil-panggil namanya dari depan pagar “Dewiiiiii .. Dewiiiiii,” dengan teriakan
bernada naik turun dan i’nya panjanggg. Kalau anaknya lagi nggak ada dirumah,
ya udah pulang. Nanti datang lagi satu jam kemudian.
Jaman itu,
tampang saya nggak kayak perempuan. Udah kerempeng, trus rambut cepak hasil
olah eksperimen kakak lelaki saya. Jadi agak rancu ketika saya masuk SD dan
harus pake seragam merah-putih. Tapi tetep imut. Hari pertama masuk SD, saya
grogi dan gugup. Secara TK tempat saya mengampu ilmu tidak “memaksa”
murid-muridnya untuk bisa calistung. Kala TK, kami hanya keplok-keplok dan
makan siang. Berbeda dengan jaman sekarang, dimana anak TK sudah diajarkan
calistung. Mungkin anak saya nanti kalo TK bakal diajari rumus pitagoras saking
majunya pendidikan di negara kita.
Seminggu
setelah masa perkenalan anak baru SD usai, kami diminta untuk menulis. Dengan
tagline “Ini Ibu Budi”, Bu guru mendikte dan kami menulis. Beberapa anak sudah
bisa, kecuali saya. Merasa takut dimarahin Bu guru, sayapun menangis. Dan
kalimat menyejukkan dari si Bu guru adalah “Loh kok menangis, sudah enggakpapa.
Kalau belum bisa, kamu perhatikan dulu. Nanti pelan-pelan kamu pasti bisa,”
masih ingat betul saya kalimatnya.
Kejadian
malu-maluin lebih sering terjadi saat SD. Kebayang kan bagaimana anak-anak SD
kalau lagi kemping. Ada saat kami mendapat pelajaran panjat tebing (turun lewat
tali lebih tepatnya). Pas giliran saya turun pake tali, pas itu pula tali
menekan kandung kemih. Otomatis saya kebelet pipis. Sampai dibawah, saya
blingsatan cari toilet. Apesnya, sampai toilet kandung kemih udah keburu bocor.
Ngompol deh. Sekalian diguyur sebadan basah semuaaa.
Kegiatan-kegiatan
yang diadakan oleh SD saya lebih sering serunya. Beberapa bulan sekali (atau
setahun sekali saya lupa) kami se’sekolahan mengadakan acara masak masal. Kegiatan
yang selalu saya tunggu-tunggu. Satu kelas di bagi beberapa kelompok. Pada
suatu ketika, saya sekelompok sama anak lelaki yang jadi gebetan saya.
Cieeeeeee .. asmara anak SD (apa kabarnya si R itu ya, yang mukanya mirip Rano
Karno kecil). Saking groginya, masak sayur bening yang segampil itu jadi lupa
masukin garam sama kunci. Hambar!
Pernah suatu
kali di selasar lantai dua, tiba-tiba si gebetan menjejeri saya dan ikutan
melongok melihat kebawah. Waktu itu ada acara lomba antar kelas usai
caturwulan. Terus doi tanya ke saya “Rumah kamu dimana sih,” heiii heiiii
suaranya. Saya jawab “Rumahku di ndalem beteng,” lah kecil-kecil kok saya
deg-deg’an. “Ntar kapan-kapan main ya kerumahmu,” duileeeeeee senangnya bukan
main, tapi besoknya saya malah lupa kalau doi pengen main kerumah. Ketahuan
ngobrol serius, terus dicie-cieiiin sama teman-teman. Maluuuuuuu ...
Kejadian
paling memalukan sekaligus membahagiakan terjadi ketika pulang sekolah pas
kelas 6 SD. Kami harus berbaris rapi sebelum satu per satu bersalaman dengan
guru untuk pamitan pulang. Seperti biasa tas tentengan warna coklat saya taruh
meja dan akan saya ambil usai salaman karena berat. Enggak disangka si doi yang
ada di barisan depan melihat tas tentengan saya dan tanya punya siapa.
Sementara saya baris di deretan belakang. Alhasil melesaklah doi keluar kelas
usai salaman sambil bawa tas tentengan saya. Oleh teman sekelas diteriakin kalo
saya’nya masih didalam kelas. Doi cuma bilang “Oh sori aku pikir udah keluar
kelas, kan mau tak bawain,” lalu disorakin sekelas “Ciiieeeeeeeeeeeeeeeee ... “
walaaahhhh!!!! Dan saya’nya kege’eran.
Ah meskipun bikin
malu, tapi masa SD saya membahagiakan. Penuh khayalan dan imajinasi.
Atha Ajo, kenangan
Balada kaya yang miskin
Ibarat menikah kamu mau anaknya tapi enggak mau orang tuanya. Seperti itulah pengendara jaman sekarang. (nyambung nggak sih ..)
Sebetulnya
saya enggak paham tentang mesin kendaraan. Tapi saya paham tentang prosedur
perawatan mesin. Asal rajin servis berkala dan digunakan sesuai fungsinya,
kendaraan akan awet lama. Kalau minumnya bahan bakar spesial, ya saya akan
berikan yang spesial. Simpelnya seperti itu. Apalagi kalo kendaraan ini sering
buat bepergian jauh. Ogah dong kalo di beberapa bagiannya cepet aus karena
salah prosedur.
Tapi
sebetulnya ini bukan masalah prosedur saja. Tapi mental juga. Mental kere yang
cuma bisa beli mobil supermewah tapi minumnya murahan. (Bukannya ngenyek, tapi
saya jengah liat yang mewah mewah itu minumnya murahan) Udah murah, subsidi
lagi. Silahkan datang ke pom bensin, berapa banyak sih mobil-mobil keluaran
terbaru yang ngantreeee di slot pertamax. Dikit!! Malahan kadang kosong
melompong sementara antrean premium subsidi nguler sampe luar SPBU.
Setelah
saya punya motor baru (merk biasa dan nggak mihil) yang diciptakan untuk minum
pertamax, saya rajin membelikannya BBM pertamax. Selain memang rancangannya
untuk pertamax, logikanya kalo dirawat sesuai dengan peruntukannya maka usianya
akan lebih panjang dan awet. Alasan sebenarnya adalah saya gengsi beli premium
untuk motor baru yang masih kinyis-kinyis. Baru gitu loooohhh (meski gak mihil)
... sombong dikit. Kecuali kendaraan tua saya yang kalo diminumin pertamax bisa
njebluk, yaa terpaksa saya beliin premium.
Untungnya
pake pertamax, saya nggak perlu ngantree uwel-uwelan di SPBU. Masuk SPBU
langsung aja ngisi. Kibas rambut. Malesnya, saya sering mendapat tatapan sinis
dari pengantre-pengantre BBM bersubsidi. Cuek sih, cuma risih. Apalagi jika
disamping saya ada mobil mewah dan muahaaalll macam pajero atau kembarannya
yang ngisinya BBM subsidi. Ahh muke looo jauh mas. Mobilnya mahal, minumnya
subsidi. Kelaut aja sana. Emang saya suka ngenyek kalo ketemu yang beginian. Kalo
bisa beli mobil mahal, kenapa nggak mau beli pertamax?
Kata
mas dealer, standar kendaraan yang diluncurkan sekarang sudah harus memenuhi standar
Euro 4. Contohnya mobil, dimana asapnya tidak sepolutif mobil-mobil kakek dan
nenek. Intinya kendaraan-kendaraan yang ramah lingkungan. Jadi nanti tidak akan
ada lagi kendaraan yang ngeluarin asep putih yang memabukkan. Namun karena
kebanyakan masyarakat kita belum paham (baca = siap) apa itu standar Euro 4,
maka beberapa brosur kendaraan mencantumkan tagline “minum premium tidak
masalah,” (untuk mobil euro 4 nya). Demi meraih banyak pembeli.
Nggak
usah jauh-jauh bayangin pajero dan kembarannya, mobil LCGC (Low Cost Green Car)
saja diciptakan dengan standar euro 4. (Harusnya ...) Tapi katanya distribusi
bahan bakar yang memenuhi euro 4 (pertamax dan pertamax plus) belum tersebar
merata. Jadi standar ini belum bisa dipaksakan sepenuhnya. Tapi kenyataannya,
kendaraan-kendaraan euro 4 tetep aja dicekoki bahan bakar RON 88 (premium),
meski bahan bakar euro 4 tersedia dengan limpah. Mereka lebih milih ngantri RON
88 daripada ngisi pertamax yang antreannya kosong melompong.
Mengutip
Koran Jakarta Digital Edition (01 Maret 2014), New Honda Freed yang terpilih sebagai kendaraan berbahan bakar bensin
dengan kadar emisi terbersih versi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), kenyataannya
oleh pemilik kendaraan mobil ini tetap dicekoki oleh bahan bakar premium dengan
nilai oktan (RON) 88. Padahal mobil untuk segmen keluarga ini telah mengusung
standar Euro4, dan mesin IVTEC berkapasitas 1.500 cc yang seharusnya hanya
diisi oleh bahan bakar standar Pertamax ke atas dengan RON di atas 92.
Jadi
saya berbincang dengan Den Baguse. Jika suatu saat kami punya mobil baru,
apakah kami berani mengikuti aturan euro 4? Atau menyerah dan bebal dengan
mengkonsumsi RON 88. Kesimpulannya mau tidak mau harus ikuti aturan euro 4
karena udah berani beli mobil baru meski harganya terjangkau. Masak jilat ludah
sendiri. Getir dong ..
Salam Tempel
Atha Ajo
Rabu, 09 April 2014
Selamat datang Roaming Internasional : Menapaki Perbatasan Part 3
Selamat datang surga tetangga, Selamat datang roaming Internasional
Cerita soal perbatasan memang tak ada habisnya. Banyak yang saya alami selama di perbatasan Indonesia-Malaysia bagian utara. Mulai jalan poros utama yang bopeng sana sini hingga tak ada satupun traffic light. Wong jalannya saja lurus. Saya hanya menemukan satu simpang empat dan dua simpang tiga. Salah satu Babinsa yang menjaga patok batas tiga bercerita kalau duluu sekali dia pernah melihat ada ular segede meja dan mengembeekk. Hiii .. duh. Untung dulu. Tapi nggak tahu kalau sekarang, karena jelajah saya enggak sampai di perbatasan Malaysia atas yang rimbun dan sunyi senyap. Lalu ada cerita dari penduduk setempat tentang mitos hujan yang ogah turun di desa Aji Kuning. Desa dimana patok batas tiga tertancap. Katanya kalau ada perawan bunting, maka enggak bakalan turun hujan sampai diketahui siapa yang mbuntinging. Dan Desa Aji Kuning katanya sudah enggak hujan selama tiga bulan. Wah kebetulan. Padahal desa seberang hujan.
Di belakang patok batas tiga ini ada sungai kecil dan dermaganya. Biasanya digunakan oleh penduduk setempat untuk wira wiri ke kota Tawau Malaysia. Ya sekedar jalan-jalan atau kulakan bahan baku. Lah kok ke Malaysia kulakannya. Kulakan barang Indonesia jatuhnya lebih mahal. Lagian stok nya enggak ada. Jadi jangan anggap mereka tidak nasionalis hanya karena kulakan barang Malaysia. Pemerintah kita saja enggak bisa menjamin stok ketersediaan bahan baku di daerah perbatasan ini. Boro-boro pake produk dalam negeri, gas elpiji produk pertamina saja enggak ada. Yang ada produk gas elpiji dari Shell dan Petronas warna kuning. Menurut pengakuan warga setempat, tahun lalu pemerintah telah membagikan gratis kompor beserta gas elpiji pertamina isi 3 kg. Tapi jangan tanya kelanjutannya. Enggak ada. Gimana mau pakai, stok elpiji pertamina saja enggak terdistribusikan dengan baik dan benar. Bahkan jual beli lebih untung pake ringgit daripada rupiah. Untungnya pedagang masih mau terima rupiah saya. Ingat, enggak ada cerita ada penukaran uang disini.
Secara administratif sebetulnya saya sudah menginjakkan kaki di negeri Jiran tanpa pasport. Bangga dong. Bukan bangga karena negara tetangga, tapi bangga bisa menjejakkan kaki kiri di Malaysia dan kaki kanan di Indonesia. Macam rumah salah satu penduduk desa Aji Kuning yang dapurnya masuk Malaysia dan ruang tamunya masuk Indonesia. Enggak perlu foto di bawah menara Petronas. Selfie di tugu tapal batas pun sudah cukup dan lebih bermakna bagi saya. Apalagi warga setempat ramah-ramah kepada pendatang seperti saya. Hahaha .. saya kece kali yaaa.
Sesungguhnya citarasa perbatasan lebih terasa ketika saya sedang berada di desa sungai limau. Meski tidak seperti desa Aji Kuning yang ada patok batasnya, namun di desa sungai limaulah ponsel saya mendadak kena roaming internasional. Beginilah bunyi sms yang saya terima dari operator kartu yang saya pakai : "Plgn Yth, Anda roaming di Malaysia.Trf Telp ke Indonesia Rp.20 rb/mnt, SMS Rp.5 rb/SMS&Data Rp.909/10Kb(maks 150rb/hari).CS: +628110000333 (Gratis dari KartuHal*),". Waaaahhh selamat datang roaming internasional deh, padahal secara administratif saya masih di Indonesia. Pantes garis sinyal ponsel saya yang biasanya terpampang huruf H atau 3G berubah menjadi R, singkatan dari Roaming. Gumun. Langsung paket data saya matikan. Karena kata mas CR7 lokal, kalo nggak dimatiin bisa nyedot pulsa. Kenceng pula.
Karena letak desa sungai limau ini tinggi, saya bisa melihat kota Tawau Malaysia dengan gedung-gedung tingginya. Rasanya itu takjub tapi juga prihatin. Karena masyarakat disini bangga atas kewarganegaraannya tetapi tidak berdaya karena harus membeli bahan baku dari Malaysia. Nah tau sendiri kan kalau bahan baku Malaysia juga disubsidi oleh pemerintahannya. Jadi secara tidak langsung, masyarakat Indonesia disini juga menerima subsidi pemerintah Malaysia. Betapa ngenes. Di Jawa kita menghujat negara tetangga, tapi lihatlah di perbatasan. Siapa yang seharusnya malu. Hanya satu yang merajai disini, apalagi kalo bukan mie instan lokal dan rokok. Ya itu saja.
Jadi selama kita bangsa Indonesia masih meremehkan tanah sendiri, jangan harap deh apa yang kita miliki akan aman sentosa. Begh .. bahasanyaa. Tapi bener, enggak perlu menghujat dulu deh kalo kita sendiri belum bisa mengurus dan merawat yang kita miliki. Percuma. Ntar malah menjilat ludah sendiri. Iihh jijik kan.
Salam perbatasan
Atha Ajo
![]() |
| Ketika negara tetangga ada di balik tugu ini. |
Cerita soal perbatasan memang tak ada habisnya. Banyak yang saya alami selama di perbatasan Indonesia-Malaysia bagian utara. Mulai jalan poros utama yang bopeng sana sini hingga tak ada satupun traffic light. Wong jalannya saja lurus. Saya hanya menemukan satu simpang empat dan dua simpang tiga. Salah satu Babinsa yang menjaga patok batas tiga bercerita kalau duluu sekali dia pernah melihat ada ular segede meja dan mengembeekk. Hiii .. duh. Untung dulu. Tapi nggak tahu kalau sekarang, karena jelajah saya enggak sampai di perbatasan Malaysia atas yang rimbun dan sunyi senyap. Lalu ada cerita dari penduduk setempat tentang mitos hujan yang ogah turun di desa Aji Kuning. Desa dimana patok batas tiga tertancap. Katanya kalau ada perawan bunting, maka enggak bakalan turun hujan sampai diketahui siapa yang mbuntinging. Dan Desa Aji Kuning katanya sudah enggak hujan selama tiga bulan. Wah kebetulan. Padahal desa seberang hujan.
Di belakang patok batas tiga ini ada sungai kecil dan dermaganya. Biasanya digunakan oleh penduduk setempat untuk wira wiri ke kota Tawau Malaysia. Ya sekedar jalan-jalan atau kulakan bahan baku. Lah kok ke Malaysia kulakannya. Kulakan barang Indonesia jatuhnya lebih mahal. Lagian stok nya enggak ada. Jadi jangan anggap mereka tidak nasionalis hanya karena kulakan barang Malaysia. Pemerintah kita saja enggak bisa menjamin stok ketersediaan bahan baku di daerah perbatasan ini. Boro-boro pake produk dalam negeri, gas elpiji produk pertamina saja enggak ada. Yang ada produk gas elpiji dari Shell dan Petronas warna kuning. Menurut pengakuan warga setempat, tahun lalu pemerintah telah membagikan gratis kompor beserta gas elpiji pertamina isi 3 kg. Tapi jangan tanya kelanjutannya. Enggak ada. Gimana mau pakai, stok elpiji pertamina saja enggak terdistribusikan dengan baik dan benar. Bahkan jual beli lebih untung pake ringgit daripada rupiah. Untungnya pedagang masih mau terima rupiah saya. Ingat, enggak ada cerita ada penukaran uang disini.
Secara administratif sebetulnya saya sudah menginjakkan kaki di negeri Jiran tanpa pasport. Bangga dong. Bukan bangga karena negara tetangga, tapi bangga bisa menjejakkan kaki kiri di Malaysia dan kaki kanan di Indonesia. Macam rumah salah satu penduduk desa Aji Kuning yang dapurnya masuk Malaysia dan ruang tamunya masuk Indonesia. Enggak perlu foto di bawah menara Petronas. Selfie di tugu tapal batas pun sudah cukup dan lebih bermakna bagi saya. Apalagi warga setempat ramah-ramah kepada pendatang seperti saya. Hahaha .. saya kece kali yaaa.
Sesungguhnya citarasa perbatasan lebih terasa ketika saya sedang berada di desa sungai limau. Meski tidak seperti desa Aji Kuning yang ada patok batasnya, namun di desa sungai limaulah ponsel saya mendadak kena roaming internasional. Beginilah bunyi sms yang saya terima dari operator kartu yang saya pakai : "Plgn Yth, Anda roaming di Malaysia.Trf Telp ke Indonesia Rp.20 rb/mnt, SMS Rp.5 rb/SMS&Data Rp.909/10Kb(maks 150rb/hari).CS: +628110000333 (Gratis dari KartuHal*),". Waaaahhh selamat datang roaming internasional deh, padahal secara administratif saya masih di Indonesia. Pantes garis sinyal ponsel saya yang biasanya terpampang huruf H atau 3G berubah menjadi R, singkatan dari Roaming. Gumun. Langsung paket data saya matikan. Karena kata mas CR7 lokal, kalo nggak dimatiin bisa nyedot pulsa. Kenceng pula.
Karena letak desa sungai limau ini tinggi, saya bisa melihat kota Tawau Malaysia dengan gedung-gedung tingginya. Rasanya itu takjub tapi juga prihatin. Karena masyarakat disini bangga atas kewarganegaraannya tetapi tidak berdaya karena harus membeli bahan baku dari Malaysia. Nah tau sendiri kan kalau bahan baku Malaysia juga disubsidi oleh pemerintahannya. Jadi secara tidak langsung, masyarakat Indonesia disini juga menerima subsidi pemerintah Malaysia. Betapa ngenes. Di Jawa kita menghujat negara tetangga, tapi lihatlah di perbatasan. Siapa yang seharusnya malu. Hanya satu yang merajai disini, apalagi kalo bukan mie instan lokal dan rokok. Ya itu saja.
Jadi selama kita bangsa Indonesia masih meremehkan tanah sendiri, jangan harap deh apa yang kita miliki akan aman sentosa. Begh .. bahasanyaa. Tapi bener, enggak perlu menghujat dulu deh kalo kita sendiri belum bisa mengurus dan merawat yang kita miliki. Percuma. Ntar malah menjilat ludah sendiri. Iihh jijik kan.
![]() |
| Selfie dulu. |
Salam perbatasan
Atha Ajo
![]() |
| Selfie lagi, mumpung sepi. |
Dan saya bertemu Enrique Iglesias lokal : Menapaki Perbatasan Part 2
"Saya takjub bertemu Enrique Iglesias lokal"
Jalan-jalan saya kali ini terasa spesial. Bukan karena obyek wisatanya, tetapi karena sosial masyarakatnya. Obyek wisata yang mudah diakses hanya satu yakni pantai batu lamampu. Kata pak Camat ada beberapa akses menuju pantai ini. Kebetulan saya menggunakan jalan masuk yang setengahnya hanya bisa di akses sepeda motor. Thimik-thimik. Ya biasa saja. Cuma ada batu karang seperti pulau yang menonjol di bibir pantai. Kalau pasang, katanya batu itu ikutan naik. Enggak bisa berjemur, apalagi renang.
Luas Sebatik Indonesia yang tak lebih dari 250 Km persegi ini sekali jalan bisa ditempuh 3 jam. Setidaknya saya sudah setengah mengelilinginya dengan motor. Biasanya jika ke suatu daerah, saya akan takjub akan obyek wisatanya. Disini saya cukup takjub meski hanya menikmatinya diatas motor. Berbekal informasi dari penduduk lokal yang berdomisili di pusat keramaian Sebatik Indonesia, saya berkendara selama dua jam menuju air terjun tujuh tingkat Mantikas di desa Mantikas, sebatik barat. Sebetulnya ada dua air terjun yakni air terjun Mantikas dan air terjun Lampio. Hanya saja akses air terjun lampio sedang dalam perbaikan.
Ternyata menuju air terjun Mantikas ini juga tidak mudah sodara-sodara. Akses jalan utama yang naik-naik ke puncak gunung dan mendadak turun terjal dengan kondisi aspal di beberapa bagian yang mengelupas dan berkerikil, membuat saya tak berani ngebut. Semakin sulit karena tidak ada petunjuk jalan. Apalagi penduduk di desa yang kami lewati ternyata juga tidak tahu dimana letak air terjun mantikas itu. Yah sudahlah, yang penting nekat. Dan kamipun menemukan desa mantikas. Baru deh penduduk sini tahu dimana letak air terjun mantikas itu. Salah satu wanita paruh baya menunjukkan jalan setapak menuju air terjun mantikas. Kami disuruh berhenti di depan sebuah rumah panggung. Dan katanya air terjun ada dibalik rumah itu. Horeeee dong bisa mandi mandiiii.
Segera setelah memarkir motor didepan rumah panggung yang ditunjuk, saya langsung mencari tanda-tanda keberadaan air terjun. Oleh seorang bapak-bapak, air terjun mantikas memang berada di balik rumah panggung itu. Namun ada tetapinya .. untuk menuju kesana harus jalan kaki 2 km karena air terjunnya ada di balik bukit yang kebetulan bukitnya ada beberapa ratus meter di belakang rumah panggung itu. Dan gede bukitnya enggak main-main. Gelooooooooo ... ngemeng dari tadi. Dua kilometer dengan jalan yang terjal seperti itu butuh waktu pulang pergi lima jam. Yasudah batal. Sayapun balik badan. Meskipun batal menikmati air terjun tujuh tingkat, saya tetap merasa antusias dengan perjalanan kemari. Jarang-jarang saya lihat kebun kelapa sawit dari dekat. Pemandangannya juga cukup spektakuler dari atas.
Berkendara menuju sebatik barat pun juga tidak kalah menantang. Puncak bukitnya lebih tinggi. Saking tingginya, saat berkendara ke puncak yang tertinggi, saya bisa melihat kota Tawau Malaysia di seberang pulau. Di desa sungai limau ini, saya bertemu etnis suku yang berbeda. Saya berasa sedang berada di Indonesia bagian timur. Nah usut punya usut warga disini merupakan pendatang dari flores. Dan disinilah saya bertemu dengan Enrique Iglesias lokal lengkap dengan tahi lalat di samping hidungnya. Kalo yang asli kan masih muda, nah yang ini sudah agak mature. Karena saya ngliat mas Enrique lokalnya sampai takjub, saya jadi dikedip-kedipin sama mata mas'nya yang sendu-sendu melo. Idiiiiihhh mas nya genit. Sayangnya saya enggak berani foto takut mas nya salah paham. Yah buktinya cukup di ingatan saya saja deh. Kalo dipoles, enggak jauh beda kok sama orang puerto rico. Pemandu kami yang masih muda dan penduduk setempat juga bernasib sama. Sak plinthengan mirip-mirip pemain sepakbola asal Portugal CR7 dengan versi kurus. Kalo siang kerja jadi kaur pemerintahan, sorenya sudah jadi anak muda gawul. Pulangnya saya dibawain mangga gede banget. Wahhh lumayan.
Nah terus kalo para penduduk ini mau hiburan gimana dong. Enggak ada mall. Ya nggak usah nanya mall disini. Mereka bisa asik-asik sendiri. Enggak ada android juga nggak mati gaya, karena sinyal Indonesia susah di desa ini. Jika ke pusat keramaiannya, warga setempat juga cuma nongkrong di teras rumahnya sambil main kartu. Baru deh ada triping tekjing tekjing musik disco jika ada kawinan. Yang saya amati, setelah resepsi berlangsung, malamnya langsung ada disco opendoor. Heboh deh soundsystemnya.
Nggak ada mall, mereka nggak bakal mati gaya. Dan sayapun menjelajah sepanjang 105 kilometer hari itu. Kalo pas berkunjung kesini, lebih baik sewa motor karena keindahan alamnya lebih nikmat jika dinikmati diatas motor. Kita bisa jelajah kemana saja, karena selain sepi, enggak ada lampu merah disini.
Salam 105 kilometer
Atha Ajo
Jalan-jalan saya kali ini terasa spesial. Bukan karena obyek wisatanya, tetapi karena sosial masyarakatnya. Obyek wisata yang mudah diakses hanya satu yakni pantai batu lamampu. Kata pak Camat ada beberapa akses menuju pantai ini. Kebetulan saya menggunakan jalan masuk yang setengahnya hanya bisa di akses sepeda motor. Thimik-thimik. Ya biasa saja. Cuma ada batu karang seperti pulau yang menonjol di bibir pantai. Kalau pasang, katanya batu itu ikutan naik. Enggak bisa berjemur, apalagi renang.
Luas Sebatik Indonesia yang tak lebih dari 250 Km persegi ini sekali jalan bisa ditempuh 3 jam. Setidaknya saya sudah setengah mengelilinginya dengan motor. Biasanya jika ke suatu daerah, saya akan takjub akan obyek wisatanya. Disini saya cukup takjub meski hanya menikmatinya diatas motor. Berbekal informasi dari penduduk lokal yang berdomisili di pusat keramaian Sebatik Indonesia, saya berkendara selama dua jam menuju air terjun tujuh tingkat Mantikas di desa Mantikas, sebatik barat. Sebetulnya ada dua air terjun yakni air terjun Mantikas dan air terjun Lampio. Hanya saja akses air terjun lampio sedang dalam perbaikan.
Ternyata menuju air terjun Mantikas ini juga tidak mudah sodara-sodara. Akses jalan utama yang naik-naik ke puncak gunung dan mendadak turun terjal dengan kondisi aspal di beberapa bagian yang mengelupas dan berkerikil, membuat saya tak berani ngebut. Semakin sulit karena tidak ada petunjuk jalan. Apalagi penduduk di desa yang kami lewati ternyata juga tidak tahu dimana letak air terjun mantikas itu. Yah sudahlah, yang penting nekat. Dan kamipun menemukan desa mantikas. Baru deh penduduk sini tahu dimana letak air terjun mantikas itu. Salah satu wanita paruh baya menunjukkan jalan setapak menuju air terjun mantikas. Kami disuruh berhenti di depan sebuah rumah panggung. Dan katanya air terjun ada dibalik rumah itu. Horeeee dong bisa mandi mandiiii.
Segera setelah memarkir motor didepan rumah panggung yang ditunjuk, saya langsung mencari tanda-tanda keberadaan air terjun. Oleh seorang bapak-bapak, air terjun mantikas memang berada di balik rumah panggung itu. Namun ada tetapinya .. untuk menuju kesana harus jalan kaki 2 km karena air terjunnya ada di balik bukit yang kebetulan bukitnya ada beberapa ratus meter di belakang rumah panggung itu. Dan gede bukitnya enggak main-main. Gelooooooooo ... ngemeng dari tadi. Dua kilometer dengan jalan yang terjal seperti itu butuh waktu pulang pergi lima jam. Yasudah batal. Sayapun balik badan. Meskipun batal menikmati air terjun tujuh tingkat, saya tetap merasa antusias dengan perjalanan kemari. Jarang-jarang saya lihat kebun kelapa sawit dari dekat. Pemandangannya juga cukup spektakuler dari atas.
Berkendara menuju sebatik barat pun juga tidak kalah menantang. Puncak bukitnya lebih tinggi. Saking tingginya, saat berkendara ke puncak yang tertinggi, saya bisa melihat kota Tawau Malaysia di seberang pulau. Di desa sungai limau ini, saya bertemu etnis suku yang berbeda. Saya berasa sedang berada di Indonesia bagian timur. Nah usut punya usut warga disini merupakan pendatang dari flores. Dan disinilah saya bertemu dengan Enrique Iglesias lokal lengkap dengan tahi lalat di samping hidungnya. Kalo yang asli kan masih muda, nah yang ini sudah agak mature. Karena saya ngliat mas Enrique lokalnya sampai takjub, saya jadi dikedip-kedipin sama mata mas'nya yang sendu-sendu melo. Idiiiiihhh mas nya genit. Sayangnya saya enggak berani foto takut mas nya salah paham. Yah buktinya cukup di ingatan saya saja deh. Kalo dipoles, enggak jauh beda kok sama orang puerto rico. Pemandu kami yang masih muda dan penduduk setempat juga bernasib sama. Sak plinthengan mirip-mirip pemain sepakbola asal Portugal CR7 dengan versi kurus. Kalo siang kerja jadi kaur pemerintahan, sorenya sudah jadi anak muda gawul. Pulangnya saya dibawain mangga gede banget. Wahhh lumayan.
Nah terus kalo para penduduk ini mau hiburan gimana dong. Enggak ada mall. Ya nggak usah nanya mall disini. Mereka bisa asik-asik sendiri. Enggak ada android juga nggak mati gaya, karena sinyal Indonesia susah di desa ini. Jika ke pusat keramaiannya, warga setempat juga cuma nongkrong di teras rumahnya sambil main kartu. Baru deh ada triping tekjing tekjing musik disco jika ada kawinan. Yang saya amati, setelah resepsi berlangsung, malamnya langsung ada disco opendoor. Heboh deh soundsystemnya.
Nggak ada mall, mereka nggak bakal mati gaya. Dan sayapun menjelajah sepanjang 105 kilometer hari itu. Kalo pas berkunjung kesini, lebih baik sewa motor karena keindahan alamnya lebih nikmat jika dinikmati diatas motor. Kita bisa jelajah kemana saja, karena selain sepi, enggak ada lampu merah disini.
![]() |
| Agak ser-ser'an pas melaju turun. |
Salam 105 kilometer
Atha Ajo
Langganan:
Postingan (Atom)



