Translate

Sabtu, 28 September 2013

Menjamah Surga Segara ~Part II~

Bergumul dengan pasang


Jadi bagaimana? Sudah mempertimbangkan akan bertamasya ke beberapa pulau yang sudah saya ceritakan sebelumnya? Derawan-Kakaban-Sangalaki. Belum? Kalau begitu nikmati saja dulu foto-foto yang saya unggah, setelah itu mimpikan di alam tidurmu. Atau pasang foto yang saya unggah untuk wallpaper sebagai penyemangat sembari kalian menabung untuk tamasya ke tempat-tempat ini. 

Kakaban Island. Pulau tak berpenghuni. Habitat kedua di dunia ubur-ubur tanpa sengat.

Mendatangi beberapa pulau ini memang tidak mudah, seperti yang saya ceritakan di artikel sebelumnya Menjamah Surga Segara Part I. Tapi menikmati ketiga pulau ini juga membutuhkan perjuangan yang tak kalah hebat. Enggak horeeeee. Apalagi karena tujuan awalnya bukan untuk liburan. Jadi waktu yang saya punya untuk menikmati keindahan alam ini hanya sebentar saja.

Praktis kalau dihitung, saya hanya memiliki waktu kurang dari 24 jam untuk mendatangi ketiga pulau ini. Horee nggak hore tetap nikmati. Sampai di pelabuhan Tanjung Batu Kabupaten Berau kalimantan Timur, saya langsung berdiskusi dengan mas motoris (yang kebetulan mencontek gaya berpakaian Andika Kangen Band). Kala itu waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 Wita. Perjalanan pertama menuju Pulau Kakaban selama satu jam menggunakan speed boat. 

Menuju pulau yang dihuni ubur-ubur tanpa sengat ini, kami harus melewati pulau Derawan dulu. Karena kondisi ombak kala itu sedang tinggi, speed boat yang kami naiki agak tertatih-tatih jalannya. Kebayang dong gimana rasanya naik roller coaster selama satu jam di air. Penuh tantangan sih iya, tapi kasihan punggung. 


Dermaga Pulau Kakaban

Perjalanan yang mengoyak perut itu akhirnya terobati. Saya melongok melihat air dibawah saat speed boat pelan-pelan menepi ke dermaga. Ada Patrick dan kawan-kawannya, minus Spongebob. Ini adalah kolam renang "alam" terbaik yang pernah saya jelajahi. "Mas cepetan dikit .." kata saya tak sabar. "Iya neng .. sabaran sedikit," jawab Masnya. Ada beberapa hal yang membuat saya bahagia ketika menceburkan diri saya ke kolam maha luas ini. Yang jelas sepi pengunjung. Hanya ada satu keluarga bule yang ikut bercengkerama dengan si Patrick. Pakai bikini? Ah sudah biasa disini. Agak-agak seram karena saya juga sempat bertemu dengan ular laut ukuran kecil.

Tak sabar untuk melihat habitat ubur-ubur tanpa sengat, saya langsung masuk ke pulau. tahu nggak, Pulau Kakaban ini merupakan habitat kedua di dunia ubur-ubur tanpa sengat. Hanya ada dua di dunia, salah satunya di kakaban ini dan yang kedua ada di Pulau Palau Mikronesia. Bangga doooonnngggggggg bisa nyemplung di danau yang terbentuk sekitar 12.000 tahun.  Jika dilihat dari atas, pulau kakaban ini seperti donat lonjong. Ini pertama kalinya dalam hidup saya memegang ubur-ubur. Kalian belum pernah kan?? Nyahahahahahahah .. sombong.

Jalan setapak dari kayu menuju danau di tengah-tengah pulau.



Karena hanya saya dan suami yang menikmati danau ubur-ubur ini waktu itu, saya sempat takut dan ngeri untuk nyemplung. Kebayang dong ketika nyemplung terus tiba-tiba muncul lockness .. nyahahaha ngayal. Kita kan nggak tahu apa yang tersembunyi di tengah danau selama 12.000 tahun selain ubur-ubur tanpa sengat. Yang jelas saya berasa ngeri ketika mencoba berenang di danau ini .. hiiiiiii. Selain agak buthek, danau ini berdinding hutan bakau. Saya harus berjalan beberapa puluh meter melewati hutan bakau untuk menuju kolam renang air payau ini. Jadi untuk berkenalan dengan ubur-ubur orange ini, saya terpaksa mengandalkan pelampung dan ban penyelamat serta tak lupa menggenggam erat-erat dek kayu. 

Biasanya snorkler dan diver menyempatkan kesini untuk melihat ubur-ubur tanpa sengat.

Meskipun sudah pakai pelampung, saya masih ngeri.

Yaaaaaaaa cuma begini doang akhirnya liat si ubur-ubur orange. Tuh ada dua ubur-ubur yang mendekat.

Santai dulu sebelum melanjutkan perjalan ke Pulau Sangalaki. Pulau yang sering disinggahi oleh penyu untuk bertelur.

Karena waktu sudah semakin sore, maka saya mempercepat aktivitas renang saya. Tak jauh ternyata jarak pulau sangalaki dari kakaban. Kami hanya menempuh waktu 30 menit.

Siap-siap.


 Di pulau Sangalaki saya bertemu dengan mas-mas penjaga penyu. Mereka bertugas menjaga telur-telur penyu sampai menetas. Tau sendiri kan, telur-telur penyu sering beredar di pasar. Lagi-lagi sepi. Berasa pulau pribadi, berasa selebriti Hollywood. Sayangnya "fasilitas" di pulau ini terbengkelai. Ada beberapa pondokan dan ruang ~yang-bisa-dipakai-untuk-pertemuan~ nganggur. Katanya beberapa pondokan itu milik ekspatriat yang dulu disewakan.

Di belakang saya itu adalah pondokan yang katanya dulu disewakan. Tapi karena suatu hal, pondokan itu sekarang sudah tidak berfungsi. Sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan.

Add caption





Sayangnya saya tidak bisa berlama-lama di pulau ini karena harus bermalam di Pulau Derawan. Saya menginap di rumah penduduk yang lebih murah. Semakin nikmat karena makan malam, dan makan siang serta sarapan sudah disediakan oleh si pemilik penginapan. Nyamleng!!!
Pulau Derawan memang lebih ramai. Setelah saya amati, ternyata lebih banyak turis mancanegara ketimbang turis lokal. Kehidupan malam di pulau ini tak berbeda dengan Kuta bali. Hanya lebih sepi. Saya mikir, terus gimana ceritanya kalau mau ke Mall. Yaelaaahhhh .... tapi ngomong-ngomong, nggak ada ATM loh disini. Kalo mau ke ATM, harus naek kapal se-jam terus perjalanan darat kurang lebih 3 jam. Jadi kalau mau beli oleh-oleh disini harus bijak. Karena ada cukup banyak toko oleh-oleh. Dan saya yakin yang datang dimari nggak cuma beli selembar dua lembar kaos, tapi berlembar-lembar.

Pesawat untuk kembali ke balikpapan dijadwalkan pukul 15.00 Wita. Dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran yang matang, maka saya harus berangkat dari pelabuhan tanjung batu maksimal pukul 12.00 Wita. Paling tidak dari derawan harus pukul 11.00 Wita. Saya hanya punya waktu 3 jam mulai pukul 08.00 - 10.30 wita untuk menikmati keindahan bawah laut derawan. Yang saya lupa adalah, air laut surut setelah pukul 10.00 Wita. Alamaaaaakkkkk ... dada ini deg-deg'an sesak dan perih menerima fakta bahwa air laut masih pasang ketika saya meratapinya di dermaga penyelaman.

Menunggu pasang surut sembari melihat penyu-penyu seliweran di bawah dermaga.

Tik .. tok .. tik .. tok ... ini yang menarik. Mendekati pukul 10.00 wita, air laut belum surut sesuai dengan keinginan. "Udah yuk .. nyemplung aja yuk," ajak suami. "Eh gila .. kan masih pasang. Noh liat masih ada ombak-ombak mungil," jawab saya. "Halaahhh nggak papa ... pegangan aja ma dek," ajaknya. Akhirnyaaaaa saya nekat meski air laut masih pasanggg. Takut?? Iyaaaaaa ... Penasaran?? Iyaaa jugaaaa. Tapi nggak papa .. yang penting bisa liat si biru dan si loreng-loreng. Jadi deh saya bergumul dengan pasang demi melihat ikan-ikan lucu dan setumpukan terumbu karang. Yang jelas, saya pasti akan kemari lagi. Tinggal menunggu kesempatan.

Takut-takut nekat kalau ini. Padahal kalau lagi surut, benar-benar dangkal.





Kamis, 05 September 2013

Menjamah Rimba Segara ~ Part I ~

Berlabuh ke Surga Kecil Dunia 


Jika kalian takut menjadi hitam, maka saya sarankan kalian tak perlu repot datang ke daerah yang akan saya ceritakan ini. Namun jika kalian bersedia mengorbankan keindahan kulit cemerlang kalian yang seindah iklan sabun colek, maka surga Kecil ini wajib dikunjungi. 

Kenapa? Pertama, lokasi yang akan saya ceritakan ini berada tak jauh dari garis khatulistiwa. Kedua, Surga Kecil ini dikelilingi lautan. Jelas dong perpaduan dua faktor ini akan cepat membuat kulit kita menghitam. Buang jauh-jauh deh harapan kulit tetap putih walau pakai sunblok. Toh produk ini hanya untuk melindungi kulit dari efek negatif ultraviolet penyebab kanker kulit. Jadi bersyukur dooooooooong kita orang Indonesia dikaruniai kulit sawo matang yang penetrasi kanker kulitnya tak sedahsyat kulit milik orang kaukasia.



Me turning black setelah berenang dengan penuh kecemasan karena di lokasi ini hanya berdua dengan suami. Pulau kakaban pukul 15.00 WITA.

Terus terang saya tidak tahu perwujudan Surga yang sebenarnya. Namun saya menginterpretasi Surga sebagai tempat yang akan membuat saya tenang secara batiniah .. nyahahaha (Ya iyalahh .. wong kemarinya separoh dana ada instansi yang nanggung, siapa yang enggak tenang secara batiniah).

Akhirnya mimpi dua tahun untuk berlabuh di tiga Surga kecil dunia ini terwujud juga. Saya sukses menjejakkan kaki saya dan bergumul dengan ikan-ikan di pulau Derawan, Pulau Sangalaki dan Pulau Kakaban Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Ternyata "Surga" itu tidak murah kawan. Nunduk. Banyak bule loh dimari, pake bikini. (Sepulang dari sini langsung rajin olahraga sit-up biar bisa pake setelan yang dipake si mbak-mbak bule itu).

Menuju ke destinasi wisata ini, memang butuh perjuangan. Tips dari saya adalah carilah kesempatan dalam kesempitan. Bagaimana caranya? Carilah tebengan atau carilah instansi yang sedang khilaf untuk membiayai perjalanan kalian. Atau bekerjalah minimal di Kabupaten berau, niscaya kalian akan dimudahkan untuk menikmati Surga-surga kecil itu .. haha. Jangan pernah pergi sendiri atau hanya berdua. Ini bukan soal keamanan, tapi karena biaya yang dikeluarkan akan sangat banyak kecuali kalian kaya raya. Jika kalian ingin berbiaya ringan, pergilah berkelompok. Masalah biaya bisa patungan dengan kelompok.

Domisili saya dan suami di Balikpapan cukup menguntungkan. Setidaknya memangkas rantai biaya perjalanan dari pulau Jawa. Bangga doooong saya pernah ke tempat-tempat ini sementara tetangga-tetangga individu saya yang kaya raya itu belum pernah menginjakkan kakinya. Ehm .. kibas rambut !!! Dari Balikpapan saya menggunakan pesawat kecil berpenumpang 55-60 orang, Kalstar, dengan tiket seharga Rp577.000.-. Ada beberapa pesawat yang melayani rute Balikpapan-Berau dengan kisaran harga Rp400.000 - Rp800.000. 



"Pose dulu"


Sesampainya di Bandara Kalimarau Kabupaten Berau dengan jarak tempuh kurang dari satu jam, perjalan menuju tempat impian masih jauh ternyata. Ada beberapa opsi kendaraan menuju pelabuhan Tanjung Batu. Kita bisa menggunakan kendaraan sewa bandara atau sewa umum. Saya tidak tahu persis berapa tarif mobil bandara untuk mengantar sejauh 90'an Km (kira-kira tiga jam) menuju pelabuhan ini. Setidaknya jika sewa mobil umum plus sopirnya ditarik Rp700.000, kemungkinan tarif mobil bandara tak jauh beda. Kaget? Ya iyalaahhh ... Indonesia gitu. 

Sebetulnya bisa lewat jalan darat dari Balikpapan - Berau dengan jarak 650 Km (hampir sama dengan jarak Jogja-Jakarta), lebih murah malah nggak ada macet. Tapiiiiii .. jalannya itu loh, hanya separuhnya yang layak. Inipun harus menggunakan mobil kapasitas 4WD. Gampang? Jangan senang dulu. Jalan layak (beraspal) hanya sejauh 280 Km dari Balikpapan-Sangatta dan beberapa Km mendekati Kabupaten Berau. Jika menggunakan sedan, mobil ini hanya bisa melaju sampai Kota Samarinda yang berjarak 120 Km. 

Waktu tempuhpun juga tak main-main karena bisa mencapai 24 jam, itupun jika cuaca sedang cerah. Nah jika hujan tiba, bahkan mobil 4WD tak bisa berkutik. Kenapa? Karena sebagian besar jalan utama dan satu-satunya masih berupa tanah yang hanya membuat ban 4WD berputar di tempat dan terseok-seok kalau basah. Sedih kan. Itu belum seberapa jika belum ketemu jebakan tanah berlumpur. Ini adalah sebuah lubang lumpur basah yang akan memerangkap kendaraan bahkan truk sekalipun hingga nasib mempertemukannya dengan kendaraan lain yang baik hati untuk menariknya keluar.


Ruas jalan Tanjung Selor Kabupaten Bulungan - Tanjung Redeb Kabupaten Berau. Jangan tertipu dengan foto ini, kalau hujan kondisi jalan licin. Kondisi ini masih skala ringan.

Jadi sebelum mengkhayal untuk rela menempuh jalan darat ala goyang Inul, mantabkan hati dan mental terlebih dahulu. Atau tunggulah pemerintah daerah untuk membangun jalan yang layak. Tuh .. masak iya kalah sama negara tetangga. 

Sampai di pelabuhan Tanjung Batu Kabupaten Berau, saya masih harus mencari speedboat untuk mengantar ke pulau Derawan sebagai tujuan pertama. Nah sampai disini kita harus jeli menawar. Jangan sampai deh kita setuju tarif yang ditetapkan si mas motoris (pengemudi speedboat, kebetulan yang mengantar saya setipe dengan Kangen Band .. Aduhai). 

Tarif yang dipasang sungguh bisa menguras kocek. Saya ditawari speedboat untuk keliling empat pulau (Derawan-Kakaban-Sangalaki-Maratua) dengan tarif Rp3,5 juta. Alamaaaaakkkkk ... itu duit semua atau daun. Setelah rayu sana-sini maka tarif bisa diturunkan menjadi Rp1,7 juta. Tapi karena saya hanya bisa menjamah tiga pulau maka biayanya hanya Rp1,2 juta antar jemput. Bayar belakangan. Ingat .. usahakan membawa uang kas yang memadahi karena daerah ini tak mengenal ATM. Mesin anjungan ini hanya ada di Tanjung Redeb yang jaraknya 90 Km dari pelabuhan Tanjung Batu. 

Menunggu si mas motoris nyiapin kapal. Butuh sekitar 50 liter bensin. Beli bensin eceran dengan harga per liter Rp8.000,- (harga sebelum BBM naik).

   
Horeeeeee dong .. karena cuaca waktu itu cerah dan ombak sedang bersahabat. Menumpang speedboat serasa naik roller coaster. Ada satu jam menuju Pulau Derawan. Saya tak henti-hentinya tersenyum .. dan suami tak henti-hentinya gondok karena tahu saya dalam suasana liburan dan dia bekerja .. nyahahahaha. Lalu jangan lupa untuk mencari informasi penginapan murah di Pulau Derawan. Jika ingin liburan ala Paris Hilton, kalian bisa sewa penginapan yang letaknya persis di bibir pantai. Enggak perlu ditanya harganya. Kalau mau murah, menginap saja di rumah warga yang menyewakan kamarnya. Per malam paling Rp150.000. 


Keliatannya sih air lautnya tenang, tapi giliran naik speedboat ... widiiwww langsung "sudukken"

Pengen langsung nyemplung karena bening. Cuma masak iya harus ganti pakaian di kapal.




  

Salam Segara,
6 September 2013
Di dalam khayalan kembali kesana
Berau ~ Tempat yang dilalui garis khatulistiwa
Panasnya nyong .. minta ampun

Minggu, 01 September 2013

ATM Gadungan

Ternyata tahu segalanya itu tidaklah cukup. Saya menyadari bahwa tahu segalanya LEBIH AWAL itu akan menyelamatkan jiwa raga dari situasi memalukan. Jangan bertindak bodoh dengan masa bodoh. Jangan pula menggampangkan instingmu karena itu sejatinya belum cukup. Dan jangan seperti saya yang sok tahu dan kepedean tanpa melihat kanan kiri depan belakang atas apa yang akan terjadi. 

Sebagai manusia yang selalu membaca apa saja, saya menganggap diri saya penuh dengan informasi dan pengetahuan... cuiiihhhh. Nah ini yang menjadi masalah. Apa yang saya tahu ternyata tidak berbanding lurus dengan tindakan yang akan saya ambil. Ah saya lantas merasa memble.

Saya menyadari ini ketika untuk pertama kalinya saya memiliki kartu seukuran KTP yang berfungsi untuk mengambil uang dengan cepat, Anjungan Tunai Mandiri atau bahasa kerennya ATM. Bangga dong punya kartu beginian meski dana yang tersimpan di bawah rata-rata. Namun tiap lihat saldonya, hati ini rasanya teriris-iris. Angka kok nggak pernah nyampe tujuh digit. Terus kalo diambil, keblokir deh rekeningnya. Pedih .. cuma berasa keren aja kalo pas buka dompet di kasir trus mejeng ATM di salah satu kantongnya.

Saya tahu apa itu ATM. Saya juga tahu gunanya untuk apa. Untuk mengambil uang kan? Sejujurnya, saya memiliki ATM itu karena terpaksa. Iya .. terpaksa untuk menerima honor dari berita-berita yang saya kirimkan ke Jurnal Bussines News. Iya doong .. kala itu saya menjadi kontributor berita ekonomi untuk jurnal yang pernah nongol sebagai cameo di sinetron ibukota.

Tapi pengetahuan saya tentang ATM ternyata masih dangkal. Ini yang menjadi bencana bagi harga diri saya yang terlanjur mengklaim diri sendiri sebagai manusia yang sarat informasi. Honor yang saya terima untuk pertama kali memang hanya beberapa ratus ribu. Namun ketika saya ditelepon bahwa honor saya sudah ditransfer ke rekening, saya langsung tancap gas ke salah satu Bank swasta untuk menguji ATM saya. Horeeeee dong.

Agak udik karena saya sempat deg-deg'an. Apalagi ini menjadi pengalaman pertama saya untuk mengambil uang lewat ATM .. mengkhayal habis ini mau beli apa. Berbekal informasi dari kakak tentang tata cara mengambil uang dari mesin ATM, saya pun melangkah dengan mantab ke dalam gedung Bank swasta yang ramai itu. Banyak yang mengantre di teller.  Tapi tak sedikit yang mengantre di sebuah mesin yang diatasnya ada tulisan besar ATM. Saya pernah melihat kawan saya mengambil uang melalui ATM, jadi saya tahu bentuk mesin ATM itu seperti apa.

Lalu giliran saya berhadapan dengan mesin itu. Saya lantas memasukkan kartu saya sesuai arah yang ditentukan. Lalu muncul perintah untuk mengetikkan sandi agar saya bisa masuk ke rekening. Selanjutnya ada daftar pecahan rupiah dari Rp50.000,- hingga jutaan. Karena saya hanya butuh sedikit, maka saya hanya memilih jumlah Rp100.000,- untuk membeli bedhak. Setelah saya tunggu lama, uang yang saya idam-idamkan tidak kunjung keluar. Saya cuma diam ..  geloooo. "Ada apa mbak .. " tanya seorang bapak di belakang saya. Ternyata antrian di belakang saya mengular. "Oh nggak papa pak .. " jawab saya.

Karena penasaran, saya ulangi lagi proses yang baru saja saya lakukan. Tapi tetap saja sama. Bukan duit yang keluar, justru kantong dengan lidah keras. "Maaf mbak .. " kata bapaknya itu. Mungkin kasihan melihat saya kebingungan. "Uang yang mau embak setorkan langsung taruh saja di kantong yang baru saja terbuka itu .. " katanya. "Loh saya nggak mau setor uang kok Pak," jawab saya. "Loh mbak mau ngapain," lanjut si bapak. "Bapak ini gimana, ini kan ATM, ya saya mau ambil duit," jelas saya. "Mbak kalo mau ambil duit di ATM di belakang gedung ini. Kalo yang ini mesin ATM khusus untuk setor uang. Kan sekarang ATM juga bisa buat setor mbak, bukan cuma buat ambil duit. Jadi enggak mesti ke teller kalau pengen cepet. Tuh ada tulisannya diatas ATM setor tunai," jelas bapaknya sambil nunjuk tulisan di atas mesin.  Hakdesssss .... Saya cuma baca tulisan ATM nya aja .. gelooooo.

Maluuuwww broo ... duh dah kelihatan begonya. Mana tahu saya kalau ada ATM yang bisa buat setor tunai. Tak mau berlama-lama menjadi tontonan pengantre, saya pun langsung pamit undur diri. Bencana ini membuat saya trauma untuk beberapa saat. Selama dua tahun, saya tak lagi berkunjung ke gedung Bank swasta itu karena salah satu satpamnya pasti mengenali saya. Saya memilih cabang yang lain. Ah dasar ATM gadungan. Jadi tahu segalanya itu tak membuat kita keren kalau kita luput dari perhatian.  












 

Sabtu, 31 Agustus 2013

Kompilasi Abstrak dari Catatan Tersembunyi

The Horison ~Awal Mula~

Ben sudah menungguku di Antartika, maaf aku terlambat. Memandang wajah Ben cerah, membuatku tersenyum. Indah dunia. Ia duduk bersila di depan api unggun mungil, berwarna merah biru, hangat.
“Kau terlambat,” kata Ben.
“Maaf .. Aku harus melewati empat penjuru mata angin Ben, itu tidak mudah,” jawabku.

Aku duduk di samping Ben. Jemarinya meraih jemariku, menggenggam erat. Satu jam kami duduk di depan api unggun mungil, aku merebahkan kepalaku di pundaknya. Tubuhku menghangat, bukan dari api unggun mungil itu, tapi dari tubuh Ben.

Disinilah rumah kami sekarang. Di kaki langit, zona ufuk yang tak terjamah oleh apapun. Tidak ada hitam atau putih, karena hanya ada pelangi disini. Warna-warna itu mengikat aku dan Ben.

Sesekali Ben menghela nafas, mengerjap-ngerjapkan matanya. Memandang lurus kedepan, kemudian mengarahkan pandangannya ke wajahku. Ben berujar “Jangan pergi, tetap disini, di kaki langit, bersamaku,”

Aku melihat Ben, cemas tersirat diwajahnya. “Ketika aku sampai disini, aku tidak bisa kembali lagi Ben. Kau sudah menggenggamku,”

“Maaf kau harus melewati empatpenjuru mata angin itu .. Tapi dengan begitu aku bisa terbebas, tidak lagi hitam atau putih, karena kau. Aku tahu hendak bersandar kemana. Menggenggam’mu, memelukmu, menjagamu. Melindungimu dari empat penjuru mata angin. Bersama nafasmu, bersama tubuhmu, aku menaruh jiwaku. ” ujarnya.

***

The Horison ~Surat Dari Negeri Dingin~

Aku melihat awan gelap, bergulung, menggerombol. Sungguh hari yang suram kala itu. Setitik dua titik air yang jatuh dari awan gelap itu menyentuh jendela kamarku. Semakin suram. Tapi aku melihat pelangi di ujung ufuk sana.

Satu titik yang semakin membesar datang dari arah pelangi itu berada. Semakin besar dan mulai membentuk seekor burung, dengan bulu-bulu mirip pelagi. Di kakinya menggantung sebuah gulungan berwarna coklat. Mahkluk ini terbang naik turun di depan jendela, jadi aku mengambilnya.

Aku membetulkan selimut tebal yang membungkus tubuhku. Melihat gulungan itu tergenggam di tanganku. Saat membukanya, aku menemukan Ben disana. Surat Ben dari negeri dingin.

"Berdiri jauh dari tempatmu berada. Aku tahu kau sedang menatap pelangi di ujung ufuk, di kaki langit. Disini hampa. Standing underneath the stars and wish you were here.

Di kaki langit aku bisa merasakan detak jantungmu, nafasmu dan tubuhmu. Lekukmu tergores jelas di warna-warna pelangi itu. Just know that wherever you are, I miss you.

Ingin merasakanmu, ingin menggapaimu, ingin merengkuhmu. Ingin berada disana, dan berada disini bersamamu. Inilah suara hatiku.

Nafasmu dan nafasku, tubuhmu dan tubuhku. Jiwamu dan jiwaku. Berbaur dalam satu cawan. Aku ingin menutupnya, agar jiwamu tidak pergi, agar nafasmu tetap menjadi nafasku, agar tubuhmu tetap berada didalam tubuhku.

Saat Phoenix menjemputmu, kuingin kau mengikutinya. Naiklah ke punggungnya. Maka ia akan membawamu kepadaku. Saat itu aku akan berada di sekitarmu, menjagamu.

Aku akan menunggumu di depan api unggun mungil, di kaki langit, di ujung ufuk.

Kekasihmu, Ben
"


Aku menutup gulungan itu. Kembali merapatkan selimut yang membungkus tubuhku. Dalam satu titik di seberang sana, aku melihat Phoenix. Hujan tidak membasahi bulunya kurasa. Tak bergeming.

***

The Horison ~Pengakhiran~

Disinilah aku, berdiri diujung Horison yang tak bisa disentuh oleh siapapun. Berada dalam gemilang tawa dan gemerlap canda.

Disinilah aku, menyusuri sungai-sungai horizon. Menikmati air segar bersama Ben. Tidak ada istilah-istilah menjemukan.

Disinilah aku, berdiri diujung Horison menikmati kegelisahanmu diujung hitam sana. Menikmati segala rintihanmu yang tak kunjung padam.

Disinilah aku, memandang belas kasihan padamu. Memandang segala omong kosong hidupmu. Memandang segala tawamu yang palsu.

Disinilah aku, berdiri di ujung horizon yang tidak bisa kau sentuh. Setiap kali kau memandang ke ujung horizon, kau hanya merasa hampa dan sakit.

Disinilah aku, berdiri di ujung horizon. Menjadi kegelisahanmu yang teramat sangat.

Disinilah aku, diujung horizon. Menjadi pertanda kecemasanmu saat matahari terbit. Kau tidak akan mampu melihat ke utara ataupun selatan. Bahkan kau tidak berdaya melihat kea rah barat dan timur.

Disinilah aku, diujung horizon. Satu titik dimana kau selalu mengarahkan matamu. Satu titik dimana kau merasakan kesakitan yang teramat sangat. Satu titik yang akan memberimu mimpi buruk.

Disinilah aku, berdiri diujung horizon. Akan menjadi mimpi buruk sepanjang hidupmu. Setiap nafas yang kuhembuskan akan menjadi kegelisahanmu. Teruslah merana ketika kau mengingatku.

Jumat, 23 Agustus 2013

Antara Rambut dan Toilet Sialan .. Part II

Kisah Si Ijuk yang Tumbuh Subur .. 


Pada jaman dahulu kala ketika dunia saya masih sebatas petak 4x5 meter, Orang tua saya memandang saya dengan prihatin. Di tulisan saya tentang rambut part I, saya sudah akui bahwa rambut adalah mahkota wanita paling berharga. Inilah yang menjadi kekhawatiran orang tua saya, terutama Ibu. Eiiitttsss .. jangan menduga bahwa rambut saya sudah liar sejak dalam kandungan. Justru Ibu saya prihatin karena rambut yang saya miliki luar biasa tipis dan berwarna kemerah-merahan. Enggaaaakkk nyangka kaann .. 

Demi masa depan anaknya yang cerah, Ibu saya berjuang sekuat tenaga agar kepala saya ditumbuhi rambut yang hitam legam dan lebat. Ramuan turun temurun dari embah pun dipraktekkan ke saya.  Setiap hari, Ibu saya mengoleskan daun seledri yang ditumbuk bersama kemiri ke rambut saya. Siang dan malam. Enggak sia-sia memang jerih payah Ibu saya mengingat hasilnya kini yang tiada taranya. 

Tapi "enggak sia-sianya" juga kadang membuat saya malu jika sedang perawatan atau potong rambut di salon. Ibu mengoleskan ramuan itu dengan kuantitas yang banyak dan intensitas yang tinggi. Kebayang dong bagaimana mujarabnya ramuan ajaib itu jika diaplikasikan dengan overdosis. Pernah suatu kali si embak kapster nyeletuk "Aduuhhh mbak ini rambutnya kok susah dipotong .. (itu duluuuuu)". Aahhh gunting situnya aja kaliiii yang tumpul. "Ya motongnya dikit-dikit dong mbak," kata saya. "Ya kalo sedikit-sedikit kapan rampungnya mbak,". 

Masalah lain muncul ketika saya harus memilih model potongan rambut yang sesuai dengan kondisi rambut saya. "Ini mau dipotong kayak gimana mbak," kata mas kapster di salon lain. "Saya mau model wavy graduated bob mas .. bisa kan, kan rambut saya ikal,". "Aduuh mbak .. kayaknya enggak cocok deh. Soalnya nanti kalau kering ngembang loh," kata masnya. "Terus enaknya model apaan dong mas .. (pasrah),". Si mas kapster ini juga malah diem. Apa mungkin saking putus asanya karena tiada model yang cocok. "Saya juga bingung nih mbak .. " sambil pegang-pegang rambut saya. Mungkin heran kok ada rambut yang bener-bener kayak ijuk. 

Akhirnya hanya satu solusi untuk mengatasi rambut saya yakni dengan pelurusan alias rebonding. Pun saat proses pelurusan rambut juga membutuhkan kapster lebih dari dua .. aiisshh macam orang penting, padahal rambutnya aja yang suka macet. Selama lima tahun saya bertahan dengan rambut ini. Memang benar rambut tebal dan hitam itu (juga lurus) adalah impian tak sedikit wanita. Mengibas-ibaskan rambut pun jadi mudah .. haha. Apalagi model rambut lurus saya mencotek ala Jenifer Aniston. Berasa belahan jiwa Brad Pitt sungguhan.

Bangga dong jika ada yang menyangka rambut rebonding saya adalah alami. Kadang ada yang nyeletuk "Iihh rambut kamu bagus Tha .. bagi perawatannya dong,". "Aahh cuma pakai abu gosok kok .. (iklan shampo)," kata saya. Setelah lima tahun lebih berlalu, kini saya mencoba mengembalikan rambut asli saya yang "indah" dengan model wavy graduated bob. Dan suami saya menahan untuk tidak tertawa terbahak-bahak ketika melihat kedatangan saya .. gelooooooo. Aahh .. saya tetap bangga kok dengan rambut ijuk saya. Toh sekarang semakin banyak produk perawatan agar rambut ijuk ikal saya tertata indah. 

Jadi pelajarannya adalah jika anda seorang Ibu dan sedang mengkhawatirkan pertumbuhan rambut anak anda, tirulah langkah yang dilakukan Ibu saya. Tapi ingat, lakukanlah seperlunya saja atau masa depan anak anda akan susah. 

Salam Seledri dan Kemiri

Inilah saya waktu kecil
















  

Kamis, 22 Agustus 2013

Antara rambut dan toilet sialan .. Part I

Rambut Itu Tiket Masuk Toilet

Jika berbicara soal rambut, maka tak ada habisnya. Apalagi rambut saya yang segedhe ijuk sapu. Kebayang dong ijuk sapu kayak gimana. Kaku dan berantakan. Suami saya pun selalu terhenyak ketika sedang membelai rambut saya. "Rambutmu kok kayak gini .. " katanya. "Sana perawatan .. " lanjutnya. Lah ini yang saya tunggu. Aissshhh gembira riang hati ini jadinya. 

Bagi hampir seluruh wanita, rambut adalah mahkota (Kata Pak Guru dulu). Tapi bagi saya, rambut itu semacam bencana. "Benang" ciptaan Ilahi ini tumbuh liar di kepala saya dan sempat menjadi mimpi buruk dengan masa lalu yang kelam mendera (tersayat). Pernah suatu kali pada jaman dahulu kala saya memanjangkan rambut. Tapi penampakannya malah seperti singa. 

Rambut ini pula yang membuat saya kapok tampil terlalu tomboi. Karena wujud saya langsung berubah drastis ketika rambut dipotong pendek. Sejak TK hingga kuliah, saya adalah penganut Pixie. Model rambut ala Demi Moore jaman film Ghost. Bangga dong kala itu punya rambut ala mantan istri Ashton Kutcher terus ngayal kalau potong kayak begitu berasa mirip Demi. 

Tapi kenyataannya enggak seindah yang dibayangkan. Rambut ala Demi menjadi bencana karena saya selalu dipanggil "Mas", kecuali jika sedang memakai seragam sekolah. Ajaibnya saya bertahan dengan potongan rambut itu selama lebih dari 1 dasawarsa .. nunduk malu. Penampakan saya menjadi seperti lelaki imut. 

Titik nadir bencana terjadi ketika saya sedang berjalan-jalan dengan seorang kawan di salah satu Mall terbesar (kala itu) di Jogjakarta. Maksud hati kepengen ngeceng di Mall. Kami berdua kala itu masih ABG nanggung. Kawan saya nyeletuk "Tha, baju kamu mbok dimasukin, jadi agak rapian dikit,". 

Duh iya ya .. kawan saya ini memang selalu uptodate soal fashion. Dia memakai rok terusan mini dengan sepatu lars warna putih. Sedangkan saya hanya mengenakan jeans item satu-satunya yang dimiliki, sepatu sandal gunung item, dan kaos oblong ukuran L bergambar tazmania. Kebayang dong bagaimana tubuh saya tenggelam di kaos itu. 

Lalu berjalanlah kami menuju toilet lantai dua di pusat perbelanjaan yang kini makin ramai itu. Tapi keinginan untuk tampil rapih ala wanita tidak selalu mulus di masa lalu saya. Selalu saja ada hal-hal yang menghalangi. Pedih rasanya .. Sesampainya di pintu toilet, tiba-tiba mbak penjaga nyeletuk "Dek-dek .. toilet pria ada di sebelah. Ini toilet perempuan,". 

Hati ini rasanya hancur berkeping-keping mendengar fitnah si embak penjaga toilet. Aiissshhh ... gelo. Apa si embak penjaga enggak lihat bahwasanya saya ini adalah perempuan tulen. Apakah gara-gara rambut ala Demi atau pertumbuhan tubuh saya yang belum sempurna. Tapi meskipun saya membusungkan dada semembusung mungkin, rasanya juga si embak tetap menyangka saya adalah pria. Kan masih ABG nanggung .. area itu belum tumbuh dengan benar. 

Sejak peristiwa itu saya tak lepas dari perawatan rambut. Berharap bisa seindah rambut cewek-cewek dorama haha. Tak lupa saya juga memperbanyak pakaian-pakaian yang akan menunjukkan identitas kewanitaan saya. Meski kelakukan masih pecicilan. Tapi tak apalah. Setidaknya rambut yang lebih "indah" sebagai mahkota para wanita telah menjadi tiket saya untuk masuk toilet umum. 

Salam ijuk ..
22 Agustus 2013
21:30 Wita
Di depan cermin     

  
        

Rabu, 21 Agustus 2013

Mendadak Tutor



Jadi ceritanya saya menjadi tutor nge-Blog setelah seminggu resmi membuka Blog baru. Siapa yang menjadi murid saya?? Ya siapa lagi kalau bukan suami sendiri. Ketak-ketik yang saya lakukan selama semingguan ini ternyata membuat si Doi penasaran. Pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Kok bisa buat Blog Sih?" .. "Iya dong .. kan ada Blog gratis, gampang buatnya, tinggal klik sana sini jadi sudah,". "Nah terus kamu belajar bikin Blog'nya dari mana?" lanjut suami (kok agak-agak ngece pertanyaannya yak). "Belajar sendiri dooooongg .. otodidak .. kan aku pinterrr!". Suami saya langsung manggut-manggut. Ada sinar kekaguman yang terpancar dari kedua bola mata suami melihat ke-otodidak-an saya. (Kibas rambut .. !!)

Selanjutnya "Aku juga mau bikin blog ah," katanya. Walahhhh apa nggak cukup nulis berita setiap hari masih kepengen bikin Blog juga. Alasannya "Aku kan juga kepingin menuangkan isi pikiranku yang keren ini,". Aisshhhh .. akhirnya saya men-tutor-i dia untuk membuat Blog sendiri. Karena doi jarang bersinggungan dengan yang beginian, jadi saya yang akhirnya bikin Blog. Perdebatan sengitpun terjadi ketika memilih judul Blog. "Sarapan Siang aja gimana judul Blognya, kan Blog mu judulnya Sarapan Pagi, nah Blok ku Sarapan Siang," katanya .. "Mana ada orang sarapan kok siang .. lainnya!!!" .. "Loh itu kan bagus .. kenapa enggak," (kok ngeyel) "enggak .. !!" .. "Iyaa .. " .. "Enggak .." .. "Iyaa .." 

Setelah perang Iya-Enggak terjadi sekitar 15 menit, Saya pun menang. Akhirnya tercapailah kesepakatan Ndalem Lukasan untuk menamai Blog-nya dengan judul "Sambal Bawang Kang Adi". Jadi silahkan mengunjungi Blog-nya. Tak bisa nge-Blog tapi kepengen nge-Blog itu tidak dilarang. Saya siap menjadi tutornya ..


Kamis, 22 Agustus 2013
Pukul 00:40 Wita
Dibawah naungan lampu teplok