Translate

Minggu, 06 April 2014

Menapaki Perbatasan Part 1


"Nyawaku ada ditangan mas ojek"

Jalan-jalan saya kali ini menuju ke gerbang utara Kalimantan, sebuah pulau yang memiliki dua kedaulatan. Separuh milik Indonesia, separuhnya lagi punya Malaysia. Pulau Sebatik Indonesia ini menjadi tujuan saya nebeng jalan-jalan sama suami. Lagipula saya belum pernah melihat langsung kehidupan masyarakat di perbatasan. Menjadi lebih berkesan karena saya bisa melihat negara tetangga dan negara kita dari sudut pandang yang berbeda. Masalahnya saya kagak punya passport, jadi sulit untuk melintas perbatasan meski sekedar mengamati. Tapi katanya berbekal surat lintas negara sudah bisa masuk negara tetangga. Yaaa kita lihat saja besookkkkk. 

Belum banyak tempat yang saya explore di daerah ini. Tapi yang jelas, saya agak prihatin karena daerah yang seharusnya menjadi teras depan Indonesia ini masih bopeng sana sini. Ah ternyata sampai sekarang umur Indonesia mendekati 70 tahun pembangunannya masih Jawasentris. 

Menuju ke pulau Sebatik Indonesiapun juga butuh perjuangan. Ternyata lebih murah ke Malaysia langsung. Dari Balikpapan menggunakan pesawat kemudian disambung speedboat yang bikin punggung tengeng. Perlu waktu 3 jam bagi speedboat untuk sampai ke pulau Sebatik Indonesia. Tiga jam penuh penyiksaan karena kaki saya kepentok sandaran kursi didepan saya. Dengan badan meliuk kesana kemari bak ikan sarden, saya tertidur. Goyangan ombal itu ternyata bisa meninabobokkan saya. Hasilnya??Jangan tanya, karena ketika bangun saya langsung mual. 

Jadwal keberangkatan speedboat menuju pelabuhan se nyamuk Sebatik Indonesia ini ternyata simpang siur. Si sopir taksi yang mengantar kami dari bandara Tarakan mengatakan jadwal keberangkatan terakhir pukul 13.30 wita. Tapi ternyata jadwal terakhir keberangkatan pukul 12.00 wita. Karena tiba di pelabuhan pukul 11.45 wita, petugas loket langsung menyuruh kami naik speedboat. Sayangnya jarak antara loket dan dermaga sandar kurang lebih 100 meter. Lebih mungkin. Dan cuma kami yang jalan terseok seok mengejar waktu yang tinggal 10 menit sementara penumpang lain melenggang naik motor dan mobil menuju dermaga sandar. Waoowww .. kenek kapal ada yang mirip boyband. Rambutnyaaaaaaaa.

Menjadi antusias karena setiba di pelabuhan se nyamuk Sebatik Indonesia, saya bisa melihat wilayah negara tetangga yang terpagari. "Itu depanmu itu Tawau," kata suami saya. Ya hanya bukit bukit. Para taksi air disini siap menyambut sambil teriak "Tawau tawau .. sini mbak ke tawau,". Waaahhh saya nggak punya passport. Saya pilih naek ojek karena itu satu satunya transportasi disini. Eh saya kok enggak liat angkutan umum yaaa. Nah disinilah nyawa saya dipertaruhkan. Dari dermaga sandar, saya harus melewati jembatan kayu yang ketika dilewati motor bunyinya akan klethek klethel klethek. Melihat kenyataan bahwa di bawah jembatan kayu adalah air laut yang sedikit bergejolak, tubuh saya ikut bergejolak saat diboceng mas ojek. Duileeee mas ojeknya ngebut. Kalo disalip, mas ojeknya minggir. 
Padahal jembatannya enggak punya pagar pengaman. Jadi kalo minggir dikiiiiiiitttt lagi, nyemplung dah. Saya sampai harus merem karena khawatir nyemplung, apalagi beberapa kali ban agak selip dan egol egol. Nyawaku ada di tanganmu loh mas ojek. Langsung lega ketika menjejak tanah. Lalu saya menjadi tamu hotel pertama yang baru dibuka beberapa hari yang lalu. Langsung nyungsep ke bantal yang masih baru. Jadi inilah yang katanya teras depan Indonesia itu. Teras yang isinya dimonopoli barang tetangga. Oh nestapa ...

Salam dari Wita
Atha Ajo

Kamis, 03 April 2014

Ketika Tropis Bertemu Salju

"Ketika inovasi berubah menjadi boomerang, maka hilang sudah penasaran saya,".

Saya termasuk orang yang gemar menonton film. Aktivitas ini -bagi saya- tak hanya semata menonton film. Tapi sudah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Seperti perasaan saya terhadap sebuah buku yang menjadi candu, begitu pula dengan film. Bagi saya, menonton film tak cukup hanya di DVD player dan TV. Saya butuh suasana yang mendukung untuk menikmati adegan-adegan dan plot-plot yang dibuat oleh sutradara dan CS nya. Bahkan sampai kredit title'nya pun saya tonton. Jika anda memiliki hobi (benar-benar hobi dan bukan sekedar senang), maka anda tahu apa yang saya rasakan.  Mudahnya, jika anda hobi membaca, maka setidaknya anda memiliki banyak deret buku-buku di rak untuk dikoleksi.

Lalu saya mengharap, kapan kita orang Indonesia bisa bikin film action se-level holiwud. Sampai pada akhirnya kita dihentak dengan kemunculan film action Indonesia yang selama ini perfilman kita dimonopoli oleh film-film saduran novel dan horor lucu-lucu seronok. Ini yang saya tunggu-tunggu, meskipun sutradaranya bule. Ora popo. Cukup terkejut karena film yang dimainkan oleh Iko Uwais ini sukses besar. Katanya. Saya pun bangga ketika nonton film pertama yang juga dimainkan oleh Joe Taslim sebagai sersan Jaka. Uiiihhhh keren yaaa .. tapi saya lebih suka Mad Dog ala Yayan Ruhian. 

Kali kedua kelanjutan film ini dirilis, saya pun berharap banyak bawah filmnya pasti lebih bagus dan seru dari yang pertama. Apalagi yang kedua ini menuai banyak pujian di festival dan mendapatkan banhak review bagus. Suami saya yang anti film Indonesia (kecuali warkop) pun ikut mengiyakan ketika saya ajak nonton film ini. Ternyata suami saya juga bertanya pada mbah gugel tentang film yang disutradarai Gareth Evans ini. Semua review mengatakan bahwa film ini top dan layak ditonton. 

Memang benar film yang bertabur bintang top Indonesia ini menawarkan banyak inovasi yang patut diacungi jempol. Tapi namanya juga film, pasti banyak yang tidak sesuai dengan perkiraan. Bahkan film holiwud pun tidak luput dari bloopers. Banyak inovasi yang saya tonton di film ini termasuk karakter yang dimasukkan. 

Saya suka karakter si gadis palu ganda. Saya juga suka perkelahian di dalam mobil yang sedang melaju kencang. Soal adu head-to-head, saya lebih suka pertarungan antara Mad Dog dan Rama di film pertama. Selebihnya, ya cuma itu aja yang saya suka. Alur ceritanya? Wah bikin saya pusing untuk memahami plot demi plot. Terus terang saja, film yang menuai banyak pujian ini bagi saya kok masih sulit menandingi film yang pertama. Agak mengecewakan. Atau ekspektasi saya yang ketinggian ya. Saya enggak jenak menonton dari awal sampai akhir.

Sebagai penyuka film action, saya merasa bosan. Terlalu banyak prolog yang ditampilkan sehingga bag-big-bug'nya jadi enggak greget, itu kata suami saya. Ya memang benar. Saya sampai harus berpikir keras untuk mencari benang merah antar plot cerita. Yang saya tahu adalah film ini bercerita tentang seorang agen yang bertugas menyamar untuk memberantas ... itu yang saya bikin bingung. Memberantas kawanan mafia atau memberantas polisi korup. Mungkin penjelasannya nanti di film ketiga kali ya, kalo ada. Ah mungkin saya'nya aja yang bingung kali ya. Atau mungkin kalo ada cerita anak-istri Rama mendapat ancaman pembunuhan karena Rama ketahuan agen yang sedang menyamar akan menjadi motivasi yang kuat bagi Rama untuk menghabisi keluarga mafia itu.

Lalu munculah adegan yang membuat rasa penasaran saya hilang sama sekali dan digantikan dengan kantuk yang tak tergantikan. Saya meyakinkan diri bahwa setingan di adegan ini untuk mendramatisir suasana. Namun demikian, sebuah film juga membutuhkan setingan berdasarkan kenyataannya. Kecuali jika film itu semacam Stars Wars atau Upside Down yang menciptakan dunianya sendiri. Saya belum bisa menerima ketika setingan adegan ini memasukkan unsur hamparan salju dan rintikannya. Ah ada hujan salju di bagian dunia tropis. Saya mencoba mengira si sutradara ingin menunjukan bahwa perkelahian sedang terjadi di luar negeri dengan empat musimnya, bukan di Jakarta. Tapi itu tidak mungkin ketika ada latar belakang gerobak dorong dengan tulisan Lumie Ayam. Apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan si sutradara? Hanya dia dan penulis cerita yang tahu. 

Tapi kurang lebih'nya, saya tetap mengapresiasi film ini. Setidaknya bukan film ecek-ecek seperti film yang lainnya yang bangga ketika memasang bintang porno. Bagi yang cinta mati sama film ini dan menutup mata-telinga untuk kritikan, silahkan tulisan ini dibuly. 


Salah hangat dari teras

Atha Ajo

 

  

  



    



 

 

Rabu, 19 Maret 2014

Ketika pulang adalah membosankan

Pulang kampung sudah jadi rutinitas bagi banyak orang. Pasti banyak yang tunjuk jari jika ditanya pulang kampung adalah hal yang sangat membahagiakan. Tapi saya kok bosan ya pada hari kedua tiap kali pulang kampung. Mungkin jika rutinitas saya yang super duper sibuk seperti kebanyakan orang, pulang kandang menjadi sangat bermakna. Ah tapi enggak juga. Pertama kali menjajaki ke alam perantauan, belum ada homesick-momesick'an. Setelah beberapa bulan kemudian, kenyataannya juga sama. Meskipun pas pulang kampung pertama kali berasa gembira, tapi hari kedua sudah hambar. Hambaaaaarrrrrr .... !!

Padahal tiap kali pulang kampung selalu ada "pekerjaan" menanti untuk diurus atau diselesaikan. Banyaknya pekerjaan rumah tetap membuat saya bosan. Kalau mau sekedar jalan-jalan atau nongkrong, halaahhhh .. masak iya nongkrong tiap hari. Saya bukan tipe orang yang suka nongkrong. Ada sebuah kerinduan ketika pulang kampung adalah hal yang mendamaikan hati dan pikiran. 

Boro-boro mendamaikan, yang ada hanyalah caci maki. Ada segudang masalah yang sejatinya bukan milik saya tapi memaksa saya untuk turun tangan. Membosankan kan !! Belum lagi masalah "komunikasi sosial" antar pengguna jalan yang bikin saya pengen ambil kerikil 1 mm dan melemparkannya ke mata si pengendaraa yang semaunya. Ngapain sih harus blayer-blayerin motor kalau tau jalanan lagi macet. Enggak asyik lagi kalau nemu rombongan knalpot busuk bawa-bawa bendera. Mending minggir daripada kena tetanus. 

Salah satu yang bikin saya agak tenang dari kesakauan ini adalah janji traktiran durian dari kakak saya. Enggak masalah kalau rasanya masih kalah dari tempat saya merantau, yang penting durian. Lalu saya ingat. Proyek homestay yang bentar lagi rampung sudah pasti membakar semangat saya lagi. Lalu proyek menjadi cake bos dan Rachel Zoe sudah terpampang di depan mata. Sudah cukup rasanya saya mengejar deadline. Kini saatnya memberi deadline. Lah terus hubungannya apa sama judul yang dibuat? Hubungannya ya proyek-proyek ini mampu mengobati kebosanan saya selama pulang kampung. Gitu looohhhh ... 

Jadi yang terlintas di kepala adalah begini, seseorang bisa disebut dewasa darimana cara dia menyelesaikan masalah. Masalah kok dipelihara. (Ini ngomong apalagi sih? Suka-suka saya dong, namanya juga lagi bosan #ngomongsendiri)



Jadi apakah hanya saya saja yang merasa bosan disini? Ahh mau pulaaanggggg .. !!



 Atha Ajo

Dinaungi kebosanan (untung ada Law and Order)    

Kamis, 13 Februari 2014

Balada Recehan



Jaman saya SD (era 90'an), uang seribu memiliki nilai yang tak terkira. Bayangkan saya bisa beli puluhan krip-krip karena satu buahnya hanya dihargai Rp25,-. Nah jaman sekarang, uang seribu tak ubahnya recehan untuk bayar parkir motor di pinggir jalan. Tak sedikit yang menyepelekan uang kertas bergambar Kapitan Pattimura yang kini tersedia versi logamnya. "Halah cuma seribu, bisa buat apa sih," kata orang yang kebetulan saya dengar celetukannya. Malah ada yang "menyumbangkan" seribu ke pengemis di pinggir jalan. Kalau saya mah ogah ngasih uang ke peminta-minta di jalanan. Bukan karena pelit, tapi karena kasunyatan bahwa pemasukan mereka dari meminta-minta ternyata lebih banyak dari UMP. 

Kalau seribu rupiah saja sudah menjadi nominal murah, lalu bagaimana dengan uang recehan logam yang lebih rendah nominalnya? Saya yakin, hanya sedikit orang yang mau "ngopeni" uang receh logam. Termasuk saya. Banyak yang penasaran ketika saya membawa sekantong kecil recehan dengan beragam nominal antara Rp100,- hingga Rp1000,-. "Ngapain sih bawa-bawa recehan gitu," kata saudara suatu kali. "Ya buat jaga-jaga kalau beli enggak ada kembalian receh. Kan saya bisa bayar pas,". Terkadang saya agak jengkel jika uang kembalian berupa permen. Atau jika uang kembalian yang nominalnya kecil itu diminta kasir untuk disumbangkan ke suatu tempat yang saya sendiri enggak tahu apakah benar disumbangkan atau tidak.

Bagi saya, mengumpulkan uang recehan baik dalam bentuk logam atau kertas itu sama baiknya dengan menabung dalam jumlah besar di bank. Tanpa disadari kebiasaan ini sejatinya ada untungnya juga. Saya jadi tak perlu repot marah-marah kepada si kasir jika tak ada uang kembalian. Toh uang receh jika dikumpulkan lama-lama nominalnya besar juga. Uang receh yang saya kumpulkan mungkin sudah hampir sejuta. Jika uang receh akan dimusnahkan, ya tinggal ke bank untuk ditukarkan. Bahkan kakak saya bisa membeli jam mahal yang harganya hampir sejuta gara-gara iseng mengumpulkan uang recehan. 

Ketika saya pulang kampung, disitulah uang recehan masih sangat dihargai. "Niki mung nyewu mbak, nek seng niki setunggal ewu gangsal atus," kata mbah-mbah yang menjajakan makanan ndeso di pasar ngasem Yogyakarta. Ada jagung yang dilumat membentuk bola-bola (saya lupa namanya) dihargai Rp1000,- per bungkus isi tiga (bonus satu bola). Lalu ada buntil godong telo yang dihargai Rp2500,- per bungkus. Jadi saya cukup menyerahkan uang seribu, dua ribu rupiah dan recehan Rp500,-. 

Makanan-makanan lain yang saya beli cukup bermodalkan uang recehan adalah sate endog gemak Rp1500,-, lekker (crepes) Rp800,- per biji, martabak ndeso Rp1000,-, klepon (4 biji) Rp1000,-, kipo (7 biji) Rp1000,-, cap jaek Rp1000, bihun ndeso Rp1000,-. Yang membuat saya gempar adalah pepes jamur yang dihargai hanya Rp1000,- per bungkus. Saya tidak bisa bayangkan untung yang didapat si bapak penjual pepes jamur. Njuk kulakane piroooooooo. Belum bahan baku yang terdiri dari jamur, tahu dan bumbu serta pembungkus daun pisang. Yang jelas si bapak begitu menghargai recehan yang ia dapat sebagai laba (terlepas dari apakah ada bahan kimia berbahaya di dalam olahannya atau tidak .. heee .. toh saya enggak mules setelah memakan itu). Semakin antusias ketika saya membeli sebungkus nasi lauk tempe-kecap-enak dan so'on seharga Rp2.500,-. Apalagi nasinya menul-menul panas. Oh indaaaaahhhhnyaaa sarapan pagi.              

Saya puas berbelanja dengan uang receh. Meskipun pada akhirnya uang yang dikeluarkan juga lumayan banyak karena saya cukup membabi buta untuk membeli ini itu. Sebetulnya cukup membeli nasi sebungkus plus cap jaek dan sate endog gemak hanya Rp5000,-. Tapi belanja ini-itunya yang bikin costly. Pada akhirnya, kebiasaan mengumpulkan uang recehan setidaknya membantu saya untuk lebih menghargai uang. Toh recehan tetaplah alat yang bisa digunakan untuk membeli sesuatu. Masak iya bayar parkir cuma Rp3.500,- pake uang lima puluh ribu seperti mas-mas yang pake mobil mewah di depan saya dan bikin lama buat kasih uang kembalian. ("Eh .. suka-suka saya dong mau bayar pake apa. Masalah buat loe .." ngayal kata mas'nya ngejawab sindiran batin saya .. gelooooo).

Meski tak bisa dipungkiri bahwa di beberapa tempat yang berbiaya hidup tinggi, uang receh tak ada ajinya. Tapi uang receh tetap alat tukar yang suatu saat dibutuhkan. Memang ribet bawa uang receh di kantong atau tas, tapi enggak mungkin kan kita belanja di pasar atau warung kecil pake kartu debit atau kartu kredit. Terlepas dari ribet atau enggak, saya sudah pasti menyediakan sekantong uang receh versi logam dan kertas. Sekedar untuk jaga-jaga dan sudah pasti akan berguna jika saya sedang bepergian. Tak perlu banyak, tapi cukup untuk mendampingi sejumlah uang besar yang tersimpan di dompet lain. 

Soooo .. hidup uang receh. Sejuta bukanlah sejuta jika kurang seratus rupiah.


Di antara lautan recehan ala Gober Bebek


Atha Ajo          

  










Sabtu, 08 Februari 2014

Antara Indera Keenam dan Sulap




Saya termasuk orang yang skeptis terhadap hal-hal yang berbau metafisik. Tapi sebetulnya saya sendiri juga tidak begitu paham apa itu metafisik atau metafisika. Terlepas dari teori yang sebenarnya dari konsep metafisik, saya menilainya sebagai kekuatan batin. Namun demikian agaknya logika saya lebih dominan. Sampai suatu ketika saya bertemu dengan seorang paruh baya yang menggantungkan hidupnya menjadi 'pengamen'. 

Bukan pengamen genjrengan yang sering mengganggu acara nongkrong, tetapi pengamen sulap. Setidaknya bapak ini sudah membuat kemampuan logika saya agak sedikiiittttt goyah. Saya sering melihat acara-acara sulap di televisi. Dan baru kali ini saya mengalami bagaimana sulap itu begitu menakjubkan. Yah tau sendiri kan, banyak acara televisi yang setingan. Ini bukan sulap ala Pak Tarno yang tepuk-tepuk tangan dan keluarin bunga dari dalam topinya loh. Tapi ini adalah sulap yang membutuhkan kemampuan mumpuni.

Sudah menjadi rahasia umum jika para pesulap dibekali dengan peralatan khusus. Seperti kartu remi yang sudah dimodifikasi sehingga menimbulkan ilusi. Tapi yang membuat saya takjub pada bapak berambut gondrong ini adalah peralatan yang ala kadarnya. Aksi memasukkan koin ke dalam botol adalah hal biasa. Yang membuat saya takjub adalah permainan kartu reminya yang tidak biasa. Katanya ini adalah trik pengalihan perhatian. Apalagi bapak ini mampu mengelabui kami dengan gerakan lambat.  Kartu yang tadinya wajik merah yang saya pegang menjadi sekop hitam. Padahal setelah saya cek, kartu itu adalah kartu remi biasa. 

Hal yang tak terduga adalah ketika bapak ini melanjutkan triknya tentang tebakan angka menggunakan kartu. Kami (Saya dan suami) sesaat 'diwawancara' tentang bagaimana kami bertemu. Sebelumnya bapak ini sudah mempersiapkan empat kartu yang ditutup. Kami diminta menghitung angka-angka seperti berapa tahun kami pacaran, menikah, umur, hingga tahun pernikahan. Dan akhirnya ketemu dengan angka 4121. 

Dan jeng jeng .. keempat kartu yang sudah dipersiapkan sejak semula menunjukkan angka yang sama. "Jika angka angka ini ditambah," lanjut si bapak, "maka akan didapati angka delapan. Dan ini sangat bagus untuk pernikahan kalian karena angka delapan itu tidak terputus garisnya. Angka ini adalah angka keberuntungan kalian, nanti suatu saat kalian akan tahu artinya," katanya. Duileeee .. bapaknya.

Nah makin kesini, kok saya berasa lain ya. Bapak ini mencoba menerawang saya. Waduh. Katanya aura yang saya miliki sangat kuat dan memancar terang. Ini pula yang membuat, kata si bapak, indera keenam saya begitu kuat. Tapi, kata si bapak, saya tidak menyadarinya dan cenderung tidak memperdulikannya karena saya lebih mementingkan logika. "Coba deh dipertajam dengan yoga dan meditasi," katanya. Si bapak berujar jika saya adalah orang keempat diantara ratusan orang yang dia temui setiap hari dalam kurun waktu tiga tahun yang memiliki aura dan energi yang kuat.  "Ingat kan Mama loren .. ya itu," kata si bapak yang juga bisa bermain Tarot. Maksuudddnyaaaaaa ... !! Masak saya mbakat jadi tukang ramal.

Lalu bapak ini mencoba 'peruntungannya' untuk membuat saya 'sadar' bahwa saya memiliki apa yang dia sebut itu. Saya diminta untuk membagi kartu dalam kelompok hitam dan merah. Si bapak yakin saya bisa mengelompokkan kartu-kartu itu dengan mata batin tanpa melihat muka kartu. Nah beraksilah saya membagi kartu dalam dua kelompok secara acak. "Ikuti saja kata hati mana kartu yang merah dan mana yang hitam," katanya sambil mengajak suami saya ngobrol. Dan wolaa .. suami saya takjub ketika membuka kartu-kartu yang saya bagi secara acak itu benar-benar terkelompokkan dalam warna hitam dan putih tanpa kesalahan. Nah ini kan kartu biasa, yang mainin saya, yang ngocok kartunya suami. Kalau di TV kan saya masih mikir "ah ini pasti setingan," lah ini. Sampai tulisan ini saya buat, saya masih penasaran bagaimana kartu-kartu itu bisa terkelompok dalam merah dan hitam meski saya menaruhnya secara acak. 

Meskipun demikian, saya masih sangsi soal apa yang dikatakan si bapak tentang indera keenam saya. Okelah jika sulapan menebak angka karena itu bisa dijelaskan secara matematika. Tapi sulapan yang meminta saya mengelompokkan kartu tanpa melihat muka kartu adalah luar biasa. 

Atau .. ah jangan-jangan saya memang punya 'ITU'. 


Salam,
bersama nasgitel, telur puyuh dan bakwan

Atha Ajo   







     

  

Rabu, 29 Januari 2014

Peri Gigi dan Realita



Saya paling anti kalau disuruh ke Dokter Gigi. Phobia dan khawatir teraduk menjadi satu ketika memahami bahwa satu jam kedepan saya akan duduk di ruang tunggu Dokter Gigi yang baunya aujubilah itu. Masuk ke ruang tunggu saja sudah menjadi momok. Giliran dipanggil namanya adalah mimpi buruk. Kaki lemas sudah pasti. Yang tadinya cuma gigi geraham yang sakit, pas dipanggil namanya mendadak semua gigi jadi linu. Jarak dua meter menuju pintu masuk ruang dokter berasa jalan 2 Km. Lama bener. 

Enggak tahu kenapa, Dokter Gigi adalah orang yang paling saya hindari. Apalagi jika mereka sudah pegang kaca bundar dan pengait. Saya paling tidak tahan sakit gigi. Tapi saya lebih tidak tahan suasana mencekam di ruang prakter dokter gigi. Lalu jika telinga sudah mendengar desis'an bor .. ziinnggg .. itu adalah saat-saat paling horor dalam hidup saya. 

Lalu ada sebuah lagu yang liriknya "lebih baik sakit hati, daripada sakit gigi", ah itu bohong. Kalau sakit hati lalu nangis bombay sambil dengerin lagu galau, lama-lama kan capek nangis terus otomatis ngantuk dan tertidur. Nah kalau sakit gigi, pake acara nangis bombay sampai se'jerigen juga nggak bakalan ngantuk. Yang ada adalah insomnia sambil ngelus-ngelus rahang. 

Masalah gigi yang selalu saya alami adalah gigi berlubang. Letaknya pasti di gigi geraham. Bagian gigi yang paling sakit jika terjadi perlubangan. Saya lupa kapan pertama kali ke Dokter Gigi. Yang jelas, saya membenci dokter gigi pertama saya. Benci sekali. Saya selalu menaruh curiga jika dokter gigi masa kecil saya bersikap baik kepada saya. "Ah sok baik, palingan mau nge'bor gigi saya kan," batin saya kala itu. Namanya juga anak kecil, aksi tutup mulut rapat-rapat pun menjadi pilihan.

Kejadian paling menarik dan masih membekas hingga sekarang adalah aksi kejar-kejaran dengan si dokter gigi. Saya dibohongin oleh orangtua, karena katanya dokter gigi itu menyenangkan. Nyatanya pas gigi saya diperiksa dan terasa senut, otomatis saya teriak dan gigi saya katup erat-erat. Alhasil, gusi saya berdarah karena entah kait atau bor yang tergigit mengenai area itu. Setelah peristiwa itu, kamipun (saya dan om dokter) saling kejar-kejaran mengelilingi kursi periksa bak film Bollywood. Bikin trauma sampai sekarang.

Kini jika disuruh ke Dokter Gigi, saya masih pikir-pikir. Perpaduan suara bor, gesekan antara bor dan gigi, serta rasa ampas gigi yang unik dan nggak ada matinya itu lalu diakhiri dengan rasa senuuuuuttttt panjang sampai ke ubun-ubun, membuat saya bergidik duluan. Enggaaaaakkkkkkk mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!

Lalu saya membayangkan alangkah indahnya jika ada peri gigi di dunia ini. Tinggal goyangkan tongkat, masalah gigi selesai. Tapi realitasnya hanya ada dokter gigi yang bisa mewujudkan gigi sehat. Akhirnya saya harus memilih realita jika ingin hidup damai tanpa cekat cekot di bawah kuping.  Yang jelas saya harus minta anestesi lokal.

Ada nggak Dokter Gigi yang bisa nambal gigi tanpa harus nge'bor.






Ngelus-elus pipi, kapan kamu sembuh gi

Atha Ajo   

 

    

Selasa, 14 Januari 2014

MERAH


Aku adalah merah
Yang dikata rapuh dan retak ketika disentuh
Mengabaikan payah yang menjadi hari-hari lemah, harus!
Mengejar perkasa dan menjadinya, sudah!
Tetap saja kurang

Aku adalah merah
Yang perkasa seperti angin
Merayau belantara hingga terlelap
Menyambar sari agar bernyawa
Tetap saja kurang

Aku adalah merah
Yang mengindra guntur
Membuai bersamanya, mengasuh hati yang tak jatuh
Mengumbar cemeti dewa lalu berubah
Tetap saja kurang

Aku adalah merah
Yang diadu kuat dengan guntur
Menuruti diam, lalu terkoyak
Membawa ampun, malah terinjak
Tetap saja kurang

Aku adalah merah
Yang mengering seperti tulang belulang
Membekam hati, hendak berteriak
Menguarkannya, tapi tak becus
Tetap saja kurang

Aku adalah merah
Yang dikata rapuh dan retak ketika disentuh
Mengabaikan payah yang menjadi hari-hari lemah
Mengejar perkasa dan menjadinya
Tetap saja kurang, apalagi!


Diatas segala guntur,

Atha Ajo