"Rumput tetangga memang lebih hijau"
Jadi peribahasa rumput tetangga lebih hijau itu tak hanya sekedar ungkapan. Itu adalah kasunyatan yang menghinggapi setiap manusia. Percaya deh, saya saja mengalaminya. Seberapa sering sih kita mengintip milik tetangga dan ketika kita tidak bisa memilikinya, maka kita akan menghujatnya habis-habisan. "Waahh tetangga punya mobil yang bisa parkir sendiri .. ah tapi masih mending punya saya yang manual tapi parkirnya bener," itulah pembenarannya.
Bicara soal rumput tetangga yang lebih hijau, saya harus mengakuinya memang demikian adanya. Dalam skala yang lebih besar, rumput negara tetangga memang lebih hijau royo-royo. Bukannya saya tidak nasionalis, tapi saya tidak bisa berkutik dan harus mengakui bahwa mereka lebih baik di beberapa segi. Saya menyadarinya ketika saya pindah ke pulau terbesar ketiga di dunia ini. Karena pulau Borneo ini dimiliki oleh tiga negara yakni Indonesia (3/4 nya), Malaysia dan Brunnei, maka produk-produk dari negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Indonesia "bebas" masuk dengan mudah.
Salah satu dilema ke-nasionalis-an saya adalah ketika saya lebih memilih membeli minuman coklat dari negara tetangga, ah sebut saja Milo, yang rasanya lebih enak dari buatan dalam negeri. Saya lantas mbatin, kok kita nggak bisa bikin yang seenak ini ya. Tapi saya sudah terlanjur menggemarinya. Jadi ketika suami saya sedang berkunjung ke perbatasan, maka saya mengingatkannya untuk membelikan minuman itu beberapa bungkus.
Ternyata persoalannya tidak sampai disitu saja. Rumput tetangga bukan lagi terlihat tapi memang lebih hijau karena rumput sendiri terbengkelai. Jadi tak bisa disalahkan jika warga Indonesia yang tinggal di perbatasan lebih memilih produk negara tetangga yang lebih hijau baik dari segi kuantitas dan harga. Ketika kita dibuat bingung oleh harga gas elpiji dalam negeri yang labil kayak anak ABG, mereka warga perbatasan justru tak ambil pusing. Iyalaahhh .. satu tabung gas dari negara tetangga dijual lebih terjangkau. Stok di pasaran juga jauh lebih banyak ketimbang elpiji lokal.
Menjadi gelisah karena hingga HUT ke-68, kelangsungan hidup manusia yang hakiki "hanya" terjadi di belahan bagian barat saja. Kenaikan bahan bakar minyak yang beberapa ribu menjadi tidak berarti karena masyarakat yang hidup di perbatasan terbiasa menggunakan BBM negara tetangga dengan harga sekitar Rp25.000 per liter, itupun kalau ada. Jadi ketika ada demo menentang kenaikan BBM beberapa waktu silam mengatasnamakan rakyat yang akan semakin menderita, itu tak lebih dari tong kosong nyaring bunyinya. Rakyat mana yang kalian bela. Toh naik tidaknya harga BBM lokal tidak berpengaruh pada kehidupan warga perbatasan yang hampir tak tersentuh oleh infrastruktur. Enggak perlu jauh-jauh ke perbatasan, tempat dimana saya tinggal yakni Balikpapan yang "gudangnya" minyak saja masih sering kehabisan stok BBM kok.
Seperti menjilat ludah sendiri ketika kita menghujat negara tetangga (yang mana dalam beberapa kasus hujatan-hujatan itu memang perlu dan ada benarnya), tetapi kita lupa bahwa bagian dari masyarakat kita masih bergantung pada negara tetangga untuk urusan keberlangsungan hidup. Entah sampai kapan rumput tetangga yang lebih hijau ini akan bertahan. Eh tunggu dulu, rumput tetangga lebih hijau karena rumput kita terbengkalai. Jika rumput kita diberi pupuk dan dipoles dengan militan, bisa jadi rumput tetangga tak lagi hijau.
Salam sruput dari Milo tetangga
Atha Ajo
Translate
Sabtu, 11 Januari 2014
Dikejar Oki
Binatang mamalia itu memang imut, tapi tidak imut lagi jika mereka lepas kendali
Salah satu tempat wisata yang harus saya kunjungi ketika saya sedang tamasya ke suatu daerah adalah kebun binatang. Saya tidak mencoba memungkiri apa yang dikatakan oleh para peduli-lingkungan. Bahwasanya binatang juga memiliki hak hidup bebas di alam liar tanpa belenggu besi dan menentukan makanan sesuai seleranya. Tapi jika memang betul-betul perduli pada hak-hak binatang, setidaknya spesies unggas semacam ayam juga butuh dibela haknya untuk tidak menerima suntikan zat kimia guna mendorong pertumbuhan. Saya pernah melontarkan teori ini dan akhirnya saya dibully dengan alasan bahwa spesies ayam merupakan produk hewani yang tujuannya untuk pasokan makanan manusia. Yah jika alasannya untuk pasokan makanan manusia, setidaknya ayam juga berhak memiliki hidup sehat sebelum disembelih.
Tapi saya tidak akan membahas itu. Saya cinta kebun binatang karena ini bisa menjadi sarana pendidikan. Terutama kebun binatang yang terawat dengan baik dan benar. Salah satu kebun binatang yang cukup atraktif yang pernah saya kunjungi adalah Jatim Park di Malang Batu. Saya bisa melihat berbagai macam binatang dari dekat tanpa takut dijamah oleh mereka. Alih-alih di kerangkeng besi, kebun binatang di Jatim Park sebagian menggunakan kaca. Kebayang kan ngeliat macan dari jarak dekat tanpa takut dibelai. Aman deh pokoknya.
Nah di Balikpapan Kalimantan Timur sayangnya tidak ada kebun binatang. Yang ada hanyalah konservasi beruang madu dan buaya. Khusus di konservasi buaya ini, kita juga bisa melihat gajah-gajah mungil. Perusahaan BUMN yang bergerak di bidang telekkomunikasi pun juga memiliki konservasi di Balikpapan. Konservasi rusa ini terletak di lingkungan Telkom. Konservasinya juga aman kok. Tempat makan si rusa diletakkan dekat pagar agar kita bisa melihatnya dari dekat jika mereka sedang makan. Pokoknya aman.
Satu-satunya kebun binatang di Kalimantan Timur adalah Kebun Raya Unmul yang terletak di Samarinda. Bukan di tengah kota, tetapi di pinggir jalan yang menghubungkan Samarinda-Bontang. Dua kali saya berkunjung ke tempat wisata yang ada patung dinosaurusnya ini. Denger-denger sih, disini bakalan dibuat kebun binatang ala Jatim Park gitu. Penasaran saya. Secara konsep, kebun binatang unmul ini sebetulnya bagus. Setidaknya kita masih bisa mendapatkan suasana hutan disini. Hanya saja kurang mendapat perhatian lebih. Jika dikembangkan dan ditata dengan lebih militan, saya kira kebun binatang ini pasti spektakuler.
Saking spektakulernya, pengunjung yang datang kemari bisa berinteraksi dengan binatangnya jika berada di waktu yang tepat dan "beruntung". Jarang-jarang loh ada pengunjung yang bisa berinteraksi langsung dengan si binatang tanpa ditunggui pawangnya alias petugas kebun binatang. Saya mengalaminya Desember lalu ketika berkunjung ke tempat ini bersama kawan. Bukannya apa-apa, tapi ini sebetulnya insiden yang membuat heboh kami berlima.
Saya dan suami beserta keluarga kawan kala itu sedang takjub melihat orang utan remaja. Karena di papan kayu depan kandang orang utan tertulis nama masing-masing orang utan, kawan saya inipun dengan lantang memanggil mereka dengan namanya, salah satunya bernama oki. Ah orang utan remaja satu ini yang paling membekas di benak saya. Kandang orang utan ini besar dan menjorok ke bawah. Kandang ini dibagi dua dan dipisahkan oleh pagar dalam yang kira-kira tingginya 2 meter. Sedangkan pagar yang mengelilingi kandang ini mencapai kira-kira 4 meter (agaknya) di sisi dalamnya. Tapi di sisi luar, tinggi pagar tak lebih dari 1,5 meter karena saya bisa melongok ke dalam. Aman doooonk.
Ketika kami sedang asyik melihat ulah orang utan remaja, tiba-tiba salah satu dari mereka berjalan di atas pagar dalam yang membagi kedua kandang. Kala itu kami tidak berpikir macam-macam sampai si orang utan ini mendadak sampai di pagar terluar yang berbatasan dengan jalan setapak tempat kami berdiri dan nangkring diatasnya. Saya mbatin, wah orang utannya lepas. Dan benar, si orang utannya itu turun dari pagar dengan santainya menuju tempat kami berdiri. Saya nggak sadar kalau sedang teriak-teriak. Apalagi kawan saya ini bawa anaknya. Duuhhh.
Suami saya dan kawan ini tidak bergerak dari posisi berdirinya karena mengira yang lepas cuma satu, meskipun saya sudah beri peringatan bahwa ada gerombolan orang utan yang sedang meniti pagar menuju ke pagar terluar. Saya sudah deg-deg'an setengah mati karena meskipun badan orang utan ini kecil tapi tangan mereka kuat sekali. Saya sudah ancang-ancang lari ketika tiga orang utan lainnya sudah nangkring di atas pagar terluar. Dan ketika ketiga orang utan ini bergabung dengan orang utan pertama yang duluan keluar kandang, kami langsung balik badan dan bergegas mencari jalur pelarian tercepat. Cemas karena gerombolan orang utan itu mengikuti kami dengan santai. Mereka kan tukang gelantungan, nah kami cuma bisa lari lewat jalan darat yang licin. Bisa mati kutu kami jika mereka mendahului pelarian kami dan menghadang di ujung jalan. "Nah kena kaliaaann .. mana tadi yang manggil-manggil saya," mungkin begitu batin si orang utan jika adegan penghadangan itu benar-benar terjadi.
Untungnya ada petugas jaga sehingga kami memberitahu mereka jika ada beberapa orang utan yang lepas. Dari empat orang utan yang lepas, hanya satu yang ngeyel menolak masuk kandang dan naik ke atas pohon. Namanya Oki. Hingga kami beranjak pulang, si Oki masih menolak turun meski diiming-imingi susu. Nah siapa dalang dibalik buronnya Oki dan kawan-kawan ini? Kami tak tahu. Tapi kami menduga dalang di balik pelarian Oki dkk adalah ranting besar yang jatuh dan mengenai pagar dalam yang akhirnya digunakan oleh Oki dkk untuk memanjat pagar dalam. Eh tunggu dulu, pelarian mereka agaknya juga dipicu oleh kawan saya yang memanggil-manggil nama mereka .. yuhuuuuu. Nyatanya mereka langsung mendekati kami.
Jadi jika kalian ingin berinteraksi dengan mereka, panggilah nama mereka dan menunggu jika ada ranting jatuh.
Salam untuk Oki dkk
Jangan nakal yaaaa
Atha Ajo
Rabu, 08 Januari 2014
Androgini dan masa lalu
Setelah selesai mengerjakan pekerjaan membabu buta, saya biasanya langsung membuka lapi dan koran atau majalah. Kadang-kadang saya menghidupkan televisi untuk sekedar tahu kabar terbaru atau mengintip sejenak channel yang menayangkan beragam video klip. Secara kebetulan channel musik yang saya intip sedang menayangkan video klip milik boyband pria muda asal Korea Selatan. Saya tidak hapal nama grupnya. Kontur wajah masing-masing personel hampir sama. Putih, mancung, tirus, dan mata belok.
Mungkin saya tidak akan mengira mereka lelaki jika mereka dandan seperti perempuan karena mereka sudah bertransformasi menjadi pria cantik. Kalau anak ABG jaman sekarang menyebutnya sebagai cowok "unyu-unyu". "Uuuh .. unyu-unyu bangeettt," kata cewek ABG sambil nunjukin poster artis Korea ke temen-temennya. Sudah bukan rahasia lagi dong jika kebanyakan dari mereka katanya melakukan operasi plastik demi mendapatkan wajah elok unyu-unyu itu.
Jika ada pria yang mati-matian mempermak mukanya dengan operasi plastik demi wajah ala Ken Barbie atau pria cantik ala Korsel, maka ada pria yang mendapatkan "anugerah" itu secara alamiah. Salah satu yang saya kenal karena kecantikan alaminya adalah model pria asal Serbia-Australia bernama Andrej Pejic. Dia adalah model androgini yang pasti membuat kaum hawa iri setengah mati saking seksinya. Bukan bahenol loh, tapi saya yakin deh kalo disejajarkan sama Alexandro Ambrosia si Victoria's Secret bakalan sama.
Label androgini sendiri diberikan jika seseorang tidak dapat sepenuhnya cocok dengan peranan gender maskulin dan feminin yang tipikal dalam masyarakat (ah jadi ingat masa lalu). Dari yang saya baca di Wikipedia, banyak androgini yang menggambarkan dirinya secara mental "di antara" laki-laki dan perempuan, atau sama sekali tidak bergender. Mereka dapat menggolongkan diri mereka sebagai orang yang tidak bergender, a-gender, antar-gender, bigender, atau genderfluid (yang gendernya mengalir). Nah Indonesia sendiri juga memiliki model androgini, namanya Darell Ferhostan.
Entah berawal darimana, kini banyak pria-pria yang mencoba menjadi cantik. Iya doonk masak kalah sama cewek. Mulai dari mengoleksi berbagai macam obat perawatan hingga operasi plastik yang mengubah total bentuk muka. Apalagi sejak kemunculan artis-artis Korea, enggak sedikit juga yang wara-wiri di televisi muncul dengan hidung manekinnya. Duh lama-lama kok lebih rempong dari perempuan. Enggak .. enggak salah koook. Toh itu hak kalian para pria. Kaum hawa saja ada emansipasi wanita, masak kalian tidak punya emansipasi pria.
Nah bagaimana dengan perempuan androgini? Saya belum menemukan contoh model perempuan androgini. Tapi saya pernah merasakan bagaimana menjadi seperti androgini ketika saya dicegah masuk toilet perempuan (kala itu saya masih SMP) oleh mbak-mbak penjaga gegara penampilan saya enggak perempuan banget. Rasanya galau lohh. Tampangnya lelaki enggak, perempuan juga enggak .. hermaprodit pokoknya waktu itu. Hati perempuan, tapi wujud tidak mendukung. Menentukan kostum pun jadi susah. Pengen penampilan feminim tapi kok enggak cocok, takut dibilang "ih cowok kok ngonde". Kalo kostumnya biasa yang adalah kaos dan jeans, pasti enggak kelihatan ceweknya.
Serius, saya enggak cocok pakai baju perempuan sampai level SMA. Bahkan ketika saya naek becak sama sahabat cewek saya yang tetanggaan selepas pulang dari acara festival di sekolah SMP, beberapa laki-laki tua sempat singsotin kami. "Suit-suit .. kecil-kecil pacaran nih yee .. mesraa mesraaa," doohhh belum pernah digampar becak ya. Salah identifikasi masih saya alami hingga kuliah. Padahal saya sudah mengenakan baju yang mengidentifikasi saya sebagai perempuan. Tapi masih saja dipanggil "Mas-mas tanya dong .. eh maaf mbak,". Tapi yang saya heran, ketika rambut saya panjang dan saya gelung, masih saja ada yang manggil "mas-mas". Saya curiga salah identifikasi ini akibat bulu-bulu tipis yang nangkring di atas bibir saya. Tapi masih kalah lebat dengan kakak perempuan saya.
Tapi itu sudah berlaluuuu .. uu .. uu. Kata orang rumah, perubahan saya itu muncul ketika pacaran dan kawin. Ah nggak juga, karena kumis itu masih ada. "Lebih perempuan," kata saudara. Emangnya saya dulu apaan. Tinggal satu yang membuat orang penasaran ketika berpapasan dengan saya. Lelaki boleh tampil cantik, saya sebagai perempuan juga boleh dong punya kumis alami. Masalahnya saya sekarang enggak diperbolehkan potong rambut pixy oleh suami. Salah satu hal yang saya rindukan. Jadi muka boleh berkumis, tapi hati tetep perempuan.
Salam Kumis Kucing dari ujung Timur,
Atha Ajo
Back to the 90's Part II
Saya besar di era 90'an. Jadi saya masih sempat menikmati hiburan yang meskipun dianggap lawas dan enggak moderen (pada saat ini) tapi menyuguhkan berbagai elemen yang saya kira justru lebih mendidik. Biar dikata dulu cuma ada statiun TVRI saat saya TK dan SD, tapi saya tetap bersyukur. Beberapa acara yang menjadi favorit saya adalah Unyil dan Bangun Desa. Kemudian ada Aneka Ria Safari yang menampilkan artis artis lawas. Ah Atiek CB .. Dan saya yang masih duduk di kelas 1 SD akan galau jika soundtrack "Dunia Dalam Berita" berkumandang. Itulah waktunya saya harus masuk kamar dan tidur. Enggak kayak anak-anak sekarang yang kebanyakan baru tidur diatas pukul 21.00 WIB.
Serial Unyil cukup mengaduk-aduk emosi saya waktu itu. Saya tumbuh bersama Unyil, pak Ogah, Melani dan Pak Raden. Begitu membekas di otak saya bagaimana karakter Bu Bariyah si penjual gado-gado dan Pak Ogah yang suka mintain duit cepek berkembang. Masing-masing lakon serial ini begitu kuat sampai-sampai saya pasti nyelethuk "Ah dasar Pak Raden," jika ada orang yang lebih tua galak. Salah satu hal yang mengajari saya tentang toleransi adalah pluralisme yang ditunjukkan oleh Melani dan Unyil. Ada yang Natalan dan Lebaran. Hal-hal ini yang kini hilang di tayangan-tayangan nasional kita jaman sekarang. Bisa jadi kalau kedua hal ini dipadukan dalam satu frame malah akan membawa cercaan di sekelumit kalangan. Yakin deh.
Saya sampai belajar menonton sinetron dan tayangan hiburan tanah air loh hanya untuk membandingkan tontonan jaman dulu dan jaman sekarang. Kurang kerjaan memang. Tapi saya jadi bisa memahami, bahwasanya kita mengalami kemunduran mental dan emosional gara-gara tayangan-tayangan itu (sory no offense yaa nyahahaha). Empat hari ini adalah hari terparah dan saya belum bisa membedakan dua judul sinetron yang berbeda. Karena sama semuaaaaa. Karakternya sama, tokohnya sama, efek suaranya juga sama (yang mana ketika kamera meng-close up tokoh yang sedang mendelik-ndelik, maka efek suaranya akan seperti jeng jeng jeeeeng).
Yang jelas banyak karakter-karakter yang memperagakan bagaimana berkacak pinggang yang baik dan benar ketika sedang marah-marah. Atau memperagakan bagaimana melancarkan modus balas dendam sambil mendengus-ndengus dan merencanakan sesuatu yang jahat. Saya langsung nyeri kepala hebat dan saya sudahi riset saya daripada saya ikutan linglung. Berbeda dengan sinetron mBangun Deso yang selalu saya nanti bersama keluarga. Saking kuatnya karakter Den Baguse Ngarso, saya selalu melihat Pak Susilo Nugroho sebagai Den Baguse Ngarso yang nyenyengit, pelit, dan keminter. (Hehehehe no offense ya Paakkkk .. I lop u deh).
Kemudian ada karakter Pak Bina yang diperankan oleh Heru Kesawa Murti yang digambarkan sebagai panutan desa, yang selalu ada dan memberikan binaan ketika masyarakat datang dan mengeluh. Ada juga tokoh Sronto dan Yu Sronto yang lugu dan polos. Jangan lupakan Kuriman yang selalu emosi tapi masih bisa meredakan amarah Den Baguse Ngarso. Tayangan ini kala itu memang ngetop dan dinanti-nanti karena mungkin tidak ada sinetron tandingan. Tapi jika serial ini ditayang ulang di jaman sekarang dimana banyak saingannya, saya tetap memilih Mbangun Deso sebagai tontonan rutin.
Sinetron yang tayang di TVRI pada era 90'an ini menjadi satu-satunya sinetron yang menurut saya layak untuk ditonton meskipun didalam ceritanya ada selipan program-program pemerintah mulai dari bidang kesehatan hingga ekonomi. Toh ndak perlu sudut-sudut pengambilan gambar yang ekstrem untuk menghasilkan tayangan yang membina. Bahkan visualisasi kartun serial tentang kambing masih lebih bagus daripada sinetron kolosal yang peperangannya dengan mahkluk jejadian digitalisasi.
Hal yang sama juga terjadi pada tayangan hiburan musik abal-abal. Saya mendambakan acara-acara hiburan ala MTV yang dipadu Sarah Sechan dan Jamie Aditya, dimana acara musik adalah acara musik, bukan acara banyolan yang diselipi musik. Sebelum statiun tv swasta muncul (pertama kali nonton TV swasta, saya masih kagum dengan iklan komersialnya loh), TVRI sudah punya Aneka Ria Savari. Namun yang paling nyanthol di benak saya ya MTV itu. Pertama kali melihat Jamie Aditya di MTV saat SMA dimana hormon puber sedang menjadi-jadi .. aduhai. Nah yang terjadi sekarang adalah statiun TV swasta kita yang menjadi latah. Saking latahnya, pemandu acara "keroyokan" yang ditampilkan pun sama atau disama-samakan. Kenapa musti keroyokan.
Dulu dan sekarang memang beda. Jika dulu kita hanya disuguhi TVRI dan Dunia Dalam Berita-nya, sekarang kita punya banyak pilihan statiun TV swasta. Tapi pada akhirnya sama juga, kita tidak mendapat hiburan yang bervariasi. Yang ditayangkan kalau nggak tayangan joget masal yang latah, acara banyol-banyolan semau gue, dan sinetron yang tiada mati bulu matanya. Sama aja kan. Jadi pilihannya apa. Membawa memori 90'an ke jaman ini itu harus demi kesehatan emosional. Pada akhirnya yang terjadi adalah kita harus merogoh kocek untuk tayangan yang bermutu lewat TV berbayar.
.. Ah nonton gratisan kok minta bermutu ..
Salam Prihatin,
Atha Ajo
Selasa, 10 Desember 2013
Back to the 90'an Part I
Tentang apa yang kita tonton dan dengarkan adalah keren!!
Saya bangga karena tumbuh kembang di era 90'an. Era dimana segala perubahan sedang terjadi dan era yang dipenuhi oleh kebahagiaan sederhana dengan segala perbedaan yang ada. Iya loh .. kalau dipikir-pikir era itu menjadi era emas [bagi saya]. Masa SD hingga SMA saya dihabiskan di era itu, yang artinya saya menikmati segala imajinasi tanpa cengkeraman teknologi. Generasi yang bangga ketika kamarnya dipenuhi pin-up idola.
Idola adalah segalanya
Kalian yang satu generasi dengan saya pasti tahu dong idola-idola yang bakalan saya sebut. Salah satu majalah remaja yang menjadi favorit saya waktu itu [dan masih ada sampai sekarang dengan segala perubahannya] adalah majalah kaWanku. Majalah ini rajin membagi-bagi pin-up yang ada garis putus-putus di pinggir dengan gambar gunting di ujungnya. Ada Devon Sawa, Jonathan Brandis, GreenDay, Nirvana, Oasis, Blur, Metallica, NSYNC, BackstreetBoys, NKOTB. Nah yang lokal ada Kla, Slank, Gigi, Anggun, Dewa 19, Jamrud, dan Atiek CB [idola saya waktu SD].
Jika remaja sekarang bangga memfollow twitter atau meng-like Facebook idola, maka saya dulu bangga memajang pin-up dan poster mereka. Dan ketika ada kawan berujar "Waow kamarmu keren tha," itu adalah pengakuan bahwa kita paling grunge. Keberadaan binder dengan segala stikernya juga menjadi ajang eksistensi saya. Bangga dong binder kita menjadi tontonan dan membuat kawan terpukau. Jika remaja sekarang bisa men-twit idola mereka, saya dulu cukup memandangi stiker dan potongan majalah yang ditempel di binder saat bosan dengan pelajaran. Berasa ditemani oleh sang idola.
Saya punya CD Blur waktu itu yang dibeli di ngejaman Malioboro. Hasilnya saya berusaha merekam lagu-lagu Blur ke dalam kaset agar bisa saya nikmati saat studytour. Boro-boro Mp3, player CD portabel kala itu menjadi barang langka yang hanya dimiliki oleh anak-anak kaya. Yang jelas, idola-idola era 90'a bagi saya lebih beragam jenisnya ketimbang sekarang yang didominasi boyband-girlband dan grub band yang mengharu biru. Aaaaahhhh Koreaaa lagiii ..
Generasi dimana MTV adalah keren
Tahu kan channel TV ini? Dengan host Sarah Sechan dan Jamie Aditya. Ini adalah tontonan wajib jika ingin dibilang keren, kala itu. Apalagi Jamie Aditya menjadi host yang bikin saya enggak pernah meleng dari TV. Dulu channel ini masih tayang di televisi nasional. Sekarang, kita harus menggunakan jasa TV kabel untuk menontonnya dengan biaya yang tak murah. Dengan hilangnya program-program MTV di stasiun TV nasional, hilang sudah update lagu-lagu baru. Yang muncul di TV nasional sekarang hanyalah acara-acara musik yang lebih banyak mbanyolnya daripada musiknya dan dibumbui dengan tarian cuci-cuci baju dengan musik yang itu-itu saja.
Antara MacGyver, Knight Rider, dan Baywatch
Serial MacGyver menjadi serial yang jangan sampai terlewatkan karena keesokan harinya pasti akan menjadi perbincangan seru di sekolah. Jika ada teman atau kita yang bisa perbaikin barang dalam sekejab, pasti ada yang nyeletuk "Wuiihh .. MacGyver nih yee,". Hal yang sama juga terjadi pada Knight Rider dan Baywatch. Khayalan memiliki mobil yang bisa diajak bicara dan menjadi penjaga pantai pasti mengiringi menjelang tidur. [Ngayal kapan parangtritis bisa punya penjaga pantai seperti itu lengkap dengan pondokannya].
Yang paling fenomenal adalah serial lokal Unyil. Serial ini yang membuat saya mengharu biru dan gembira saat SD. Serial yang memberi saya contoh bahwa perbedaan itu adalah indah. Ada Pak Raden yang galak tapi sebenarnya baik hati. Ada yang lebaran juga natalan. Ada Melani dan Bu Bariyah. Ada juga penjahatnya yang selalu pakai baju garis garis. Bahkan orang gila pun diberi tempat di serial dengan nyanyian khususnya "Dimana anakku .. oh dimana istriku,". Jangan lupa Unyil punya band yang dinamakan Band Dekil yang populer dengan lagu bermuatan visi pemerintah berjudul "Aku Anak Sehat". Semua suku dan perbedaan agama dituangkan di serial itu. Kalaupun ada konflik, pasti ada penyelesaian dengan baik dan benar. Sayangnya Unyil jaman sekarang hanya menjadi presenter. Kasihan ya, dari jaman 80'an sampai sekarang masih SD.
Bandingkan saja dengan acara televisi jaman sekarang yang hanya mengejar rating dengan biaya murah. Sinetron yang hanya ada balas dendam antara anak tiri dan ibu barunya, reality show setingan, infotainment yang tayangin artis yang enggak malu buka aibnya karena sudah dihamili, program acara dengan gerombolan host dan permainan enggak penting [kejar tayang lagiii], berita televisi yang kadang-kadang enggak netral karena pemiliknya mau jadi nomor satu di negeri ini. Ahh .. masih banyak lagi. Dan fenomena goyang-goyang dengan banyak nama itu sudah berlebihan.
Generasi penyanyi cilik merajalela
Kala itu program acara Tralala Trilili menjadi trend di kalangan remaja-remaja cilik. Dipandu oleh Indra Bekti dan Agnes Monika, program ini menjadi unggulan karena menampilkan penyanyi-penyanyi cilik. Saya dan sepupu-sepupu mendapatkan hak kami untuk menikmati hiburan yang sesuai dengan umur kami kala itu. Enggak seperti anak-anak kecil sekarang yang sudah hapal lagu Noah. Trio Kwek-kwek, Cikita Meidi, Joshua, Bondan Prakoso, Ria Enes dan Susan, DLL menjadi hiburan di kala sore sehabis mandi. Ucap terima kasih kepada Papa T. Bob yang sudah mengarang lagu anak-anak dengan kreatif.
Pada akhirnya saya melihat era 90'an sebagai era yang berwarna. Dan era sekarang adalah era kemunduran. Tidak ada generasi penyanyi cilik yang sesuai umurnya. Tidak ada program televisi yang membina kecerdasan karena isinya hanya banyolan tak bermutu. Ahh saya jadi kangen dengan program Mbangun Ndeso'nya TVRI. Juga kangen dengan lawakan versi Srimulat era 90'an yang sederhana tapi menjadi tontonan lumayan karena sangat tertolong oleh karakter pemainnya yang sudah matang di dunia panggung. Tapi yang sering saya putar ulang adalah Warkop yang menyuguhkan komedi slapstik segar di televisi. Lalu apa yang harus dilakukan? Ya matikan TV saja. Kumpulkan memori-memori tahun 90'an seperti saya yang mengkoleksi DVD'nya warkop dan menontonnya bersama suami. Paling banter pasang TV kabel untuk nonton program bermutu seperti animal planet atau national geografi. Atau koleksi album lagu untuk didengarkan sambil baca komik. Jadi beruntunglah anda yang hidup di jaman itu.
Salam Generasi 90'an
Atha Ajo
Saya bangga karena tumbuh kembang di era 90'an. Era dimana segala perubahan sedang terjadi dan era yang dipenuhi oleh kebahagiaan sederhana dengan segala perbedaan yang ada. Iya loh .. kalau dipikir-pikir era itu menjadi era emas [bagi saya]. Masa SD hingga SMA saya dihabiskan di era itu, yang artinya saya menikmati segala imajinasi tanpa cengkeraman teknologi. Generasi yang bangga ketika kamarnya dipenuhi pin-up idola.
Idola adalah segalanya
Kalian yang satu generasi dengan saya pasti tahu dong idola-idola yang bakalan saya sebut. Salah satu majalah remaja yang menjadi favorit saya waktu itu [dan masih ada sampai sekarang dengan segala perubahannya] adalah majalah kaWanku. Majalah ini rajin membagi-bagi pin-up yang ada garis putus-putus di pinggir dengan gambar gunting di ujungnya. Ada Devon Sawa, Jonathan Brandis, GreenDay, Nirvana, Oasis, Blur, Metallica, NSYNC, BackstreetBoys, NKOTB. Nah yang lokal ada Kla, Slank, Gigi, Anggun, Dewa 19, Jamrud, dan Atiek CB [idola saya waktu SD].
Jika remaja sekarang bangga memfollow twitter atau meng-like Facebook idola, maka saya dulu bangga memajang pin-up dan poster mereka. Dan ketika ada kawan berujar "Waow kamarmu keren tha," itu adalah pengakuan bahwa kita paling grunge. Keberadaan binder dengan segala stikernya juga menjadi ajang eksistensi saya. Bangga dong binder kita menjadi tontonan dan membuat kawan terpukau. Jika remaja sekarang bisa men-twit idola mereka, saya dulu cukup memandangi stiker dan potongan majalah yang ditempel di binder saat bosan dengan pelajaran. Berasa ditemani oleh sang idola.
Saya punya CD Blur waktu itu yang dibeli di ngejaman Malioboro. Hasilnya saya berusaha merekam lagu-lagu Blur ke dalam kaset agar bisa saya nikmati saat studytour. Boro-boro Mp3, player CD portabel kala itu menjadi barang langka yang hanya dimiliki oleh anak-anak kaya. Yang jelas, idola-idola era 90'a bagi saya lebih beragam jenisnya ketimbang sekarang yang didominasi boyband-girlband dan grub band yang mengharu biru. Aaaaahhhh Koreaaa lagiii ..
Generasi dimana MTV adalah keren
Tahu kan channel TV ini? Dengan host Sarah Sechan dan Jamie Aditya. Ini adalah tontonan wajib jika ingin dibilang keren, kala itu. Apalagi Jamie Aditya menjadi host yang bikin saya enggak pernah meleng dari TV. Dulu channel ini masih tayang di televisi nasional. Sekarang, kita harus menggunakan jasa TV kabel untuk menontonnya dengan biaya yang tak murah. Dengan hilangnya program-program MTV di stasiun TV nasional, hilang sudah update lagu-lagu baru. Yang muncul di TV nasional sekarang hanyalah acara-acara musik yang lebih banyak mbanyolnya daripada musiknya dan dibumbui dengan tarian cuci-cuci baju dengan musik yang itu-itu saja.
Antara MacGyver, Knight Rider, dan Baywatch
Serial MacGyver menjadi serial yang jangan sampai terlewatkan karena keesokan harinya pasti akan menjadi perbincangan seru di sekolah. Jika ada teman atau kita yang bisa perbaikin barang dalam sekejab, pasti ada yang nyeletuk "Wuiihh .. MacGyver nih yee,". Hal yang sama juga terjadi pada Knight Rider dan Baywatch. Khayalan memiliki mobil yang bisa diajak bicara dan menjadi penjaga pantai pasti mengiringi menjelang tidur. [Ngayal kapan parangtritis bisa punya penjaga pantai seperti itu lengkap dengan pondokannya].
Yang paling fenomenal adalah serial lokal Unyil. Serial ini yang membuat saya mengharu biru dan gembira saat SD. Serial yang memberi saya contoh bahwa perbedaan itu adalah indah. Ada Pak Raden yang galak tapi sebenarnya baik hati. Ada yang lebaran juga natalan. Ada Melani dan Bu Bariyah. Ada juga penjahatnya yang selalu pakai baju garis garis. Bahkan orang gila pun diberi tempat di serial dengan nyanyian khususnya "Dimana anakku .. oh dimana istriku,". Jangan lupa Unyil punya band yang dinamakan Band Dekil yang populer dengan lagu bermuatan visi pemerintah berjudul "Aku Anak Sehat". Semua suku dan perbedaan agama dituangkan di serial itu. Kalaupun ada konflik, pasti ada penyelesaian dengan baik dan benar. Sayangnya Unyil jaman sekarang hanya menjadi presenter. Kasihan ya, dari jaman 80'an sampai sekarang masih SD.
Bandingkan saja dengan acara televisi jaman sekarang yang hanya mengejar rating dengan biaya murah. Sinetron yang hanya ada balas dendam antara anak tiri dan ibu barunya, reality show setingan, infotainment yang tayangin artis yang enggak malu buka aibnya karena sudah dihamili, program acara dengan gerombolan host dan permainan enggak penting [kejar tayang lagiii], berita televisi yang kadang-kadang enggak netral karena pemiliknya mau jadi nomor satu di negeri ini. Ahh .. masih banyak lagi. Dan fenomena goyang-goyang dengan banyak nama itu sudah berlebihan.
Generasi penyanyi cilik merajalela
Kala itu program acara Tralala Trilili menjadi trend di kalangan remaja-remaja cilik. Dipandu oleh Indra Bekti dan Agnes Monika, program ini menjadi unggulan karena menampilkan penyanyi-penyanyi cilik. Saya dan sepupu-sepupu mendapatkan hak kami untuk menikmati hiburan yang sesuai dengan umur kami kala itu. Enggak seperti anak-anak kecil sekarang yang sudah hapal lagu Noah. Trio Kwek-kwek, Cikita Meidi, Joshua, Bondan Prakoso, Ria Enes dan Susan, DLL menjadi hiburan di kala sore sehabis mandi. Ucap terima kasih kepada Papa T. Bob yang sudah mengarang lagu anak-anak dengan kreatif.
Pada akhirnya saya melihat era 90'an sebagai era yang berwarna. Dan era sekarang adalah era kemunduran. Tidak ada generasi penyanyi cilik yang sesuai umurnya. Tidak ada program televisi yang membina kecerdasan karena isinya hanya banyolan tak bermutu. Ahh saya jadi kangen dengan program Mbangun Ndeso'nya TVRI. Juga kangen dengan lawakan versi Srimulat era 90'an yang sederhana tapi menjadi tontonan lumayan karena sangat tertolong oleh karakter pemainnya yang sudah matang di dunia panggung. Tapi yang sering saya putar ulang adalah Warkop yang menyuguhkan komedi slapstik segar di televisi. Lalu apa yang harus dilakukan? Ya matikan TV saja. Kumpulkan memori-memori tahun 90'an seperti saya yang mengkoleksi DVD'nya warkop dan menontonnya bersama suami. Paling banter pasang TV kabel untuk nonton program bermutu seperti animal planet atau national geografi. Atau koleksi album lagu untuk didengarkan sambil baca komik. Jadi beruntunglah anda yang hidup di jaman itu.
Salam Generasi 90'an
Atha Ajo
Senin, 09 Desember 2013
Tipe-tipe pengendara sepeda motor
Hari demi hari intensitas saya untuk marah-marah semakin tak terkontrol. Emosi yang paling menjengkelkan ini dimulai ketika saya keluar dari rumah. Nah semakin memuncak itu ketika saya berada di jalan raya [Enggak makan daging tapi tetep hipertensi]. Kesel saya jika ada pengendara motor yang bat-bit-but-bet-bot memacu motornya. Jadi di postingan ini saya akan meruntut tipe-tipe pengendara motor dari yang ngeselin sampai yang bikin gregetan. Emang iya saya nggak ada kerjaan saat pulang kampung. hasilnya adalah saya sukses mengamati tingkah laku pengendara motor. Pengamatan ini sudah dilakukan dengan profesional melalui observasi lapangan langsung.
1. Kebelet BAB. Tipe pengendara ini biasanya memacu kendaraannya hingga angka 70 Km/jam di jalan kampung. Jalannya zig-zag. Apa saja dilakukan demi menyeruak kemacetan. Eh emangnya ini jalanan punya nenek loe, namanya aja macet, mau diklakson sampe accunya tekor juga nggak bakalan bisa jalan. Jika sedang terhenti di lampu merah, pengendara ini akan terpicu adrenalinnya. Cita-citanya jadi pembalap akan disalurkan tatkala lampu berubah hijau. Apalagi di tiap perempatan ada timernya, jadi tipe ini berasa Valentino Rossi. Detik'an ini juga akan mendorong mereka untuk semakin memacu kendaraan saat lampu hijau akan berubah merah.
2. Gadget sejati. Mungkin karena nggak mampu beli earphone atau ponselnya yang cuma bisa nerima telpon atau SMS, biasanya pengendara motor tipe ini suka menyelipkan ponselnya diantara helm dan kuping sembari berkendara. "Iya Mah .. Papah sedang di jalan mau pulang .. blablabla," kata seorang bapak yang saya kira agak-agak kurang satu ons karena ngomong sendiri. Anak muda juga ada yang model beginian. Tapi yang diselipkan diantara helm dan kuping adalah Android Phablet yang tau sendiri kan segedhe gaban.
3. Gadget sejati part II. Saya paling sebal dengan tipe pengendara yang beginian. Kayak dunia bakalan hancur lebur kalau nggak bales SMS. Mungkin pengendara tipe ini belum berasa afdoll jika belum SMS saat berkendara. Ciri-cirinya, kepala suka tingak-tinguk, kadang-kadang fokus cuma di hape doang dan memacu kendaraan 20 Km/jam tanpa arah, posisi kendaraan nanggung enggak di tengah juga enggak dipinggir. Nah bagi pengendara yang sudah mahir bahkan bisa SMS tanpa melihat hape.
4. Dunia hanya milik kita berdua Mas. Nah tipe pengendara yang ini biasanya baru saja jadian. Biasanya kendaraan dipacu pelan-pelan biar lama sampai tujuan. Enggak perduli pelan-pelannya mau ditengah atau dipinggir, selama boncengan milik berdua, jalanan terasa sepi. Mungkin kalau perlu pengendara ini bakalan datangi titik-titik kemacetan biar makin lama boncengannya.
5. Kalem. Pengendara tipe ini biasanya Ibu-ibu yang mungkin belum paham untuk berbagi ruang di jalan raya dengan pengendara lain. Memang enggak semua, tapi saya sering ketemu yang beginian di jalan raya. Iya saya tahu bu kalau kondisi jalan raya sedang sepi, tapi kan bukan berarti harus berkendara di tengah jalan dengan kecepatan 30 Km/jam kan bu. Ada baiknya kalau di klakson itu minggir, jangan keukeuh tetep di tengah jalan. Saya kan naik mobil bu, masak iya harus trobos trotoar.
6. Tukang ngalamun. Sebenarnya saya prihatin dengan tipe pengendara yang ini. Karena kadang-kadang suka nempel di bodi mobil saya. Yang tadinya jarak kendaraan kami dua meteran, lama-lama si pengendara ini makin mepet dan jaraknya tinggal kurang dari sejengkal. Baru sadar dari lamunan setelah saya klakson dan menjaga jarak lagi. Duh mas, kalau lagi susah mending di rumah aja. Kasihan loh motor mahalnya kalau nyium mobil saya. Tetanus looooooohhhhh ...
7. Gerombolan si berat. Biasanya tipe ini suka nge-gerombol jika sedang berkendara. Mungkin ngobrol sambil nongkrong sudah nggak trend lagi, jadi mereka milih ngobrol sambil berkendara. Enggak arisan sekalian mas????
8. Hati-hati tapi apes juga. Nah tipe ini memilih untuk fokus berkendara. Tapi sayangnya, meskipun sudah hati-hati dan mentaati semua rambu-rambu di jalan, nasibnya masih tetep apes karena ulah pengendara lain yang ugal-ugalan.
Nah hal yang sama sebetulnya juga terjadi pada pengendara mobil yang kian kemari kian jauh dari norma berkendara. Kenapa? Karena pengendara motor yang beralih status menjadi pengendara mobil belum sanggup meninggalkan "karakternya" sebagai pengendara motor. Ya iyalah beda karakter, kalau motor bodinya kecil, kalo mobil bodinya gedhe. Kamu nggak bisa mengendarai mobil ala motor.
9. Parkir disorder. Ini nih yang paling dibenci. Penyakit parkir yang enggak ilang-ilang, bikin yang lain kagak kebagian parkir. Saya sering batal ke pusat perbelanjaan karena nggak ada tempat parkir. Paling sakit hati jika ada mobil mini yang parkir ngangkang'in marka parkir. Jadi spot parkir yang harusnya untuk tiga mobil, cuma diisi dua mobil gegara si mobil "mainan" ini rakus. Penyakit nggak mau jalan jauh karena parkir kejauhan juga pernah saya alami. Tamu dari tetangga saya yang bikin hajatan memarkir mobilnya yang bisa parkir sendiri persis di depan gerbang. Nggak takut tuh pak kalau kena karat mobil saya??
Intinya adalah jalan raya sudah menjadi salah satu momok dan penyebab hipertensi. Kadang-kadang menjadi pengendara yang baik dan benar belum tentu menyelamatkan jiwa. Tapi setidaknya sudah usaha betul jadi pengendara yang memahami etika berkendara dan berparkir.
Salam buat yang suka ngangka'in marka parkir
Atha Ajo
1. Kebelet BAB. Tipe pengendara ini biasanya memacu kendaraannya hingga angka 70 Km/jam di jalan kampung. Jalannya zig-zag. Apa saja dilakukan demi menyeruak kemacetan. Eh emangnya ini jalanan punya nenek loe, namanya aja macet, mau diklakson sampe accunya tekor juga nggak bakalan bisa jalan. Jika sedang terhenti di lampu merah, pengendara ini akan terpicu adrenalinnya. Cita-citanya jadi pembalap akan disalurkan tatkala lampu berubah hijau. Apalagi di tiap perempatan ada timernya, jadi tipe ini berasa Valentino Rossi. Detik'an ini juga akan mendorong mereka untuk semakin memacu kendaraan saat lampu hijau akan berubah merah.
2. Gadget sejati. Mungkin karena nggak mampu beli earphone atau ponselnya yang cuma bisa nerima telpon atau SMS, biasanya pengendara motor tipe ini suka menyelipkan ponselnya diantara helm dan kuping sembari berkendara. "Iya Mah .. Papah sedang di jalan mau pulang .. blablabla," kata seorang bapak yang saya kira agak-agak kurang satu ons karena ngomong sendiri. Anak muda juga ada yang model beginian. Tapi yang diselipkan diantara helm dan kuping adalah Android Phablet yang tau sendiri kan segedhe gaban.
3. Gadget sejati part II. Saya paling sebal dengan tipe pengendara yang beginian. Kayak dunia bakalan hancur lebur kalau nggak bales SMS. Mungkin pengendara tipe ini belum berasa afdoll jika belum SMS saat berkendara. Ciri-cirinya, kepala suka tingak-tinguk, kadang-kadang fokus cuma di hape doang dan memacu kendaraan 20 Km/jam tanpa arah, posisi kendaraan nanggung enggak di tengah juga enggak dipinggir. Nah bagi pengendara yang sudah mahir bahkan bisa SMS tanpa melihat hape.
4. Dunia hanya milik kita berdua Mas. Nah tipe pengendara yang ini biasanya baru saja jadian. Biasanya kendaraan dipacu pelan-pelan biar lama sampai tujuan. Enggak perduli pelan-pelannya mau ditengah atau dipinggir, selama boncengan milik berdua, jalanan terasa sepi. Mungkin kalau perlu pengendara ini bakalan datangi titik-titik kemacetan biar makin lama boncengannya.
5. Kalem. Pengendara tipe ini biasanya Ibu-ibu yang mungkin belum paham untuk berbagi ruang di jalan raya dengan pengendara lain. Memang enggak semua, tapi saya sering ketemu yang beginian di jalan raya. Iya saya tahu bu kalau kondisi jalan raya sedang sepi, tapi kan bukan berarti harus berkendara di tengah jalan dengan kecepatan 30 Km/jam kan bu. Ada baiknya kalau di klakson itu minggir, jangan keukeuh tetep di tengah jalan. Saya kan naik mobil bu, masak iya harus trobos trotoar.
6. Tukang ngalamun. Sebenarnya saya prihatin dengan tipe pengendara yang ini. Karena kadang-kadang suka nempel di bodi mobil saya. Yang tadinya jarak kendaraan kami dua meteran, lama-lama si pengendara ini makin mepet dan jaraknya tinggal kurang dari sejengkal. Baru sadar dari lamunan setelah saya klakson dan menjaga jarak lagi. Duh mas, kalau lagi susah mending di rumah aja. Kasihan loh motor mahalnya kalau nyium mobil saya. Tetanus looooooohhhhh ...
7. Gerombolan si berat. Biasanya tipe ini suka nge-gerombol jika sedang berkendara. Mungkin ngobrol sambil nongkrong sudah nggak trend lagi, jadi mereka milih ngobrol sambil berkendara. Enggak arisan sekalian mas????
8. Hati-hati tapi apes juga. Nah tipe ini memilih untuk fokus berkendara. Tapi sayangnya, meskipun sudah hati-hati dan mentaati semua rambu-rambu di jalan, nasibnya masih tetep apes karena ulah pengendara lain yang ugal-ugalan.
Nah hal yang sama sebetulnya juga terjadi pada pengendara mobil yang kian kemari kian jauh dari norma berkendara. Kenapa? Karena pengendara motor yang beralih status menjadi pengendara mobil belum sanggup meninggalkan "karakternya" sebagai pengendara motor. Ya iyalah beda karakter, kalau motor bodinya kecil, kalo mobil bodinya gedhe. Kamu nggak bisa mengendarai mobil ala motor.
9. Parkir disorder. Ini nih yang paling dibenci. Penyakit parkir yang enggak ilang-ilang, bikin yang lain kagak kebagian parkir. Saya sering batal ke pusat perbelanjaan karena nggak ada tempat parkir. Paling sakit hati jika ada mobil mini yang parkir ngangkang'in marka parkir. Jadi spot parkir yang harusnya untuk tiga mobil, cuma diisi dua mobil gegara si mobil "mainan" ini rakus. Penyakit nggak mau jalan jauh karena parkir kejauhan juga pernah saya alami. Tamu dari tetangga saya yang bikin hajatan memarkir mobilnya yang bisa parkir sendiri persis di depan gerbang. Nggak takut tuh pak kalau kena karat mobil saya??
Intinya adalah jalan raya sudah menjadi salah satu momok dan penyebab hipertensi. Kadang-kadang menjadi pengendara yang baik dan benar belum tentu menyelamatkan jiwa. Tapi setidaknya sudah usaha betul jadi pengendara yang memahami etika berkendara dan berparkir.
Salam buat yang suka ngangka'in marka parkir
Atha Ajo
Sabtu, 07 Desember 2013
Menulis itu ...
"Menertawakan tulisan kita saat awal-awal menulis dulu kala juga merupakan sebuah proses"
Nah setelah sekian bulan tidak mengisi blog ini, akhirnya saya mengisinya lagi. Ada banyak catatan sebenarnya yang ingin saya tumpah ruahkan di blog ini. Duileeeee .. minuman kalee tumpah. Maksud hati ingin update blog saat saya "cuti" di Jogja selama sebulan. Iya cuti sebulan mbabu. Cuma sayangnya di Jogja banyak kegiatan antar jemput kesana kemari yang bikin saya kecapekan akut. Udah nggak bisa buat mikir. Ditambah noh orang-orangnya yang sekarang punya tagline "Lebih Nyaman Naik Kendaraan Pribadi daripada Angkutan Umum". Bikin macet .. dimana-mana bertebaran mobil murah. Jadi bawaannya pengen meluk bantal sama guling dan mengepak-ngepakkan tangan di kasur yang dingin diiringi derai hujan.
Di akhir masa cuti, suami ternyata menyusul ke Jogja. Katanya kepengen senang-senang dan foya-foya. Saya sambut dengan gembira pula. Kebetulan teman suami saya asal Nunukan Kalimantan Timur yang masih muda belia menuntut ilmu di Jogja. Brondong, putih dan ganteng ... waahh saya takjub. Kami ngangkring sejenak bersama dikbro ganteng itu. Usut punya usut, si dikbro kepengen jadi penulis. Dia sempat mengungkapkan bahwa menulis itu syulit. Sulit menuangkan pemikiran dalam tulisan. Sulit memulai darimana .. sulit .. sulit .. sulit.
Bagi saya, menulis itu gampang-gampang susah. Bisa gampang, bisa susah. Tapi jika kamu sedang memulai pengalaman menulismu, jangan pernah berpikir bahwa menulis itu sulit karena kamu pasti tidak akan pernah memulai menulis. Enggak usah muluk-muluk menulis ala Plato atau Sokrates. Juga nggak perlu memikirkan teknik menulis yang mendayu-dayu dulu. Saya sendiri sampai sekarang masih bingung dengan apa itu sastra.
Kalau menurut Robert Scholes, sastra itu sebuah kata bukan sebuah benda. Kalau saya yang penting nulis, merangkai kata yang menurut saya klop. "Nah merangkai kata yang bisa klop itu yang susah," kata seorang kawan. Langsung saja saya sambar "Tapi kamu lulus SMA kan?". Masak iya jaman SMA nggak dikasih pelajaran mengarang indah. Sejelek-jeleknya karanganmu di mata guru, toh itu tulisanmu. Kalau perlu tertawakan sendiri tulisanmu. Masalah sempurna atau tidak, bagi saya itu relatif. Banyak kok tulisan-tulisan yang dianggap tidak sempurna oleh sebagian orang tapi ternyata justru menarik perhatian orang lain.
Apa saja bisa menjadi tulisan. Kalau kata pemred saya dulu yang sudah almarhum, kentutpun bisa menjadi tulisan. Ketik saja apa yang ada di dalam otakmu. Kalau enggak punya laptop ya pakai notes. Kalau enggak punya media penyalur, ya pakai saja Facebook atau Blog. Nah jangan pandang sebelah mata sebuah diary karena itu juga menjadi media penyaluranmu. Gampangnya menulis status di Facebook juga bisa menjadi cikal bakalmu untuk menulis.
Jika otakmu sedang memikirkan "Aku cinta dia", ya tulis saja Aku Cinta Dia. Atau jika kamu sedang ingin menulis cerita dan di otakmu hanya terlintas "Itu adalah Ayahku", ya tulis saja demikian. Atau jika ingin versi yang lebih panjang agar syarat jumlah kata terpenuhi, tulis saja Lelaki yang berdiri di tikungan mengenakan jaket coklat dan membawa sekuntum mawar merah dengan muka merengut itu adalah Ayahku.
Jadi menulislah dengan mudah. Jangan membebani otakmu dengan tulisan-tulisan ala Paulo Coelho. Cukup jadikan itu inspirasimu. Jangan pula berpikir bahwa membuat tulisan itu harus mendayu-dayu. Atau merangkai dengan kata-kata asing yang njlimet yang kamu sendiri malah enggak ngerti arti sebenarnya. Bisa-bisa kamu justru terjerumus dalam bahasa Vickynisasi. Maksud hati kepengen nulis keren, tapi malah salah pengertian. Ini adalah proses kok. Ketika kamu menertawakan tulisanmu sendiri, maka kamu pasti akan tergerak untuk memperbaikinya. Ujung-ujungnya kamu bisa menemukan gaya menulismu sendiri. Enjoy saja .. nah nggak perlu niru gayanya Paulo Coelho kan!!!
Salam,
Diantara dua baris sinyal
Atha Ajo
Nah setelah sekian bulan tidak mengisi blog ini, akhirnya saya mengisinya lagi. Ada banyak catatan sebenarnya yang ingin saya tumpah ruahkan di blog ini. Duileeeee .. minuman kalee tumpah. Maksud hati ingin update blog saat saya "cuti" di Jogja selama sebulan. Iya cuti sebulan mbabu. Cuma sayangnya di Jogja banyak kegiatan antar jemput kesana kemari yang bikin saya kecapekan akut. Udah nggak bisa buat mikir. Ditambah noh orang-orangnya yang sekarang punya tagline "Lebih Nyaman Naik Kendaraan Pribadi daripada Angkutan Umum". Bikin macet .. dimana-mana bertebaran mobil murah. Jadi bawaannya pengen meluk bantal sama guling dan mengepak-ngepakkan tangan di kasur yang dingin diiringi derai hujan.
Di akhir masa cuti, suami ternyata menyusul ke Jogja. Katanya kepengen senang-senang dan foya-foya. Saya sambut dengan gembira pula. Kebetulan teman suami saya asal Nunukan Kalimantan Timur yang masih muda belia menuntut ilmu di Jogja. Brondong, putih dan ganteng ... waahh saya takjub. Kami ngangkring sejenak bersama dikbro ganteng itu. Usut punya usut, si dikbro kepengen jadi penulis. Dia sempat mengungkapkan bahwa menulis itu syulit. Sulit menuangkan pemikiran dalam tulisan. Sulit memulai darimana .. sulit .. sulit .. sulit.
Bagi saya, menulis itu gampang-gampang susah. Bisa gampang, bisa susah. Tapi jika kamu sedang memulai pengalaman menulismu, jangan pernah berpikir bahwa menulis itu sulit karena kamu pasti tidak akan pernah memulai menulis. Enggak usah muluk-muluk menulis ala Plato atau Sokrates. Juga nggak perlu memikirkan teknik menulis yang mendayu-dayu dulu. Saya sendiri sampai sekarang masih bingung dengan apa itu sastra.
Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Yang agak bias adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra. Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. [Wikipedia]
Kalau menurut Robert Scholes, sastra itu sebuah kata bukan sebuah benda. Kalau saya yang penting nulis, merangkai kata yang menurut saya klop. "Nah merangkai kata yang bisa klop itu yang susah," kata seorang kawan. Langsung saja saya sambar "Tapi kamu lulus SMA kan?". Masak iya jaman SMA nggak dikasih pelajaran mengarang indah. Sejelek-jeleknya karanganmu di mata guru, toh itu tulisanmu. Kalau perlu tertawakan sendiri tulisanmu. Masalah sempurna atau tidak, bagi saya itu relatif. Banyak kok tulisan-tulisan yang dianggap tidak sempurna oleh sebagian orang tapi ternyata justru menarik perhatian orang lain.
Apa saja bisa menjadi tulisan. Kalau kata pemred saya dulu yang sudah almarhum, kentutpun bisa menjadi tulisan. Ketik saja apa yang ada di dalam otakmu. Kalau enggak punya laptop ya pakai notes. Kalau enggak punya media penyalur, ya pakai saja Facebook atau Blog. Nah jangan pandang sebelah mata sebuah diary karena itu juga menjadi media penyaluranmu. Gampangnya menulis status di Facebook juga bisa menjadi cikal bakalmu untuk menulis.
Jika otakmu sedang memikirkan "Aku cinta dia", ya tulis saja Aku Cinta Dia. Atau jika kamu sedang ingin menulis cerita dan di otakmu hanya terlintas "Itu adalah Ayahku", ya tulis saja demikian. Atau jika ingin versi yang lebih panjang agar syarat jumlah kata terpenuhi, tulis saja Lelaki yang berdiri di tikungan mengenakan jaket coklat dan membawa sekuntum mawar merah dengan muka merengut itu adalah Ayahku.
Jadi menulislah dengan mudah. Jangan membebani otakmu dengan tulisan-tulisan ala Paulo Coelho. Cukup jadikan itu inspirasimu. Jangan pula berpikir bahwa membuat tulisan itu harus mendayu-dayu. Atau merangkai dengan kata-kata asing yang njlimet yang kamu sendiri malah enggak ngerti arti sebenarnya. Bisa-bisa kamu justru terjerumus dalam bahasa Vickynisasi. Maksud hati kepengen nulis keren, tapi malah salah pengertian. Ini adalah proses kok. Ketika kamu menertawakan tulisanmu sendiri, maka kamu pasti akan tergerak untuk memperbaikinya. Ujung-ujungnya kamu bisa menemukan gaya menulismu sendiri. Enjoy saja .. nah nggak perlu niru gayanya Paulo Coelho kan!!!
Salam,
Diantara dua baris sinyal
Atha Ajo
Langganan:
Postingan (Atom)